Jumlah pergerakan wisatawan di Singapura sepanjang 2025 mencetak rekor baru. Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan Singapura atau Immigration & Checkpoints Authority (ICA) melaporkan hampir 245 juta pelancong melintas di seluruh pos pemeriksaan tahun lalu.
Angka itu melampaui 230 juta pada 2024 dan 217,3 juta pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Dalam pernyataannya, ICA menyebut sekitar tiga perempat wisatawan masuk melalui jalur darat.
Rekor tertinggi terjadi pada 19 Desember 2025, ketika hampir 589.000 orang menyeberang lewat pos darat dalam satu hari.
Melansir , Rabu (25/2/2026) volume kendaraan yang diperiksa di pos darat juga naik 9,5% pada 2025. Mobil dan sepeda motor mendominasi hingga 94% dari total kendaraan.
ICA menilai kebijakan pemeriksaan tanpa paspor membuat proses imigrasi lebih cepat, lebih efisien, dan lebih lancar bagi para wisatawan. Sepanjang 2025, sekitar 127 juta wisatawan melewati imigrasi tanpa perlu menunjukkan paspor.
"Setelah penerapan penuh sistem pemeriksaan kode QR di pos pemeriksaan darat pada Januari 2025 dan peluncuran bertahap sistem pemeriksaan tanpa token di pos pemeriksaan udara dan laut, waktu pemeriksaan telah berkurang. Hal ini juga memungkinkan ICA untuk mengelola volume pelancong yang meningkat dengan lebih baik, terutama di pos pemeriksaan darat," tulis ICA.
Sejak diluncurkan pada Maret 2024 di Tuas dan Woodlands, sekitar 134 juta wisatawan telah menggunakan sistem QR. Tingkat adopsi di kalangan penumpang bus melonjak dari 28% pada Januari 2025 menjadi 60% pada Desember 2025.
Pengendara sepeda motor yang memakai QR naik dari 32% menjadi 57%, sedangkan pengguna mobil relatif stabil di kisaran 68-69%. Ke depan, wisatawan yang menggunakan RTS Link menuju Johor Bahru juga akan melalui verifikasi kode QR.
Jalur tersebut ditargetkan beroperasi akhir 2026 dengan kapasitas hingga 10.000 penumpang per jam tiap arah. Selain mempercepat layanan, ICA memperketat pengawasan.
Sisi Lain dari Pergerakan yang Positif
Selain itu, jumlah warga negara asing yang ditolak masuk pun mengalami peningkatan, naik 38% menjadi 45.700 orang pada 2025. Mereka dinilai berisiko, termasuk potensi bekerja ilegal, overstay, atau mengancam keamanan.
Kasus penyelundupan barang ilegal juga meningkat dari 43.900 kasus pada 2024 menjadi 57.400 kasus pada 2025. "Melalui penargetan hulu dan deteksi garis depan yang ditingkatkan ini, lebih banyak warga negara asing yang terdeteksi melalui penyaringan yang lebih ketat pada tahun 2025, dan kemudian ditolak masuk," jelas ICA.
Lembaga itu menambahkan terjadi kenaikan 30,6% dalam upaya penyelundupan yang berhasil digagalkan.
Di sisi lain, 538 pelanggar imigrasi ditangkap sepanjang 2025. Petugas juga menemukan 667 kasus terkait rokok elektrik dan menyita lebih dari 350.000 perangkat serta komponennya.
"Sejalan dengan sikap tanpa toleransi Singapura terhadap penggunaan rokok elektrik, ICA meningkatkan publisitas dan penegakan hukum terhadap penyelundupan rokok elektrik di pos-pos pemeriksaan," demikian pernyataan mereka.







