Pasca Banjir, Siswa Siap Belajar Kembali, Siswa SDN 18 Sesetan Bali Ikut Bersih-bersih Lumpur
Putu Dewi Adi Damayanthi February 26, 2026 08:19 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pihak sekolah SDN 18 Sesetan mengajak siswanya bersih-bersih di lingkungan sekolah yang berlokasi di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Beo, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali, Rabu 25 Februari 2026. 

SDN 18 Sesetan termasuk satu di antara obyek yang terendam banjir yang melanda Kota Denpasar pada Selasa 24 Februari 2026.

Sejak pagi mereka membersihkan lumpur hingga mengumpulkan barang-barang sekolah yang basah. 

Juga membersihkan meja dan kursi yang sempat terendam karena ketinggian air mencapai paha orang dewasa.

Baca juga: Titik Banjir di Kuta dan Seminyak Meluas, Dewan Badung: Kerugian Ditaksir Miliaran

Kepala Sekolah SDN 18 Sesetan, Anik Pudjiastuti mengungkapkan, selain melibatkan guru dan siswa, bersih-bersih juga diikuti orang tua siswa. 

Menurut Anik, ketinggian air di lingkungan sekolah mencapai sepaha orang dewasa atau setinggi meja siswa di dalam ruang kelas. 

Meskipun pihak sekolah telah mengantisipasi dengan menyediakan rak-rak tinggi, tingginya air membuat beberapa aset tetap terdampak. 

“Beberapa pakaian olahraga, alat olahraga, media pembelajaran, dan satu pengeras suara (speaker) aktif terendam air,” kata Anik.

Buku-buku di perpustakaan juga mengalami kerusakan. 

Namun, dampak yang paling parah di ruang guru, karena banyak arsip dan dokumen yang ikut terendam. 

Pihaknya akan mendokumentasikan arsip yang rusak karena dokumen seperti Daftar Hadir Rapat Komite tidak mungkin dibuat ulang. 

“Ini yang ketiga kalinya sebesar ini. Kalau banjir kecil biasanya hanya di halaman, tetapi yang kemarin adalah yang paling tinggi,” ujar Anik saat ditemui di lokasi.

Banjir sempat merendam sekolah ini di tahun 2022 lalu. 

Kemudian pada 10 September 2025 kembali terendam. Namun banjir kemarin yang paling parah. 

“Karena di timur ada sungai, itu yang meluap sehingga air masuk ke sekolah,” paparnya.

Terkait dengan aksi bersih-bersih, pihaknya pun telah meminta izin ke pengawas maupun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar. 

Pihak sekolah memastikan aktivitas belajar mengajar akan kembali normal pada hari ini, Kamis 26 Februari 2026.
 
“Besok (hari ini) kita sudah siap belajar kembali. Hari ini (kemarin) pembersihan selesai dengan cepat karena bantuan luar biasa dari para orang tua murid,” paparnya.

Terkait kerugian material, pihak sekolah berencana melaporkan kerusakan aset berupa buku dan sarana prasarana lainnya kepada Disdikpora untuk ditindaklanjuti.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa mengatakan, banjir terjadi karena intensitas hujan yang tinggi. 

Ia menyebut, tim sudah berada di lapangan sejak tiga hari sebelumnya untuk mengantisipasi dampak hujan tersebut. 

Bahkan, sejumlah mesin penyedot juga telah dioperasikan guna mempercepat surutnya genangan. 

Menurutnya, permasalahan banjir di Denpasar tidak lepas dari kondisi geografis di beberapa titik.

Di mana Denpasar memiliki tiga titik cekungan utama yang menjadi langganan banjir. 

Adalah di Jalan Bumi Ayu, Jalan Pura Demak, dan kawasan Jalan Mekarjaya di Pemogan. 

“Di Kota Denpasar ada tiga daerah cekungan. Di Bumi Ayu kondisinya seperti penggorengan, sehingga saat curah hujan tinggi air mudah terkumpul. Selain itu, ada Pura Demak dan Mekarjaya, Pemogan yang juga menjadi langganan genangan,” paparnya, Rabu 25 Februari 2026.

Untuk penanganan di Bumi Ayu, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar telah menyiagakan tiga unit alat penyedot air. 

Peralatan tersebut merupakan dukungan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Pemkot Denpasar. 

Meski demikian, genangan di wilayah tersebut sempat terjadi dan bertahan sekitar satu hari akibat tingginya intensitas hujan.

