Hari Ketujuh Ramadan 1447 H : Menggapai Ketenangan Batin
Handhika Dawangi February 25, 2026 12:22 PM

 

Oleh:
Prof DR Nasaruddin Umar MA
Menteri Agama RI

KITA bisa dengan mudah menasehatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita sendiri kadang sulit mengamalkannya. 

Kesulitan tidak terletak pada bagaimana memahami hakekat ketenangan itu tetapi bagaimana bersahabat dengan kenyataan apapun yang dialami setiap hari. 

Ketengan batin lebih merupakan akibat daripada sebuah proses. Sebagian orang mengemukakan bahwa ketenteraman batin merupakan anugrah Tuhan. Karena itu kita perlu memahami kiat-kiat mempertahankannya. 

Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal, yaitu ketika semua kebutuhan tercukupi dan mungkin berlebihan. 

Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kauantitatif maupun segi kualitatif.

Memang tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda. Islam pun memperkenalkan beberapa tingkatan kebutuhan. 

  • Kebutuhan Dharury 

yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri. 

  • Kebutuhan Hajjiyat

yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi. 

  • Kebutuhan Tahsiniyyat

yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan telepon genggam canggih. 

Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena  perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. 

Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.

Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi. 

Ada dua beban hidup yang tidak bisa satu atap dengan ketenangan, yaitu beban rasa
bersalah dan beban rasa bersalah. 

Beban rasa berdosa terjadi jika seseorang rajin menumpuk dosa dan pelanggaran perintah dan ajaran Tuhan, seperti berzina, berbohong, korupsi, dan membicarakan aib orang lain.

Rasa bersalah terjadi jika seseorang sering berbuat kesalahan kepada saudaranya sendiri, seperti tidak menepati janji, khianat, mendhalimi, memfitnah, dll.

Selama rasa berdosa dan rasa bersalah ini tidak dibersihkan tidak akan pernah ada ketenangan
abadi.

Bulan suci Ramadan datang untuk mensucikan kita. Disebut Ramadan, artinya membakar, yaitu diharapkan mampu membakar hangus seluruh dosa-dosa yang pernah dilakukan. 

Dengan demikian rasa berdosa bisa hilang seiring dengan banyaknya amal kebajikan yang dilakukan di dalam bulan Ramadhan. 

Allah berfirman: 

Innl hasanat yudzhibnas sayyi’at

(sesungguhnya perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa) Q.S. Hud/11:114

Orang-orang yang mengoptimalkan amaliah Ramadan diharapkan bisa mengikis habis dosa-dosa masa lampaunya.

Usai Ramadan, yang bersangkutan seperti diungkapkan dalam hadis, kembali seperti bayi
yang putih tanpa dosa. 

Idul Fitri menjadi saksi adanya hamba yang kembali berbuka setelah menjalani masa puasa sebulan penuh. 

Di samping itu juga menjadi tanda kembalinya seorang hamba ke dalam jati diri yang paling luhur. 

Seusai Ramadhan, tradisi Indonesia dilakukan Halal bi Halal, sebuah upaya untuk menghilangkan rasa bersalah yang telah diperbuat terhadap saudara-saudaranya. 

Saling bersalam-salaman dan sekaligus saling memaafkan satu sama lain, diharapkan mengikis habis seluruh beban dipundak.

Rasa berdosa telah dibersihkan oleh Ramadhan dan rasa bersalah dibersihkan melalui Halal bi Halal. Di sinilah indahnya bulan suci Ramadhan,mempromosikan ketenangan batin. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.