Manfaat dan Peluang Melanjutkan Kuliah melalui Jalur RPL di Institut Pariwisata Trisakti
Ansar February 25, 2026 03:18 AM

Oleh: Agus Sunaryo 
General Manager
Four Points by Sheraton Makassar

DALAM pusaran globalisasi yang semakin cepat dan kompetisi industri yang kian ketat, pendidikan formal bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis.

Hal ini terasa nyata di industri pariwisata dan perhotelan, sektor yang hidup dari kualitas layanan, profesionalisme, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan tren global. 

Ironisnya, tidak sedikit praktisi yang telah bertahun-tahun menekuni profesi sebagai manajer hotel, supervisor operasional, wirausaha perjalanan wisata, atau pengelola destinasi, tetapi belum memiliki gelar akademik yang sepadan dengan kompetensinya.

Pengalaman mereka kaya, tetapi legitimasi formal sering kali menjadi penghalang untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam konteks inilah kebijakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menemukan relevansinya.

Program ini membuka ruang bagi pengalaman kerja dan pembelajaran nonformal untuk diakui sebagai bagian dari capaian akademik.

Negara, melalui regulasi pendidikan tinggi, memberikan jalan bagi para profesional untuk tidak memulai dari nol ketika memutuskan kembali ke bangku kuliah. 

Pengalaman yang selama ini ditempa oleh waktu, tekanan kerja, dan dinamika industri, tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang terpisah dari sistem pendidikan, melainkan sebagai modal intelektual yang sah untuk dikonversi menjadi kredit akademik.

Salah satu institusi yang secara konsisten menerapkan jalur ini adalah Institut Pariwisata Trisakti.

Sebagai pelopor pendidikan pariwisata swasta di Indonesia dengan pengalaman lebih dari lima dekade, institusi ini telah lama dikenal sebagai kawah candradimuka lahirnya profesional perhotelan dan pariwisata.

Reputasi tersebut bukan semata dibangun oleh usia, tetapi oleh konsistensi menjaga kualitas dan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.

Program-program studinya telah terakreditasi secara nasional dan sebagian mengantongi sertifikasi internasional seperti UNWTO TedQual Certification, sebuah pengakuan global atas mutu pendidikan pariwisata.

Jejaring kerja samanya pun melampaui batas negara, mencakup institusi pendidikan dan mitra industri di Australia, Tiongkok, Thailand, hingga Malaysia.

Semua ini memperlihatkan bahwa jalur RPL di kampus tersebut bukanlah jalan pintas yang menurunkan standar, melainkan skema akademik yang tetap menjaga mutu seraya menghargai pengalaman profesional.

Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah fleksibilitas sistem pembelajaran.

Di tengah tuntutan kerja yang padat, para profesional membutuhkan pola kuliah yang adaptif.

Perpaduan pembelajaran daring dan tatap muka memungkinkan mahasiswa tetap produktif di tempat kerja tanpa mengorbankan kualitas studi.

Model ini mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan usia sekolah; ia harus lentur, kontekstual, dan menghormati ritme kehidupan peserta didik.

Lebih jauh, melanjutkan studi melalui jalur RPL memiliki makna strategis bagi karier.

Di industri perhotelan modern, terutama yang terhubung dengan jaringan internasional, gelar akademik sering menjadi prasyarat administratif untuk menduduki posisi manajerial atau eksekutif. 

Kompetensi teknis saja tidak lagi cukup. Dunia usaha membutuhkan pemimpin yang tidak hanya terampil secara operasional, tetapi juga memiliki landasan teoretis, kemampuan analitis, serta wawasan manajerial yang sistematis.

Gelar akademik menjadi simbol bahwa seseorang telah melewati proses pembelajaran yang terstruktur dan terukur.

Pengakuan formal atas pengalaman kerja juga berdampak pada peningkatan rasa percaya diri profesional. Apa yang selama ini diperoleh melalui kerja keras diakui secara institusional.

Kredibilitas meningkat, baik di mata perusahaan, mitra bisnis, maupun jejaring internasional.

Tak jarang, hal ini berujung pada peluang promosi, perluasan tanggung jawab, bahkan peningkatan kesejahteraan.

Namun, manfaat RPL tidak berhenti pada level individu.

Dalam skala yang lebih luas, program ini berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional.

Industri pariwisata Indonesia yang terus berkembang memerlukan tenaga profesional yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga terdidik secara akademik. 

Ketika pengalaman lapangan dipadukan dengan penguatan teori dan riset, lahirlah praktisi yang mampu berpikir strategis serta inovatif.

Di tengah persaingan destinasi regional dan global, kualitas SDM menjadi faktor penentu daya saing bangsa.

Pada akhirnya, keputusan untuk kembali kuliah melalui jalur RPL adalah keputusan untuk memuliakan pengalaman.

Ia bukan sekadar upaya mengejar gelar, melainkan langkah untuk menyelaraskan praktik dengan teori, keterampilan dengan legitimasi, serta ambisi pribadi dengan standar profesional global. 

Melalui komitmen institusi seperti Institut Pariwisata Trisakti, jalur ini menghadirkan harapan bahwa pendidikan tinggi dapat lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan dinamika dunia kerja.

Dalam perspektif tersebut, RPL bukan hanya kebijakan administratif, melainkan jembatan yang menghubungkan pengalaman hidup dengan pengakuan akademik—sebuah investasi jangka panjang bagi individu maupun masa depan industri pariwisata Indonesia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.