TRIBUN-TIMUR.COM – Sulawesi Selatan kembali menegaskan diri sebagai tanah kelahiran figur-figur tangguh di panggung nasional.
Dari wilayah timur Indonesia ini, dua perempuan berhasil menembus batas tradisi militer dan menorehkan sejarah sebagai jenderal di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mereka adalah Brigjen TNI Faridah Faisal dan Laksamana Muda (Purn) Christina Maria Rantetana.
Berbeda matra, berbeda generasi, namun sama-sama berprestasi dan menjadi pelopor.
Faridah Faisal, Perempuan Pertama Pimpin Pengadilan Militer Utama
Nama Brigjen TNI Faridah Faisal kini menjadi sorotan setelah resmi menjabat Kepala Pengadilan Militer Utama (Kadilmiltama) ke-11 pada 9 Februari 2026.
Ia mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin lembaga peradilan militer tertinggi di Indonesia.
Lahir di Makassar, 23 Juni 1968, Faridah menghabiskan masa kecil dan remajanya di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas di Kota Lulo sebelum kembali ke Makassar untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Ia meraih gelar Sarjana Hukum pada 1991, lalu melanjutkan Magister Hukum pada 2011 di kampus yang sama.
Bekal akademik itu menjadi fondasi kuat dalam karier militernya.
Selepas kuliah, Faridah mengikuti Sepamilwa 1992 dari Korps Hukum (Chk).
Sejak itu, kariernya bergulir panjang di lingkungan peradilan militer.
Ia pernah menjabat di Kumdam VII/Wirabuana, menjadi Kadilmil II-11 Yogyakarta, Kadilmil III-16 Makassar, hingga Kadilmilti III Surabaya dan Kadilmilti II Jakarta.
Ia juga dipercaya menjadi Anggota Pokkimiltama Mahkamah Agung sebelum akhirnya dilantik sebagai Kadilmiltama.
Sebagai Kadilmiltama, ia mengawasi jalannya seluruh pengadilan militer di Indonesia, mulai dari Dilmil, Dilmilti hingga pengadilan militer pertempuran.
Tak sedikit perkara besar pernah ia tangani.
Di antaranya kasus pembunuhan berencana Kolonel Inf Priyanto pada 2021 serta perkara Tragedi Cebongan yang sempat menjadi perhatian nasional.
Kiprah Faridah mencerminkan konsistensi dan ketegasan perempuan dalam menegakkan hukum di lingkungan militer yang sarat disiplin dan hierarki.
Christina Maria Rantetana, Jenderal Perempuan Pertama di TNI AL dan ASEAN
Sebelum Faridah mencetak sejarah di ranah peradilan militer, Sulsel telah lebih dahulu melahirkan sosok pelopor di matra laut.
Christina Maria Rantetana lahir di Makale, Tana Toraja, 24 Juli 1955.
Ia bergabung dengan TNI pada 1979 melalui jalur sekolah perwira sukarela dan menjadi bagian dari Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal).
Namanya mencatat sejarah sebagai perempuan pertama di TNI Angkatan Laut yang meraih pangkat bintang.
Pada 1 November 2002, ia dipromosikan menjadi Laksamana Pertama (bintang satu), menjadikannya perwira tinggi perempuan pertama di TNI AL sekaligus pertama di kawasan ASEAN.
ASEAN adalah singkatan dari Association of Southeast Asian Nations atau dalam bahasa Indonesia disebut Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.
Association of Southeast Asian Nations merupakan organisasi kerja sama regional yang dibentuk pada 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand.
Negara Anggota ASEAN; Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.
Indonesia sendiri menjadi salah satu negara pendiri ASEAN bersama Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.
Selain itu, Christina juga menjadi perempuan pertama dari TNI AL mengikuti pendidikan Royal Australian Naval Staff Course di Sydney.
Ia juga anggota Kowal pertama yang menempuh pendidikan strata dua di Tulane University, Amerika Serikat.
Kariernya meluas hingga ke ranah politik dan pemerintahan.
Ia pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi TNI/Polri selama dua periode (1997-1999 dan 1999-2004), bahkan menjabat sebagai sekretaris fraksi.
Ia juga dipercaya menjadi Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi.
Christina dikenal sebagai figur yang mendorong perluasan peran perempuan di militer.
Ia berpendapat bahwa Kowal tak seharusnya hanya ditempatkan di bidang administratif atau protokoler, tetapi juga diberi kesempatan bertugas di kapal perang dan satuan elite TNI AL.
Ia wafat pada usia 61 tahun dan dimakamkan secara militer di Tana Toraja, meninggalkan jejak inspiratif bagi generasi perempuan Indonesia.
Putri Toraja dan Makassar ke Panggung Nasional
Dua nama ini menunjukkan bahwa perempuan dari Sulawesi Selatan mampu berdiri sejajar dalam institusi yang identik dengan ketegasan, disiplin, dan dominasi laki-laki.
Christina Rantetana membuka jalan sebagai jenderal perempuan pertama di TNI AL dan bahkan di ASEAN.
Brigjen Faridah Faisal melanjutkan estafet itu di bidang peradilan militer tertinggi.
Jejak keduanya bukan sekadar soal pangkat bintang di pundak, melainkan tentang keberanian menembus batas, konsistensi dalam pendidikan, dan integritas dalam pengabdian.
Dari pesisir laut hingga ruang sidang militer, dari Toraja hingga Makassar, keduanya menjadi simbol bahwa dedikasi dan kompetensi dapat membawa perempuan Indonesia ke puncak tertinggi karier militer. (*)