Lipsus : Gas Elpiji 12 Kg Langka di Kota Kupang, Harga 12 Kg Tembus Rp 350 Ribu
OMDSMY Novemy Leo February 25, 2026 12:19 PM

 

POS-KUPANG,COM, KUPANG – Sejumlah pedagang mengeluhkan terjadinya kelangkaan elpiji di Kota Kupang selama tiga pekan terakhir. Kelangkaan tersebut memicu melonjaknya harga elpiji ukuran 12 kilogram.

Mas Nur, pedagang salome di Kota Kupang, mengaku kesulitan mendapatkan elpiji hampir tiga minggu terakhir.

 “Sudah tiga minggu terakhir ini sulit mendapatkan elpiji di Kota Kupang, “ jelas Mas Nur kepada Pos Kupang, Senin (23/2/2026).

Mas Nur menjelaskan, kelangkaan itu juga menyebabkan harga gas melonjak tajam. Gas elpiji 12 kilogram yang sebelumnya dibeli dengan harga Rp 240 ribu hingga Rp 250 ribu per tabung.

Namun berdasarkan informasi dari sesama pedagang, harga kini melonjak hingga Rp 350 ribu per tabung. "Sekarang ini harganya sesuai info sudah sampai Rp 350 ribu," katanya.

Meski belum membeli ulang elpiji, ia mengaku tetap merasakan dampaknya. Untuk sementara, ia masih dibantu rekan usahanya yang meminjamkan elpiji agar tetap bisa berjualan. 

Ia berharap harga segera kembali normal sehingga tidak memberatkan para pelaku usaha kecil.
Pemilik Toko Citra Rasa di Pasar Oebobo membenarkan adanya kelangkaan elpiji yang telah berlangsung sejak tiga minggu terakhir.

"Iya benar ada kelangkaan. Sekarang masih kosong," ungkapnya saat ditemui di tokonya.

Ia menambahkan, untuk elpiji ukuran kecil, harga saat ini berada di kisaran Rp 105 ribu hingga Rp 115 ribu per tabung.

Para pedagang berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk menormalkan distribusi dan harga elpiji di Kota Kupang agar aktivitas usaha masyarakat tidak terganggu.

Hal yang sama juga dikeluhkan Nurhayati, pemilik warung makan di Kota Kupang. Ia mengaku mengalami kesulitan mendapatkan pasokan gas untuk kebutuhan usahanya.

Kepada Pos Kupang, Selasa (24/2), Nurhayati mengatakan sudah beberapa hari terakhir ia berkeliling mencari tabung gas karena di toko langganannya stok kosong.

“Sudah hampir dua minggu ini susah dapat tabung gas. Kadang harus tanya ke beberapa kios dulu baru dapat. Itu pun harganya sudah naik,” ujarnya.

Dari pantauan Pos Kupang di beberapa kios dan toko, harga gas LPG 12 kg saat ini di tingkat pengecer berkisar antara Rp260.000 hingga Rp275.000 per tabung, bahkan bisa tembus Rp 300.000 per tabung.

Harga tersebut kata Nurhayati dinilai cukup memberatkan, apalagi bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya, yang sangat bergantung pada ketersediaan gas untuk memasak setiap hari.

“Kalau harganya terus naik dan barangnya juga susah, kami yang usaha kecil ini cukup terasa. Gas ini kebutuhan utama untuk masak,” katanya.

Ia berharap distribusi LPG non-subsidi tersebut segera kembali normal agar aktivitas usaha tidak terganggu. 

Ariyanto, penjual bakso di sekitaran Kelurahan Penfui, Kota Kupang, mengaku harus membeli  gas elpiji 12 kg di toko dengan harga sekitar Rp295.000 per tabung. Ia terpaksa membeli dengan harga tersebut karena stok di toko langgananya dan sejumlah tempat kosong.

“Sudah susah dapat barang. Kalau ada pun harganya naik. Saya beli sekitar Rp295 ribu supaya tetap bisa jual,” ujarnya kepada Pos Kupang, Selasa (24/2) malam.

Hal serupa dialami Angga Pangestu, penjual martabak yang mengaku dalam dua minggu terakhir tabung gas sudah sulit diperoleh. Untuk tetap beroperasi, ia membeli secara eceran dengan harga sekitar Rp 290.000 per tabung.

“Sudah dua minggu ini susah tabung gas. Harga juga sudah naik. Mau tidak mau beli eceran karena gas kebutuhan utama untuk usaha,” kata Angga.

Menurut para pedagang, kelangkaan dan kenaikan harga ini sangat berdampak terhadap keuntungan usaha. Gas menjadi komponen utama dalam proses memasak, sehingga setiap kenaikan harga langsung bisa memengaruhi biaya produksi.

Para pelaku usaha berharap distribusi segera kembali normal agar ketersediaan gas terjamin dan harga tidak terus melonjak. Mereka juga meminta kepastian pasokan agar tidak perlu membeli dengan harga tinggi yang menggerus pendapatan harian.

Pertamina Tak Bersuara 

Area Manager Comm, Rel. & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi yang dihubungi Selasa, (24/2)  tidak menanggapi pesan percakapan yang dikirimkan. Ahad Rahedi hanya membaca pesan tersebut. 

Walau demikian, pada Rabu, (11/2/2026), PT Pertamina Jatimbalinus Patra Niaga mengirim keterangan tertulis mengenai elpiji. Mereka mengklaim, penyaluran LPG di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat setempat. 

Dalam rilis disebutkan, monitoring ketat pun dilaksanakan agar dapat mengambil langkah mitigasi dan antisipasi jika terjadi kendala dalam proses distribusi.

