Quo Vadis Kaum Intelektual Banua
Hari Widodo February 25, 2026 05:43 AM

Muhammad Ikhsan Alhak Kepala Dispersip Kota Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- LEBIH dari lima bulan sejak wafatnya Dr. Mohammad Effendy, SH, MH pada 2 September 2025, ruang diskusi di Banjarmasin masih menyimpan gema pikirannya.

Minggu sore (15/2/2026) di Rumah Alam Sungai Andai, Forum Ambin Demokrasi dan LK3 Banjarmasin mempertemukan dosen, peneliti, aktivis, jurnalis, dan mahasiswa. Kami tak sekadar mengenang, melainkan membaca arah.

Diskusi itu jauh dari seremoni. Ia menjadi cermin ruang publik kita. Dari sana muncul pertanyaan yang melampaui garis nostalgia: ke mana arah kaum intelektual Banua hari ini?

Selama puluhan tahun, almarhum dikenal bukan hanya sebagai pengajar hukum tata negara, tetapi ia juga tercatat sebagai salah satu penggerak percakapan publik.

Ketika ruang formal terasa sempit, beliau membuka dialog di luar kampus. Pengetahuan baginya bukan sekadar materi kuliah, melainkan alat menjernihkan kebijakan dan menguji kuasa.

Dalam diskusi itu, konsep “intelektual organik” kembali mengemuka. Antonio Gramsci (1971) membedakan intelektual tradisional yang menjaga jarak dan intelektual organik yang hadir dalam dinamika sosial.

Intelektual organik bukan agitator, melainkan penjaga kesadaran kolektif—setia pada metodologi, akrab dengan realitas.

Kita hidup di era ketika otoritas keilmuan kerap disetarakan dengan opini sepintas. Tom Nichols (2017) menyebutnya “matinya kepakaran”, seiring publik makin meragukan otoritas ilmiah.

Di ruang digital, semua bisa berbicara; yang paling cepat sering dipercaya lebih dulu daripada yang paling cermat.

Dalam lanskap ini, hegemoni tak lagi hanya dibentuk negara atau kelas dominan, melainkan algoritma. Arus informasi tak sepenuhnya kita pilih; ia justru dipilihkan. Pola konsumsi pengetahuan dibentuk sistem tanpa wajah yang menentukan apa yang terlihat dan apa yang tereliminasi.

Di titik inilah posisi intelektual perlu dibaca ulang. Jika dulu perdebatan berkisar pada tradisional dan organik, kini muncul medan baru: “intelektual algoritmik”.

Istilah ini bukan memuliakan teknologi, melainkan mengakui perubahan arena pertarungan gagasan. Intelektual algoritmik memahami cara informasi bekerja—bagaimana opini digerakkan, emosi dipicu, persepsi dibentuk.

 Ia bukan buzzer, dan tidak sekadar influencer. Ia tetap berpijak pada metodologi dan etika, sadar bahwa gagasan tanpa strategi distribusi akan cepat tenggelam.

Ia bukan sekadar akademisi yang aktif di media sosial. Ia tahu kebenaran perlu jalan agar sampai. Ia mampu memadatkan gagasan tanpa mengencerkan isi, menjaga akurasi sambil menata ritme sesuai kebiasaan baca publik.

Namun strategi selalu menggoda. Karena itu, ia mesti memegang batas etis: tak memelihara kemarahan sebagai bahan bakar, tak memanipulasi emosi, tak menjadikan klik sebagai ukuran kebenaran.

Ia mempelajari mesin agar tak menjadi bagian darinya. Ia memahami logika sebaran—judul, konteks, waktu unggah—namun menolak jalan pintas yang mengorbankan ketelitian.

Contoh nasional mudah dikenali: polarisasi menjelang pemilu, hoaks kebijakan, perdebatan hukum yang tereduksi menjadi potongan video. Narasi sensasional melaju lebih cepat daripada analisis telaten.

Di daerah, gejala serupa terasa. Isu tata kelola, manajemen pemerintah lokal, konflik sumber daya, atau kebijakan lingkungan sering dipahami lewat framing media sosial, bukan substansi. Jika intelektual absen, ruang itu diisi simplifikasi— rapi di layar, tapi rapuh di kenyataan.

Namun Banua memiliki kanal komunikasi yang kerap luput dibaca sebagai media. Di banyak sudut kota dan kampung, tradisi mawarung kopi selepas subuh masih hidup. Habis salat, orang duduk, bertukar kabar, menimbang isu juga menguji cerita.

Informasi tak hanya disebar, tetapi ditanya balik. Isu dari gawai diuji di meja kopi. Obrolan warung berpindah menjadi pesan berantai.

Warung kopi, dalam arti tertentu, adalah algoritma sosial manual. Ia mengurutkan isu yang dianggap penting, menyaring yang layak dipercaya, menunda yang meragukan.

Kurasinya terjadi lewat tatap muka dan reputasi sosial. Ketika interaksi digital datang, ia tak jatuh di ruang hampa; ia bertemu nalar komunitas yang telah  terbentuk. meski tak selalu bebas bias.

Di sinilah jembatan lokal digital ditegakkan. Tradisi mawarung kopi menjadi ruang penjernihan yang melengkapi ruang digital.

Sebaliknya, ruang digital memperluas percakapan warga bila diisi etika yang sama: bertanya sebelum menyebar, menimbang sebelum menghakimi.

Namun hadir di dua ruang itu saja tak cukup. Tantangan yang lebih sunyi adalah nihilisme—pandangan bahwa kebenaran relatif dan integritas dianggap naif. Saat rujukan memudar, yang tersisa hanya kebisingan.

Karena itu, “quo vadis” bukan retorika, melainkan panggilan menentukan posisi.

Banua tak kekurangan orang cerdas. Kampus melahirkan sarjana setiap tahun. Komunitas diskusi tumbuh.

Tetapi kecerdasan tanpa keberanian hanya menjadi arsip. Pengetahuan tanpa tanggung jawab sosial berhenti sebagai catatan kaki.

Tugas intelektual masa kini setidaknya 3 (tiga): menjaga disiplin metodologis, membangun literasi publik dengan bahasa jernih, dan memahami ekologi informasi digital tanpa kehilangan etika. Di tengah arus disinformasi, verifikasi tetap garis pertahanan.

Dalam diskusi sore itu terasa bukan hanya kenangan, melainkan kegelisahan. Ruang publik kian riuh, sementara suara nalar sering tersisih. Namun kegelisahan dapat menjadi energi.

Kemana Arah Kaum Intelektual Banua?

Bukan kembali pada romantisme, bukan pula sekadar bertanding teori. Arah itu terletak pada keberanian menempatkan diri secara sadar.

Berpijak pada metodologi yang kokoh, berpihak pada kepentingan publik, dan membaca dinamika zaman tanpa kehilangan integritas. Intelektual organik tetap dibutuhkan, tapi ia pun mesti cakap algoritmik.

Jika intelektual memilih diam, ruang tak akan kosong. Ia diisi suara paling keras dan bukan yang paling benar.

Sebaliknya bila mereka hadir di kampus, komunitas, ruang digital, juga misalnya di meja warung kopi selepas subuh, pengetahuan tetap memiliki daya arah.

Diskusi di Sungai Andai sudah usai. Gerimis reda. Namun pertanyaan itu tinggal sebagai suluh batin: apakah kita akan menjadi penonton perubahan, atau kesadaran yang mengarahkannya?.

Di situlah makna terdalam perjalanan intelektual. Bukan sekadar profesi, melainkan sikap moral. Dari sikap itulah intelektual Banua menjaga kompasnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.