TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara ( Kaltara ) hingga saat ini baru berjalan di Kecamatan Sesayap Hilir.
Dari lima kecamatan yang ada, wilayah Kecamatan Sesayap Hilir menjadi yang pertama melaksanakan program MKB karena kesiapan dapur dan proses verifikasi dari pusat lebih dulu rampung.
Untuk dapur SPPG Kecamatan Sesayap Hilir baru diresmikan pada 11 Februari 2026 lalu dan sekaligus langsung memulai penyaluran MBG perdana ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat.
Kecamatan Sesayap Hilir sendiri merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Tana Tidung yang berjarak durasi perjalanan dari Kecamatan Sesayap yang merupakan ibukota kabupaten berkisar 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor ataupun mobil.
Baca juga: Selama Ramada 2026 Siswa di Tana Tidung Tetap Dapat MBG, Menunya Tempe Orek Pakai Kantong Plastik
Kepala SPPG Sesayap Hilir, Junianto, menegaskan bahwa pelaksanaan MBG sangat bergantung pada kesiapan dapur masing-masing wilayah.
“Kenapa baru di Sesayap Hilir yang terlaksana, ini karena tergantung dari pembuatan dapur juga. Jadi siapapun dapur yang cepat selesai verifikasi akhir ke pusat, baru penempatan kepala dapurnya yang duluan. Kebetulan di Sesayap Hilir,” ujar Junianto kepada TribunKaltara.com, Kamis (26/2/2026).
Ia menyebut, untuk kecamatan lain kemungkinan akan menyusul dalam waktu dekat apabila proses administrasi dan verifikasi telah selesai.
“Tahun-tahun ini kayaknya dapur SPPG di Tideng Pale yang kemungkinan akan menyusul beroperasi,” katanya.
Dalam pelaksanaannya di Kecamatan Sesayap Hilir, belum seluruh sekolah terakomodir sebagai penerima manfaat.
Baca juga: MBG Ramadan di SDN 006 Tanjung Selor Sempat Dirapel, Wali Murid Lapor Isi Roti Berlendir
Hal itu dikarenakan pada tahap awal terdapat pembatasan kuota maksimal 1.000 penerima manfaat.
“Untuk running awal itu memang kami dikasih aturan tidak boleh melebihi seribu penerima manfaat. Jadi memang harus bertahap,” jelasnya.
Ia menerangkan, sekolah yang lebih awal mengirimkan data menjadi prioritas dalam penetapan penerima tahap pertama.
“Sekolah-sekolah yang lebih awal masukkan data ke kami, itu yang kami rekap lebih dahulu. Jadi yang lebih akhir kasih data ya sudah mungkin kami jadikan cadangan untuk nanti penerima manfaatnya,” terangnya.
Pada tahap awal, total penerima manfaat dari 10 sekolah di Sesayap Hilir mencapai 984 siswa.
Sementara dua sekolah lainnya masih menunggu giliran karena keterbatasan kuota dan keterlambatan pengiriman data.
“Karena kan tidak boleh lebih dari seribu, jadi 10 sekolah itu sudah 984. Yang belum itu memang datanya agak lambat masuk, jadi kami cadangkan. Rencana minggu depan dua sekolah itu sudah masuk sebagai penerima manfaat,” ujarnya.
Ia menjelaskan alasan pelaksanaan dilakukan secara bertingkat supaya karyawan di dapur itu bisa menyesuaikan.
"Karena ada beberapa kejadian langsung penerima manfaatnya tiga ribu, akhirnya relawan di dapur kewalahan dan mungkin terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Jadi dikasih bertingkat supaya relawan kami bisa menyesuaikan, tidak shock,” ungkapnya.
Selain pembatasan kuota, kendala teknis di lapangan juga menjadi tantangan tersendiri, mulai dari jarak antar sekolah hingga waktu pengantaran yang hampir bersamaan.
“Kalau di sini jarak antar sekolah itu ada yang ke arah kiri, ada juga yang ke kanan dari dapur, jadi kami juga agak kewalahan. Kemudian pengantaran, mereka maunya diantarkan jam 9.00 semua, kecuali SMA 1 itu maunya jam 13.00,” jelasnya.
Dengan jumlah relawan pengantar yang terbatas, pihaknya harus memastikan proses pengepakan ratusan paket makanan selesai tepat waktu.
“Relawan yang mengantar ini terbatas, empat orang saja. Jadi kami harus packing sekitar 900 ini langsung diantar jam 8.45,” ungkapnya.
Saat ini distribusi menggunakan dua unit mobil pengantaran dan dinilai masih mampu mengakomodir 10 sekolah penerima manfaat tanpa keterlambatan.
“Untuk sejauh ini yang dua mobil ini sudah tidak ada yang terlambat, jadi sudah bisa mengakomodir 10 sekolah penerima manfaat,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti