SURYA.co.id, NGANJUK - Keluarga dan sahabat HMZ (17), asal Dusun Satak, Desa Ngepung, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, sempat mencurigai hal tak biasa sebelum ia ditemukan tewas diduga dibunuh.
Mulai dari sikap enggan diantar pulang saat motornya rusak hingga kiriman foto bersama seorang pria
HMZ adalah korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan di aliran Sungai Jilu Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Selasa (17/2/2026).
Paman korban, Wahyu Sayuti mengatakan saat di Malang, HMZ sempat curhat jika motornya bermasalah kepada sang ayah, Santoso (49) lewat aplikasi pesan singkat.
Santoso pun meminta bantuan kepada saudara yang ada di Malang untuk mengantar pulang ke Nganjuk.
"Tetapi HMZ menolaknya. Dia kukuh pulang diantar seorang pria naik motornya," jelas Sayuti -sapaannya kepada SURYA.co.id, Senin (23/2/2026).
Ia menyebut, keluarga merasa janggal dengan sikap HMZ.
Tak biasanya HMZ seperti itu. Apalagi, HMZ dikenal sebagai anak yang penurut.
"Dari situ pihak keluarga curiga. Kami tak tahu pria yang dimaksud HMZ," terangnya.
Sahabat korban di sekolah, SD (17) bercerita Rabu (11/2/2026) HMZ masih masuk sekolah.
HMZ tercatat sebagai siswi SMKN PGRI 2 Kertosono. Dia duduk di bangku kelas 2 Jurusan Pemasaran.
Baca juga: Duka Ayah Remaja Nganjuk yang Dibunuh di Malang : Biasanya Kami Berkumpul Bersama
"Kamis (12/2/2026), HMZ tak masuk sekolah. Saya menerima pesan WhatsApp dari HMZ. Dia bilangnya lagi di Malang. Dia ngaku kesasar dari Kediri tembus Malang," terangnya.
Kata-kata dalam pesan itu penuh tanda tanya.
Terlintas di benak SD, dengan siapa HMZ melanglang ke Malang.
"Awalnya, dia tidak bilang sedang sama cowok ke Malang. Tak lama, dia kirim foto lagi berkendara. Posisinya dibonceng. Yang menyetir motor seorang cowok. Dia tak pernah bercerita soal cowok. Dan kami tak tahu cowok itu," urainya.
Ayah HMZ, Santoso (49) mengatakan anak bungsunya itu selalu bersikap ramah di hadapan orang. Ia tak segan bertegur sapa dengan siapa pun.
Selain itu, HMZ adalah anak yang penurut, jujur, dan tekun belajar.
"Apa yang dikatakan HMZ selalu ditepati. Dia anak yang baik," katanya, kepada SURYA.co.id, Senin (23/2/2026).
HMZ tercatat sebagai siswi SMKN PGRI 2 Kertosono. Dia duduk di bangku kelas 2 jurusan pemasaran.
Guru dan teman setingkat begitu mengenal HMZ.
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMKN PGRI 2 Kertosono, Khaffidz Miftakhul Mukhlis menyatakan HMZ suka bergaul di sekolah.
HMZ juga terbilang siswi yang ceria hingga kehadirannya membawa energi positif.
"Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, almarhumah aktif bertanya. Motivasi belajarnya tinggi. Almarhumah siswi yang cerdas," jelasnya.
Sahabat korban, SD (17) membeberkan bila HMZ suka memberikan pertolongan kepada teman-temannya yang mengalami kesusahan.
Tak cuma itu, tingkah random HMZ kerap mengundang gelak tawa.
"Kami tak akan pernah lupa kebaikan yang dilakukan HMZ. Termasuk momen kami nongkrong dan bercanda bersama. Kami kehilangan," ucapnya seraya menyeka air mata.
Seorang pencari kayu, Sukari menemukan sosok jasad perempuan di aliran Sungai Jilu Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Selasa (17/2/2026) silam.
Jasad korban yang ditemukan dalam kondisi tanpa busana, tangan terikat dan mulut tersumpal kain.
Jasad itu diketahui seorang perempuan berinisial HMZ warga Dusun Satak, Desa Ngepung, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk. Usianya masih belia, 17 tahun.
HMZ diduga jadi korban pembunuhan.
Polisi mengamankan pelaku, YD Sabtu (21/2/2025).
Kala itu, YD sedang bersembunyi di rumah kosnya yang ada di wilayah Kota Malang.
Pemeriksaan terhadap YD masih terus dilakukan guna mengungkap motif, peran, dan rangkaian peristiwa tragis ini.