Sedangkan di kawasan Pura Demak dan Mekarjaya, Pemogan, Pemkot telah membuat sodetan untuk memperlancar aliran air. 

Menurutnya, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya dampak genangan dibandingkan sebelumnya. 

Pihaknya memastikan jika Pemkot Denpasar akan melakukan penanganan banjir secara bertahap, khususnya di titik-titik cekungan.

“Di Pura Demak sudah bisa kita kurangi dampaknya. Di Mekarjaya-Pemogan juga kita sudah buat sodetan-sodetan. Yang belum bisa kita tuntaskan 100 persen memang di Bumi Ayu,” imbuhnya.

Di sisi lain, penanganan banjir di Denpasar masih berlangsung hingga Rabu 25 Februari 2026. 

Salah satu yang disasar di kawasan Bumi Ayu, Kelurahan Sanur, Denpasar yang direndam banjir sejak Selasa 24 Februari 2026.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Denpasar masih melakukan penyedotan genangan air. 

Untuk di Bumi Ayu penyedotan menyasar area vila dan permukiman warga yang aktivitasnya masih lumpuh.

Kabid Pemadam dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Denpasar, I Wayan Karma mengatakan, penyedotan intensif ini dilakukan lantaran saluran drainase di kawasan tersebut belum berfungsi optimal untuk menampung debit air.

“Kami melakukan penyedotan menggunakan mobil pompa (BW). Kemarin kami turunkan tujuh unit, sekarang masih empat unit yang beroperasi. Air hasil sedotan kami buang ke kawasan mangrove,” ujar Karma.

Karma menjelaskan, upaya penanganan tidak hanya difokuskan di Jalan Bumi Ayu. 

Tim juga disebar ke beberapa titik rawan genangan lainnya seperti Jalan Gurita, Pulau Misol, dan Penyaringan. 

Selain menyedot air, petugas juga harus melakukan evakuasi terhadap warga dan wisatawan yang tempat tinggalnya terendam.

“Sejak kemarin sekitar 20 orang sudah kami evakuasi, termasuk wisatawan. Aktivitas di beberapa lokasi masih lumpuh total, ungkapnya.

Proses penyedotan ini diprediksi bisa berlangsung cukup lama. 

Menurut Karma, berkaca dari pengalaman sebelumnya, genangan air di kawasan tersebut bisa memakan waktu hingga satu bulan untuk benar-benar surut, tergantung pada tinggi genangan dan intensitas curah hujan susulan.

Terkait kendala di lapangan, pihak Damkar menyebut masalah utama ada pada kontur tanah. 

Wilayah selatan memiliki elevasi (ketinggian) yang lebih tinggi sehingga aliran air tertahan dan tidak bisa mengalir lancar.

“Kami sudah menyampaikan agar saluran diperbesar atau ditembuskan ke arah selatan, tetapi memang terkendala perbedaan elevasi tanah tersebut,” kata Karma.

Tak hanya itu, BPBD Kota Denpasar juga melakukan penyedotan air di sekolah. Dua sekolah yang disasar yakni SDN 12 Dauh Puri dan SDN 10 Dauh Puri. (sup)

Sektor Pariwisata Sanur dan Kuta Terdampak

Banjir yang melanda kawasan pariwisata Sanur, Kota Denpasar dan di Kabupaten Badung yaitu Kuta, Legian, dan Seminyak sangat berdampak terhadap sektor pariwisata. 

Lambatnya air surut setelah banjir memberikan pukulan telak bagi pelaku usaha perhotelan dan vila di kawasan Sanur, Kota Denpasar.

Operation Nike Villas, Ni Wayan Ayu Rochani (36) mengungkapkan, dua unit vilanya sempat terendam dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. 

“Air masuk sampai ke dalam kamar, jadi kami terpaksa mengevakuasi tamu dan memindahkan mereka ke vila lain,” ujarnya.

Kondisi ini memicu gelombang pembatalan menginap dari para wisatawan. 

Ayu merinci, ada dua tamu yang melakukan check-out mendadak dan meminta refund (pengembalian dana) untuk sisa 3 malam dari total 4 malam pemesanan. 

Paling parah, satu tamu yang baru saja check-in langsung membatalkan reservasi untuk 9 malam dan meminta refund penuh.

“Untuk tamu yang sembilan malam itu total refund-nya sekitar Rp 19 juta dan sudah kami kembalikan penuh,” jelas Ayu.

Selain itu, satu tamu lainnya juga memilih check-out lebih awal pada hari ini lantaran menilai kondisi lingkungan sekitar vila menjadi kotor pasca-banjir. 

