TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Setiap momen Ramadan tiba, warga Tarakan selalu berburu tempat nyaman untuk ngabuburit, sekaligus berbuka puasa bersama keluarga, sahabat, hingga pasangan.
Jika Anda masih bingung menentukan lokasi, satu nama ini belakangan kerap jadi perbincangan, yakni Thopoles.
Thopoles merupakan sebuah kafe yang mengusung konsep outdoor, dengan pemandangan sunset yang indah ketika cuaca lagi bersahabat.
Thopoles ini berada di kawasan Jembatan Besi, letaknya berada di RT 18 masuk dalam kawasan Kelurahan Lingkas Ujung.
Mengusung konsep kafe di atas laut dengan panorama matahari terbenam yang memanjakan mata, Thopoles bukan sekadar tempat makan.
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Ramadan 2026 di Tarakan Kalimantan Utara Hari Ini
Ia menjelma menjadi destinasi berburu sunset, yang menghadirkan suasana syahdu khas pesisir Kota Tarakan.
Rini dan Bariana, adalah owner dan pengelola Kafe Thopoles, menceritakan bahwa tempat ini sebenarnya tidak langsung berdiri megah seperti sekarang.
“Awalnya dulu bukan kafe sebesar ini.
Cuma warung makan biasa untuk anak-anak sepit (speed boat) yang sandar di sini.
Kalau mereka pulang atau makan siang, makannya di sini,” ujar Rini.
Thopoles mulai dirintis pada 2019, sebelum pandemi Covid-19.
Saat itu bangunannya masih kecil dan hanya berada di bagian belakang.
Pengunjungnya pun kebanyakan warga sekitar Jembatan Besi, tetangga, hingga keluarga dekat.
Namun semuanya berubah ketika banyak orang luar datang, karena terpikat pemandangan laut dan sunset yang terlihat jelas saat cuaca cerah.
“Orang-orang bilang, kenapa nggak dibuat kafe saja?
Akhirnya owner kepikiran bikin kafe pelan-pelan.
Awalnya kecil, lalu bertahap berkembang ke samping, tambah ke sini, sampai jadi seperti sekarang,” jelasnya.
Konsep kafe benar-benar mulai diusung sekitar 2022.
Kemudian pada 2024, momen viral sunset Thopoles di media sosial membuat namanya melejit.
Sejak itu, pengunjung mulai berdatangan dan reservasi pun kerap penuh, terutama saat Ramadan dan akhir pekan.
Pada momentum Ramadan 1447 H atau Ramadan 2026 tahun ini, Thopoles mengusung konsep prasmanan untuk memudahkan pengunjung.
“Kalau sudah mau buka puasa, orang biasanya nggak sabar.
Kalau pakai sistem pesan tunggu makanan datang, lama.
Jadi kita ubah konsep jadi prasmanan.
Datang langsung ambil, bayar bisa langsung, bisa selesai makan.
Lebih praktis,” terang Rini.
Menu yang disajikan didominasi makanan rumahan dengan harga terjangkau.
Untuk menu, masing-masing dibanderop rerata Rp5K.
Ada juga Rp7K.
Karena konsepnya prasmanan.
Pengunjung bebas memilih 26 menu yang disajikan.
Jika ditotal bisa sampai Rp 30 ribuan yang harus dirogoh pengunjung, untuk beberapa pilihan menu makanan prasmanan.
Meski berada di atas laut, harga makanan di Thopoles tetap ramah di kantong.
“Kalau kepiting tergantung stok pasar dan ukuran.
Tapi yang jelas kita tetap usahakan affordable,” katanya.
Menariknya, meski dikenal sebagai kafe seafood, menu ayam justru menjadi best seller, karena paling banyak dipesan pengunjung.
Daya tarik utama Thopoles tentu saja pemandangan laut dan sunset.
Banyak pengunjung sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan spot terbaik.
“Biasanya orang berburu sunset.
Kalau cuaca bagus, cantik banget.
Jadi spot foto-foto juga,” ujar Rini.
Area lesehan menjadi favorit.
Dari total kapasitas sekitar 100 orang di area lesehan, hampir setiap hari menjelang pertengahan Ramadan mulai penuh oleh reservasi.
“Kalau bagian lesehan sering full duluan.
Orang lebih suka duduk santai sambil ngobrol,” katanya.
Selain lesehan, tersedia sekitar 10 meja di bagian atas.