Ahad Rahedi dalam pernyataan itu membenarkan bahwa masyarakat Kota Kupang mengeluhkan kesulitan mendapatkan LPG 12 kg yang kemudian menyebabkan ketidaknyamanan dan membebani waktu serta tenaga, terutama warga yang melakukan usaha warung. 

Ahad Rahedi menyebut, kendala distribusi adalah pemicunya imbas dari kapal peti kemas yang miring dan mengalami jatuh muatan di laut pada Senin (2/2). 

"Kendala inilah yang sempat mengganggu proses distribusi kapal dan peti kemas lainnya, termasuk kontainer LPG  yang akan didistribusikan dari Surabaya ke wilayah Kota Kupang," kata Ahad Rahed , dalam keterangan tertulisnya. 

Selanjutnya Ahad Rahedi menyampaikan, proses percepatan telah dilaksanakan. Pada (11/2/2026), dua  kontainer LPG telah tiba dan langsung didistribusikan segera setelah proses pembongkaran ke outlet Kota Kupang dan sekitarnya. 

"Dua kontainer LPG yang tiba hari ini (11/2/2026) dari Surabaya membawa muatan 1.206 tabung LPG yang terdiri dari 231 tabung LPG 5.5 kg, 925 tabung LPG 12 kg, dan 50 tabung LPG 50 kg," Ahad Rahedi. 

Suplai selanjutnya, masyarakat Kota Kupang juga akan menerima tambahan 1.208 tabung LPG 12 kg yang dibagi menjadi 2 kontainer yang diestimasikan akan sampai dalam 3-4 hari perjalanan dari Surabaya.

Saat ini terdapat lebih kurang 20 outlet LPG non subsidi yang melayani masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya.

Pertamina Patra Niaga memastikan kualitas dan kuantitas LPG sesuai ketentuan dan mencukupi kebutuhan masyarakat setempat. (rey/nov/fan)

Ludes dalam Hitungan Jam

Kelangkaan Gas LPG 12 kilogram di Kota Kupang semakin dirasakan di tingkat toko pengecer. Sejumlah distributor kehabisan stok, sehingga pengecer tidak lagi mendapatkan pasokan untuk dijual kepada masyarakat.

Dulla, pemilik salah satu toko pengecer di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, mengatakan harga pengambilan dari agen sebelumnya berada di kisaran Rp 260.000 hingga Rp 280.000 per tabung.

“Terakhir tiga minggu lalu saya ambil masih Rp 260 ribu sampai Rp280 ribu dari agen, PT Flobamora,” ujarnya kepada Pos Kupang, Selasa (24/2/2026).

Namun setelah itu, pasokan gas semakin sulit. Ia menyebut tiga distributor yang biasa menjadi tempat langgananya pengambilan gas kini sudah kehabisan stok.

“Ada Tiga distributor yang biasa saya ambil tapi itu habis semua. Sonde ada lagi sama sekali,” kata Dulla.

Ia mengatakan, pada beberapa waktu lalu, sempat ada pasokan gas yang masuk ke tokonya. Namun stok tersebut hanya bertahan sekitar tiga hingga empat jam karena langsung dibeli warga.

“Jual hanya satu hari. Sekitar tiga sampai empat jam orang beli langsung habis,” jelasnya.

Dulla menyampaikan dirinya menjual dengan harga kisaran Rp 315.000 hingga Rp 320.000 per tabung. 

Harga tersebut menyesuaikan dengan harga pengambilan dari agen yang sudah berada di kisaran Rp 260.000 – Rp 280.000.

Kini, kondisi semakin sulit karena stok benar-benar kosong. “Sampai saat ini gas kosong sudah tidak ada,” tegas Dulla.

Kelangkaan ini membuat pengecer tidak dapat lagi melayani pembeli, sementara permintaan dari masyarakat tetap tinggi.

Tidak Diantipasi Pertamina

Wakil Ketua DPRD Kota Kupang, Jabir Marola, menyoroti kelangkaan elpiji yang terjadi di wilayah Kota Kupang dalam tiga pekan terakhir.

Menurut Jabir Marola, kelangkaan tersebut terjadi karena pihak Pertamina tidak melakukan antisipasi terhadap lonjakan permintaan di masyarakat.

"Kelangkaan ini biasanya terjadi karena Pertamina menyalurkan berdasarkan permintaan. Ketika permintaan meningkat, barang menjadi langka," ungkap Jabir Marola kepada Pos Kupang, Selasa (24/2/2026).

Jabir Marola menjelaskan, kondisi ini harus segera disikapi oleh pemerintah daerah dengan melakukan koordinasi bersama pihak Pertamina agar distribusi elpiji kembali normal dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Menurut Jabir Marola, kelangkaan elpiji memberikan dampak besar bagi berbagai sektor, terutama pelaku UMKM dan rumah tangga yang sangat bergantung pada ketersediaan gas untuk aktivitas sehari-hari.

Karena itu, Jabir Marola berharap persoalan kelangkaan elpiji di Kota Kupang dapat segera teratasi dalam waktu dekat sehingga tidak terus merugikan masyarakat. (*)

Detail Tabung:
1.Jenis: Bright Gas (Pink) atau Elpiji Biru (dalam transisi ke Bright Gas).
2.Berat Tabung: Sekitar 15,1 kg (berat kosongan).
3.Dimensi: Tinggi 74cm
4.Diameter 84  cm.
5.Keunggulan:
*Kapasitas besar
*Cocok untuk pemakaian intensif
*Dilengkapi teknologi Double Spindle Valve System
(DSVS) untuk keamanan ganda

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.