Hasil Sidak Petugas Dinas Perikanan HSS Kalsel di Pasar Rakyat Terpadu Kandangan
Edi Nugroho February 26, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Ini hasil Sidak Petugas Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Distan PP HSS Kalsel di Pasar Rakyat Terpadu Kandangan

Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Distan PP) melaksanakan pengawasan lapangan di Pasar Rakyat Terpadu Kandangan.

Pengawasan dilakukan dengan menyasar sejumlah pedagang ikan segar, maupun produk olahan perikanan. Dimulai dari ikan kering (asin), kerupuk ikan, dan berbagai produk turunan lainnya, Rabu (25/2/2026).

Hal tersebut dibenarkan Kabid Perikanan, Fatmadiansyah saat dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id. Dijelaskannya, bidang perikanan memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pengawasan usaha perikanan baik budidaya, penangkapan sampai kepada hilirnya, seperti pengolahan hasil perikanan termasuk pemasaran.

Baca juga: Dramastisnya Penggrebekan Residivis yang Simpan 1 Kg Lebih Sabu  di Kelua Tabalong, Pelaku Pasrah

Baca juga: Polisi Tangkap Pelempar Molotov di Cemara Raya Ujung Banjarmasin, Diduga Dipicu Masalah Asmara

Pengawasan yang menjadi fokus utama adalah melakukan pengecekan fisik produk serta memastikan tidak adanya penggunaan bahan pengawet sintetis yang dilarang, seperti formalin dan boraks. 

“Kami mengambil data ditingkat pedagang pengumpul dan  pengecer. Data yang diambil seperti banyaknya hasil dijual serta harga ditingkat konsumen dan produsen. Sekaligus hasil olahan ikan turut di awasi, kalau saja ada dicurigai menggunakan bahan pengawet,” katanya.

Hasil pemantauan sementara, sebagian besar produk dijual telah memenuhi standar keamanan pangan. 

Namun, pihaknya tetap memberikan teguran lisan dan edukasi ke beberapa pedagang terkait penataan barang dagangan agar tetap higienis, tidak terpapar polusi lingkungan sekitar.

“Benar. Hasil teman-teman di lapangan melaporkan belum ada yang di curigai menggunakan bahan pengawet berbahaya,” jelasnya.

Melalui pengawasan berkala, pihaknya berharap  tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk perikanan lokal semakin meningkat.

Terlebih dapat mendorong para pedagang untuk tetap menjaga kualitas dan keamanan produk yang dipasarkan di HSS.

Sementara, terkait harga akan di pasaran, masih relatif terjangkau.

“Kita mendapat pasokan dari nelayan dan masih terpenuhiz terutama ikan lokal. Sementara, ikan introduksi seperti mas, patin, dan nila, serta grascrap (jelawat) rata-rata msh dipasok dari Martapura dan sebagian wilayah Nagara/Daha, HSS,” sampainya.

6 Ciri Ikan Asin yang Bebas Formalin, Jangan Sampai Tertipu

 Ikan asin adalah salah satu bahan makanan favorit banyak orang. Selain rasanya gurih dan cocok dipadukan dengan berbagai hidangan, ikan asin juga sering menjadi pilihan saat anggaran menipis.

Meski sering dianggap sebagai makanan sederhana, ikan asin yang berkualitas sebenarnya bisa menghadirkan masakan yang sangat menggugah selera.

Proses pembuatan ikan asin secara alami dilakukan dengan cara menjemur dan mengawetkan ikan menggunakan garam. Namun, tak sedikit oknum nakal yang menambahkan bahan kimia seperti formalin agar produk mereka tampak lebih awet dan menarik.

Padahal, penggunaan formalin sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Cara pilih ikan asin yang bebas formalin

Agar tidak tertipu saat membeli, perhatikan beberapa ciri berikut untuk memastikan ikan asin yang kamu pilih benar-benar bebas formalin dan bahan kimia berbahaya.

1. Aroma khas ikan asin jelas

Ikan asin berkualitas baik akan mengeluarkan aroma menyengat yang khas—kadang memang terkesan kurang sedap.

Justru inilah tanda bahwa ikan asin tersebut diproses secara alami. Sebaliknya, ikan asin berformalin cenderung tidak berbau sama sekali karena bau alami ikan telah “dikunci” oleh bahan kimia.

2. Tekstur mudah hancur

Saat disentuh atau ditekan, ikan asin yang dibuat dengan cara alami biasanya mudah hancur atau rapuh. Ini menunjukkan bahwa ikannya dikeringkan secara tradisional tanpa bahan pengeras.

Ikan asin berformalin justru bertekstur keras, alot, dan tidak mudah patah karena efek pengawetnya.

3. Warna tidak terlalu menarik

Ikan asin yang sehat biasanya memiliki warna yang cenderung kusam atau tidak terlalu cerah. Jika kamu menemukan ikan asin berwarna putih pucat, sangat bersih, atau tampak terlalu menarik, bisa jadi produk tersebut mengandung formalin atau bahan pemutih.

4. Perhatikan ketebalan dagingnya

Semakin tebal daging ikan asin, biasanya semakin baik kualitas ikannya—dan tentu saja lebih mahal.

Daging tebal menandakan bahwa ikan segar digunakan dalam proses pengasinan. Khusus untuk jenis teri, pilih yang ukurannya sedikit lebih besar. Teri yang terlalu kecil lebih rapuh dan mudah hancur ketika dimasak.

5. Ketahanan yang terlalu lama bisa jadi tanda bahaya

Ikan asin yang disimpan lama namun tidak kunjung busuk patut dicurigai. Ikan asin alami tetap memiliki batas ketahanan tertentu.

Jika tahan sangat lama tanpa perubahan bau atau tekstur, kemungkinan besar ikan tersebut diberi pengawet kimia.

6. Lalat justru jadi petunjuk alami

Melihat lalat hinggap di ikan asin sering membuat calon pembeli ragu. Padahal, lalat tertarik pada aroma ikan asin alami.

Ikan asin yang tidak dihinggapi lalat meski dipajang di ruang terbuka bisa menandakan adanya formalin atau bahan kimia lain yang membuat lalat menghindar

(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan/kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.