TRIBUNKALTIM.CO - Kedatangan Toprak Razgatlioglu ke MotoGP sempat diprediksi menjadi peristiwa besar.
Tiga kali juara World Superbike (WorldSBK), memiliki gaya balap spektakuler serta karisma kuat, ia dinilai memiliki semua modal untuk mencuri perhatian di kelas utama.
Namun, bagi Livio Suppo, sejarah tidak akan tercipta secepat dan semudah itu.
Baca juga: 5 Momen Tidak Terlupakan Sepanjang Gelaran MotoGP Thailand
Dalam sebuah wawancara di podcast Oxley Bom, mantan manajer tim MotoGP tersebut memilih bersikap realistis.
Menurutnya, perpindahan dari WorldSBK ke MotoGP bukan sekadar soal melaju lebih kencang, melainkan perubahan filosofi balap secara menyeluruh.
Suppo tidak meragukan talenta Razgatlioglu.
Namun, ia mempertanyakan konteks yang dihadapi sang pebalap.
Baca juga: Hasil Tes MotoGP Thailand 2026: Marquez Pimpin Dominasi Ducati, Honda Bangkit, Yamaha Masih Terpuruk
Tantangan terbesar bukan hanya adaptasi pribadi, tetapi juga kesiapan motor yang digunakan.
Ia menilai motor Yamaha Racing spesifikasi V4 2026 yang dipakai tim satelit belum berada di level kompetitif.
“Sayangnya, dan ini sulit untuk diakui, motor yang ia kendarai saat ini tampaknya merupakan Yamaha paling tertinggal,” ujar Suppo.
Di tengah dominasi Ducati, di mana selisih sepersepuluh detik sangat menentukan, memulai musim dengan motor yang belum kompetitif jelas memperberat situasi.
Baca juga: Kesepakatan Harus Terjadi Sebelum MotoGP 2027, Pecco Bagnaia Pilih Aprilia atau Yamaha?
Karena itu, Suppo menilai hampir mustahil bagi Razgatlioglu untuk langsung bersaing di barisan depan.
“Orang-orang percaya dengan rekam jejaknya di Superbike, ia akan langsung kompetitif. Kami tahu itu tidak mungkin,” tegasnya.
Selain aspek teknis, tekanan psikologis juga menjadi sorotan.
Suppo membandingkan situasi Razgatlioglu dengan rookie lain, Diogo Moreira, yang datang ke MotoGP tanpa ekspektasi besar.
Baca juga: Bursa Transfer Pembalap MotoGP: Alex Marquez Tinggalkan Ducati, Gabung Tim Pabrikan di Musim 2027
Berbeda dengan Moreira, Razgatlioglu memikul beban ekspektasi tinggi berkat tiga gelar WorldSBK dan reputasinya sebagai ahli pengereman.
Bos Yamaha Racing, Paolo Pavesio, bahkan menyebut masa bulan madu telah berakhir.
Razgatlioglu mulai menyadari besarnya tantangan yang menantinya.
Sang pebalap sendiri mengakui merasa tertekan oleh ekspektasi publik, terlebih menjelang seri pembuka di Thailand.
Baca juga: Jelang Seri Perdana MotoGP 2026, Fabio Quartararo Pasrah dengan Mesin Motor Yamaha
Dari sisi teknis, gaya balap agresif Razgatlioglu, pengereman sangat terlambat, lintasan berbentuk V, serta akselerasi mendadak, yang menjadi ciri khasnya di Superbike, belum tentu efektif di MotoGP.
Motor prototipe MotoGP menuntut kelancaran saat menikung, kecepatan sudut yang tinggi, serta manajemen ban yang presisi, khususnya dengan karakter ban Michelin.
Menurut Suppo, proses transisi ini bersifat struktural.
Bukan soal bakat semata, melainkan perubahan “DNA” gaya berkendara.
Baca juga: 7 Hal yang Perlu Diketahui Tentang MotoGP 2026, Musim Terakhir Mesin 1000cc
Transformasi seperti itu tidak bisa terjadi hanya dalam beberapa kali tes pramusim.
Bagi Suppo, musim 2026 seharusnya menjadi tahun pembelajaran bagi Razgatlioglu, bukan musim pembuktian instan.
Menjadi kompetitif sejak awal dinilai sebagai ilusi.
Yang lebih penting adalah memahami motor, beradaptasi dengan tekanan, dan membangun fondasi performa jangka panjang.
Pertanyaannya kini bukan apakah Razgatlioglu cukup berbakat.
Melainkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah talenta mentahnya menjadi performa kompetitif di MotoGP, sebuah kemewahan yang sering kali sulit didapatkan di kerasnya persaingan kelas utama. (*)