TRIBUNJAKARTA.COM - Banyak warga Jakarta mungkin hanya mengenal Pangeran Tubagus Angke sebagai nama jalan di kawasan Tambora, Jakarta Barat.
Namun tak banyak yang mengetahui jejak sejarah sang ulama sekaligus panglima perang tersebut, termasuk keberadaan makamnya yang hingga kini masih terawat.
Padahal jejak sejarah Pangeran Tubagus Angke masih ada jelas di kawasan tersebut.
Tepatnya di sebuah gang padat penduduk di wilayah Angke, berdiri kokoh Masjid Al-Anwar atau yang dikenal Masjid Jami Angke, masjid bersejarah yang menjadi saksi perkembangan Islam di Batavia.
Di kompleks masjid inilah makam Pangeran Tubagus Angke beserta keluarganya berada.
Pengurus Masjid Jami Angke, Muhammad Abdiyan Abdillah, menjelaskan masjid tersebut didirikan pada 26 Sya’ban 1174 Hijriah atau 1761 Masehi.
“Masjid Jami Angke Al-Anwar ini didirikan pada tahun 1761 Masehi atau 1174 Hijriah. Tepatnya 26 Sya’ban 1174 Hijriah,” ujarnya.
Menurut Abdiyan, keberadaan masjid ini tak bisa dipisahkan dari perkembangan Islam di tanah Jawa, khususnya yang dibawa oleh Kerajaan Islam Demak dan Cirebon saat menaklukkan Sunda Kelapa pada 1527.
Penaklukan itu dipimpin oleh Fatahillah yang kemudian dikenal sebagai Jayakarta pertama.
Seiring berkembangnya Islam dan semakin banyaknya umat Muslim di Batavia, kebutuhan akan tempat ibadah pun meningkat.
“Umat Muslim yang mendiami kota ini semakin banyak. Itu yang mendasari didirikannya bangunan tempat peribadatan, salah satunya Masjid Jami Angke Al-Anwar,” jelasnya.
Sebelum masjid berdiri pada abad ke-18, Kampung Angke sudah lebih dulu dihuni masyarakat, ulama, serta para pedagang yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan.
Tak heran jika di sekitar masjid banyak ditemukan makam-makam tua dari abad ke-16, 17, hingga 18. Kompleks ini dikenal sebagai Makam Keramat Angke.
Di lokasi tersebut dimakamkan Pangeran Tubagus Angke beserta keluarganya. Abdiyan menyebut, hingga kini masih terdapat keturunan beliau yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
“Dan kami sendiri keluarga besar di sini masih ada turunan dari beliau,” katanya.
Abdiyan mengatakan, masjid ini juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid kerap dijadikan lokasi singgah para ulama dan pejuang, bahkan tempat menyusun strategi perlawanan.
Di sisi timur masjid terdapat makam tokoh dari Kesultanan Pontianak, yakni Sultan Syarif Hamid Al-Kadrie dari Kesultanan Qadriyah Pontianak.
“Bukan hanya dari satu suku, banyak ulama dan tokoh dari berbagai daerah yang mendiami kampung ini,” ujar Abdiyan.
Letaknya yang tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa juga menjadikan kawasan ini strategis pada masa VOC, ketika pusat pemerintahan kolonial berada di wilayah tersebut.
Secara arsitektur, bangunan masjid masih mempertahankan bentuk aslinya.
Empat pilar menopang bagian dalam masjid yang di tengahnya terdapat tangga untuk menuju ke menara.
"Karena kan zaman dulu belum ada speaker. Jadi mesti naik ke menara kalau mau adzan biar terdengar," ujar Abdiyan.
Sedangkan bagian makam tak berada di dalam masjid melainkan berada di seberangnya.
Abdiyan menjelaskan, restorasi terakhir di masjid ini dilakukan pada 2017, terutama pada bagian kayu atap yang telah termakan usia.
“Kalau ada yang masih bisa dipakai, tetap dipakai. Sekalipun ada pergantian, kita semaksimal mungkin menggunakan bahan baku yang sama, yaitu kayu jati,” jelasnya.
Memasuki bulan Ramadan, aktivitas di masjid tetap rutin seperti tahun-tahun sebelumnya.
Selain salat tarawih berjamaah dan tadarus, pengurus menyediakan takjil dan makanan berbuka puasa bagi musafir dan jemaah.
"Hidangan tersebut berasal dari swadaya masyarakat sekitar yang telah menjadi tradisi turun-temurun," kata dia.