Warga Perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse Keluhkan Kelangkaan Stok Beras di Bulan Ramadhan 
Apolonia Matilde February 25, 2026 06:38 AM

 

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 


POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Warga Perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse, tepatnya di Desa Batnes, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mengeluhkan kelangkaan stok beras di Bulan Ramadhan.

Selain kelangkaan dua bahan pokok ini, masyarakat juga mengaku kesulitan membeli bahan pokok jenis lain lantaran harganya yang melambung tinggi.

Seorang warga Desa Batnes, Yosep Suni mengatakan, sejak Bulan Januari hingga Februari ini, harga beras terus mengalami kenaikan signifikan.

Pada Bulan Januari 2026 lalu, harga Beras Merk Ambon dengan ukuran 40 kilogram dijual dengan harga

Rp 540.000 per karung. Harga ini kemudian meningkat pada akhir Bulan Januari 2026 menjadi Rp 550.000 per karung.

"Awal Bulan Februari naik lagi menjadi Rp 555.000 per karung," ucapnya, Selasa, 24 Februari 2026.

Memasuki Bulan Puasa jelang akhir Bulan Februari 2026, harga beras merk Ambon ini tembus Rp. 575.000 per karung. Pihaknya kesulitan memperoleh beras merk lain.

Pasalnya, hanya merk Ambon yang beredar di tangan distributor. Sementara beras merk lain mengalami kelangkaan. Bahkan, beras merk lain tidak ada di tangan distributor.

"Dan itu pun tidak ada merk lain, hanya ada satu merk beras saja yakni beras merk Ambon," ungkapnya.

Ia menerangkan, kelangkaan stok beras ini menyebabkan sejumlah pedagang menjual beras eceran dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Kenaikan harga ini menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan membeli beras.

Jika didistribusikan ke desa khususnya yang jauh di wilayah perbatasan, perkiraan harga beras ber kilogram bisa mencapai Rp 16.000 sampai Rp 17.000.

Yosep berharap, Dinas Perindustrian dan Perdaganga Kabupaten TTU bisa melakukan sidak dan pemantauan di lapangan maupun di gudang-gudang distributor untuk memastikan kelangkaan stok beras ini.

Pasalnya, kelangkaan stok beras ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat khususnya masyarakat yang bermukim di wilayah perbatasan.

"Mungkin bisa cek langsung apa kendalanya sehingga, kalau bisa peredaran beras dan harganya ini bisa pulih kembali dan kalau bisa dijangkau oleh masyarakat," pungkasnya. (bbr)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.