Usai Kencan dengan Pasangan Sesama Jenis, SR Diperas, Aktivitasnya di Kamar Hotel Diam-diam Direkam
Murhan February 25, 2026 08:44 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Aksi pemerasan dialami SR (21), seorang pria di Kota Bengkulu usai kencan dengan pasangan sesama jenis.

Rupanya, aktivitas SR bersama prianya di hotel diam-diam direkam untuk jadi alat pemerasan.

Dia menjadi korban pemerasan oleh tiga orang lelaki usai memesan teman kencan sesama jenis melalui sebuah aplikasi pada Minggu (22/2/2026). 

Korban dijebak di sebuah kamar hotel hingga rekaman aktivitasnya dijadikan alat untuk memeras.

Kronologi perkara bermula saat SR berkomunikasi dengan teman kencan sesama jenisnya lewat aplikasi tersebut. 

Percakapan mereka berlanjut hingga pelaku mengajak korban bertemu di sebuah hotel di kawasan Jalan Kapten Tandean, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.

Baca juga: Gegara Tak Mau Serahkan Mobil, Pengacara Dianiaya Debt Collector, Alami 3 Luka Tusuk

Setibanya di lokasi, korban diajak masuk ke kamar hotel. 

Di sanalah pelaku diduga sengaja merekam aktivitas korban untuk dijadikan bahan ancaman dan pemerasan.

Terbongkar dari Laporan Keributan

Aksi para pelaku terbongkar setelah sempat terjadi keributan antara korban dan pelaku di lokasi kejadian. 

Sekitar pukul 22.15 WIB, layanan 110 Polresta Bengkulu menerima laporan adanya keributan di salah satu hotel di Jalan Natadirja, Kelurahan Jalan Gedang.

Personel piket bersama tim Opsnal Polsek Gading Cempaka langsung bergerak menuju lokasi dan mengamankan pihak-pihak yang terlibat untuk dimintai keterangan di Mapolsek.

Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi mengamankan tiga orang pelaku yang diduga kuat terlibat dalam tindak pidana perampasan dan pemerasan, yakni RA (18), ID (24), dan RF (24). 

Ketiganya merupakan warga Kota Bengkulu.

Kapolsek Gading Cempaka, AKP Saman Saputra, membenarkan pengungkapan kasus tersebut. 

Ia menyebutkan bahwa ketiga pelaku kini telah diserahkan ke Tim Jatanras Polda Bengkulu untuk proses hukum lebih lanjut.

“Benar, kami bersama tim Jatanras melakukan pengamanan. Untuk penanganannya di Ditreskrimum Polda Bengkulu,” ujar Saman Saputra saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).

Saat ini, penyidik Ditreskrimum Polda Bengkulu masih mendalami peran masing-masing pelaku. Polisi juga menyelidiki kemungkinan adanya korban lain yang terjebak dalam modus serupa oleh komplotan ini.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada saat melakukan pertemuan dengan orang yang baru dikenal melalui aplikasi kencan guna menghindari aksi kriminalitas yang terencana.

Homoseksual Bukan Kelainan Jiwa? Ini Penjelasan Psikolog

Homoseksual seringkali dianggap sebagai sebuah kelainan di tengah masyarakat.

Namun dari pandangan psikologi, homoseksual bukan kelainan atau gangguan kejiwaan.

Pada tahun 1973, asosiasi psikiater yang tergabung dalam American Psychiatric Association (APA) menghapus diagnosis homoseksualitas sebagai gangguan jiwa dari acuan diagnosis ahli kesehatan jiwa atau Diagnostic and Statistical Manual (DSM) edisi II.

Di Indonesia, menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) juga tidak menganggap orientasi seksual termasuk homoseksual ke dalam kelainan atau gangguan jiwa.

Lantas, bagaimana penjelasan lengkapnya mengenai homoseksual bukan kelainan?

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ menjelaskan, ada alasan ilmiah kenapa para ahli sepakat mencoret homoseksual sebagai kelainan atau gangguan jiwa.

Homoseksual tidak memenuhi syarat kelainan

Menurut Dharmawan, syarat suatu fenomena dianggap sebagai kelainan atau gangguan jiwa ditandai dengan adanya penderitaan (distress) dan ketidakmampuan (disability).

“Orientasi seksual termasuk homoseksual bukan gangguan kepribadian atau mental. Gangguan psikologis dan perilaku itu syaratnya mesti ada distress dan disability,” kata dia, saat diwawancarai Kompas.com, Senin (6/9/2021).

Homoseksual dipengaruhi hipotalamus

Seorang yang menjadi homoseksual dapat dipengaruhi oleh perkembangan bagian otak bernama hipotalamus sejak dalam kandungan.

“Penyebabnya bisa berasal dari perkembangan di hipotalamus. Jadi, di hipotalamus itu ada bagian yang mengatur seksual, termasuk orientasi seksual,” jelas dia.

Selain itu, saat masih dalam kandungan kondisi hormon pada janin juga turut mempengaruhi orientasi seksual.

“Ada yang namanya fase kritis di tiga bulan pertama pertumbuhan janin. Kalau ada sesuatu pada hormon testosteron, pembentukan seksual dapat terpengaruh, sehingga pembentukan pusat seksual akan berbeda dengan umumnya,” ujarnya.

Homoseksual disebut gangguan jika..

Homoseksual bisa jadi disebut gangguan kesehatan mental, apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan orientasi seksualnya.

Dalam dunia kesehatan mental, kondisi ini disebut dengan homoseksual egodistonik.

Pada kondisi ini, adanya konflik batin yang kerap menyebabkan kegelisahan, stres hingga gangguan kecemasan.

Namun, melainan homoseksual egodistonik dapat disembuhkan melalui terapi oleh ahli kesehatan jiwa.

Dalam praktiknya, Dharmawan menggunakan pendekatan logoterapi atau terapi mencari makna hidup.

“Kalau sama pasien saya, saya suka lakukan logoterapi, terapi mencari makna hidup,” ungkap Dharmawan.

Meskipun dianggap abnormal, Dharmawan menekankan bahwa homoseksual bukanlah suatu kelainan.

“Sesuatu yang dianggap abnormal belum tentu penyakit, belum tentu kelainan,” kata dia.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.