Total, terdapat empat pembatalan menginap dalam kurun waktu dua hari terakhir.

Tak hanya kehilangan potensi pendapatan dari tingkat hunian (okupansi), pihak vila juga harus menanggung kerusakan fasilitas. 

Empat unit mesin pompa kolam terendam dan dipastikan rusak, di mana proses perbaikannya diperkirakan bisa memakan waktu hingga 16 minggu.

Kerusakan juga terjadi pada satu unit komputer di ruang kantor akibat korsleting listrik saat air masuk. 

Meskipun belum bisa merinci total nominal kerugian secara pasti, pelaku usaha sangat merasakan dampak dari musibah ini.

Sembari menunggu genangan benar-benar surut, para pelaku pariwisata dan warga setempat sangat berharap pemerintah segera memberikan solusi permanen, terutama terkait perbaikan drainase dan penyesuaian elevasi lahan, agar musibah ini tidak terus menjadi agenda tahunan yang merugikan.

Sementara itu, banjir yang melanda kawasan pariwisata Kuta, Legian, dan Seminyak juga sangat berdampak pada dunia pariwisata di Kabupaten Badung.

Selain itu banyak masyarakat, pengusaha dan yang lainnya juga mengalami kerugian materil dan bangunan. 

Kerugian akibat banjir kemarin ditaksir miliaran rupiah. Selain itu juga ada pembatalan wisatawan yang akan menginap di kawasan tersebut.

“Banjir yang terjadi memicu kerugian material hingga miliaran rupiah, serta mengancam citra Bali di mata dunia,” ujar seorang pengusaha pariwisata di Kuta, I Nyoman Graha Wicaksana, Rabu 25 Februari 2026.

Menurutnya, selama ini, titik banjir di kawasan Kuta cenderung terfokus di area Jalan Dewi Sri. 

Namun, hujan ekstrem belakangan ini genangan air meluas hingga ke kawasan Kartika Plaza, Wana Segara, dan Samudra.

“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kalaupun ada genangan, biasanya cepat surut dalam hitungan jam. Sekarang, banjir sudah melebar ke titik-titik vital pariwisata yang sebelumnya aman,” jelas Graha Wicaksana yang juga Anggota DPRD Badung itu.

Menurutnya, sektor perhotelan menjadi pihak yang paling terdampak. Banjir yang masuk hingga ke area kamar memaksa manajemen hotel melakukan evakuasi tamu secara mendadak. 

Hal ini tidak hanya membatalkan pesanan yang sudah ada, tetapi juga merusak fasilitas fisik bangunan yang memerlukan waktu perbaikan setidaknya satu hingga dua minggu.

“Teman-teman pelaku mengakui ada kerusakan fasilitas akibat air yang masuk ke area lobi dan kamar merusak furnitur, alat elektronik, dan interior hotel. Banyak tamu yang memilih cancel,” katanya.

Dampak banjir yang meluas, kata Graha Wicaksana tidak hanya hotel besar, ekosistem pendukung seperti warung makan, toko kelontong, tour desk, hingga jasa penyewaan motor ikut kehilangan pendapatan karena akses jalan yang terputus.

“Estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah. Pengusaha yang seharusnya menyetorkan pajak, kini justru harus mengalokasikan dana tersebut untuk perbaikan darurat,” tambahnya.

Disebutkan, pariwisata adalah bisnis berbasis persepsi dan citra. 

Jika wisatawan menganggap Kuta sebagai kawasan yang tidak nyaman dan rawan bencana, mereka akan berpikir dua kali untuk berkunjung. 

Hal ini diprediksi akan berdampak langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung.

“Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung bersumber dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Jika tingkat kunjungan di Kuta, Legian, dan Seminyak menurun drastis akibat banjir yang berulang, maka kapasitas fiskal pemerintah daerah untuk membiayai program pembangunan juga akan ikut tergerus,” ungkap Ketua Komisi IV DPRD Badung itu.

Pihaknya berharap solusi holistik dengan duduk bersama para pakar guna mendesain ulang sistem drainase secara total. 

Selain itu, melakukan normalisasi saluran air secara rutin sebelum musim penghujan tiba. 

“Jangan sampai investor menganggap Kuta tidak lagi layak untuk dilakukan investasi. Jika investasi lari, perputaran ekonomi akan mati, dan Bali yang akan rugi secara keseluruhan,” kata dia. (sup/gus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.