Satu meja bisa diisi empat orang, tergantung kebutuhan reservasi.
Menariknya, pengunjung tak hanya berasal dari Tarakan.
Beberapa tamu datang dari Bulungan hingga Malinau setelah mengetahui Thopoles dari media sosial.
Akses menuju lokasi memang sedikit tersembunyi.
Pengunjung masuk melalui gang kecil dekat kawasan Jembatan Besi, dan lebih mudah dijangkau menggunakan sepeda motor.
Bahkan ada yang rela berjalan kaki sekitar lima menit, demi menikmati suasana laut dan angin senja.
Tak hanya untuk berbuka puasa, Thopoles juga kerap dijadikan lokasi perayaan ulang tahun hingga momen spesial seperti lamaran.
“Kalau bawa pasangan buat lamaran juga bisa di sini.
Ulang tahun juga bisa reservasi,” ujarnya.
Saat akhir pekan, muda-mudi hingga keluarga ramai memadati kafe demi menikmati suasana romantis pinggir laut.
Perpaduan dinding bernuansa hijau yang asri dan hamparan laut terbuka, menjadikan tempat ini terasa berbeda dari kafe lain di Tarakan.
“Konsepnya memang ingin beda.
Jarang kan kafe di atas laut seperti ini,” tambahnya.
Bagi Anda yang ingin mencari tempat ngabuburit dengan nuansa berbeda, menikmati senja sambil menyeruput minuman segar dan menyantap hidangan hangat, Kafe Thopoles di Jembatan Besi bisa jadi pilihan.
Datang lebih awal atau lakukan reservasi agar tidak kehabisan spot favorit.
Karena begitu Azan Magrib berkumandang, bukan hanya makanan yang jadi incaran, tapi juga momen kebersamaan yang tak terlupakan di tepi laut Tarakan.
Bariana turut menambahkan, asal muasal nama Thopolese sebenarnya dari satu perhimpunan.
Yakni perhimpunan dari warga Suppa.
Suppa sendiri adalah salah satu kecamatan yang ada di Pinrang, Sulawesi Selatan.
"Jadi Thopolese singkatannya.
Sebenarnya dari bahasa Bugis, tau pole Sulawesi.
Artinya orang dari Sulawesi.
Jadilah perhimpunan.
Dan inisiatif kami di keluarga namakan kafenya Thopoles," ungkap Bariana, owner kafe.
Karena menyajikan prasmanan, kata Bariana, tentu saja menjadi risiko jika menu tak habis.
Namun selama ini makanan disajikan hampir setiap hari habis.
Jika ada tersisa dibagikan ke pekerja, keluarga dan lainnya.
Untuk rate harga dari 26 menu yang ada seperti ikan bakar katombong per ekor Rp15 ribu, telor balado Rp6 ribu.
Pentol mercon 4 biji Rp10 ribu, paru cina Rp15 ribu, tumis udang Rp10ribu, dan berbagai menu lainnya di rate harga Rp5 ribuan per piring kecil.
Begitu juga es buah jadul, es buah teler dan es buah cincau rata Rp10 ribu.
"Pengunjung ambil sendiri.
Pilih sendiri menunya.
Nanti dihitung di kasir.
Gratis sambel.
Kami memang sengaja siapkan harga ramah di kantong supaya menyasar semua kalangan.
Dan makanannya disediakan adalah khas makanan rumahan," paparnya.
Konsep prasmanan ini akan disiapkan lagi meski tak lagi Ramadan ke depannya.
Aku Bariana, hari pertama puasa memang tak begitu ramai pengunjung, karena rerata masih rajin memasak di rumah.
Biasanya melihat pengalaman tahun lalu, nanti ramai memasuki pekan kedua puasa Ramadan.
"Jadi harus reservasi dulu," ungkapnya.
Salah seorang pengunjung, sebut saja Indra, yang kesehariannya sebagai dosen Perikanan di UBT tak luput dari media ikut diwawancarai saat sedang menikmati detik-detik menuju sunset.
Kata Indra, ia sengaja memilih kafe ini karena mengejar pemandangan sunset-nya.
"Sayangnya tadi sunset tidak kelihatan, terhalang awan karena cuaca.
Kalau cerah pasti kelihatan karena saya beberapa kali ke sini.
Bukan cuma bukber, tapi buat sekadar nongkrong sama teman dan keluarga," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah