Teater Ambisi Trump dan Iran: Apa Beda “Pungo” dan “Puleh Pungo”
Zaenal February 26, 2026 04:03 PM

Oleh: Ahmad Humam Hamid*) 

DI panggung geopolitik global, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran selalu lebih dari sekadar sengketa kebijakan. 

Ia bukan hanya perseteruan mengenai sanksi, nuklir, atau pengaruh regional, melainkan benturan dua cara pandang terhadap kekuasaan dan legitimasi. 

Di satu sisi, ada pendekatan yang mengandalkan tekanan maksimum, mobilisasi militer, dan dominasi sistem internasional. 

Di sisi lain, ada strategi yang bertumpu pada daya tahan sejarah, kedalaman identitas, dan kalkulasi asimetris jangka panjang. 

Dalam konteks inilah, teater ambisi Donald Trump berhadapan dengan negara peradaban Iran - sebuah pertunjukan dramatis di mana istilah “pungo” dan “puleh pungo” dapat dibaca sebagai metafora politik yang kontras.

Dalam bahasa Aceh, ketika ada orang yang berkomentar “Trump is crazy,” padanan kata yang sering dipakai adalah “pungo”. 

Namun “pungo” tidak selalu berarti gangguan mental dalam arti klinis. 

Ia lebih dekat dengan makna nekat, berani melampaui kebiasaan, bertindak di luar pola umum, atau melakukan langkah yang membuat orang lain terkejut. 

Dalam politik global, label seperti itu sering muncul ketika seorang pemimpin menggunakan retorika keras, ancaman terbuka, atau keputusan yang tampak drastis. 

“Pungo” dalam konteks ini adalah gaya - sebuah demonstrasi keberanian yang sengaja dipertontonkan untuk membentuk persepsi lawan.

Baca juga: Jalan Terjal Gubernur Aceh 2024-2029 : Aceh-Jakarta, Paradigma Aceh Pungo, Jawa Sopan - Bagian XX

Logika Pungo Amerika

Amerika Serikat merupakan kekuatan militer terbesar di dunia modern. 

Dengan armada kapal induk yang beroperasi lintas samudra, pangkalan militer di berbagai kawasan, jet tempur generasi kelima, sistem rudal presisi, serta jaringan intelijen global yang canggih, Washington memiliki kapasitas proyeksi kekuatan yang hampir tak tertandingi. 

Dalam hitungan hari, bahkan jam, target strategis dapat ditekan melalui kombinasi serangan udara, siber, dan tekanan ekonomi. 

Ketika kapal perang digerakkan ke Teluk Persia dan pernyataan keras Trump dilemparkan dari Gedung Putih, langkah tersebut tampak sebagai demonstrasi tekad dan dominasi. 

Dalam metafora ini, pendekatan tersebut dapat disebut “pungo”: berani, teatrikal, penuh tekanan, dan dirancang untuk menciptakan efek psikologis maksimal.

Namun “pungo” di sini bukan berarti kehilangan rasionalitas. 

Ia lebih tepat dipahami sebagai strategi yang mengandalkan kejutan, ketidakpastian, dan tekanan intens untuk memaksa lawan bernegosiasi dari posisi tertekan. 

Dalam teori hubungan internasional dikenal konsep “madman theory”, yaitu strategi membuat lawan percaya bahwa seorang pemimpin siap mengambil langkah ekstrem agar konsesi lebih cepat diberikan. 

Dengan menciptakan persepsi bahwa keputusan bisa diambil secara drastis dan tak terduga, daya tawar meningkat. 

Dramatisasi menjadi instrumen politik.

Baca juga: ISBI Aceh “Kampus Pungo”

Perisai Puleh Pungo Iran

Di seberang panggung, Iran berdiri bukan sekadar sebagai negara modern dengan struktur pemerintahan kontemporer, tetapi sebagai entitas dengan memori sejarah ribuan tahun. 

Dari Kekaisaran Achaemenid - 6 abad SM - hingga Republik Islam hari ini di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, identitas Iran terbangun dari bahasa, budaya, agama, dan kesadaran historis yang panjang. 

Ia sering dipahami sebagai “civilizational state “-negara yang merasa keberadaannya melampaui batas politik modern. 

Perspektif ini membentuk ketahanan yang tidak semata-mata bersandar pada kekuatan militer konvensional, melainkan pada kohesi sosial dan legitimasi ideologis.

Jika pendekatan Amerika disebut “pungo” karena teatrikal dan menekan secara langsung, maka respons Iran dalam metafora ini dapat disebut “puleh pungo”. 

Dalam pemahaman kultural, “puleh pungo” menggambarkan situasi ketika kelakuan nekat berhadapan dengan pihak lain yang sama sekali tidak gentar - bahkan siap melakukan apa saja untuk melawan kenekatan itu. Ia bukan sekadar reaksi emosional, melainkan eskalasi yang lebih ekstrem dan berlapis.

Kelakuan “pungo” yang seperti itu, ketika menemukan lawannya yang percaya diri dan siap membalas dengan segala instrumen yang dimiliki, berubah menjadi “puleh pungo”. 

Dalam konteks Iran, ini tercermin pada arsitektur pertahanannya: penguatan rudal balistik, konsolidasi jaringan sekutu non-negara di kawasan, serta kemampuan mengganggu jalur energi vital seperti Selat Hormuz. 

Strategi ini tidak bertujuan memenangkan perang konvensional secara frontal, melainkan memperluas biaya konflik sehingga menjadi sangat mahal bagi siapa pun yang memulainya.

Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai “perisai puleh pungo” - kartu truf strategis Iran. 

Jika Washington benar-benar berani memulai aksi militer besar terhadap Teheran, konsekuensinya hampir pasti tidak akan berhenti pada satu front. 

Konflik itu berpotensi menjelma menjadi perang kawasan yang meluas di seluruh Timur Tengah. 

Iran tidak hanya akan berhadapan dengan Amerika Serikat, tetapi kemungkinan juga dengan Israel serta negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, bahkan Kuwait - baik secara langsung maupun melalui dinamika aliansi keamanan yang sudah ada.

Jaringan pangkalan militer, perjanjian pertahanan, dan kedekatan geografis membuat setiap eskalasi berisiko memicu respons berantai. 

Selat Hormuz, salah satu urat nadi perdagangan energi dunia, dapat berubah dari jalur logistik menjadi titik tekan strategis. 

Gangguan terhadapnya saja cukup untuk mengguncang pasar global, menaikkan harga energi, dan memicu ketidakstabilan ekonomi di berbagai benua. 

Dalam situasi seperti itu, perang tidak lagi menjadi persoalan dua negara, melainkan persoalan sistem internasional.

Inilah yang dimaksud dengan regionalisasi konflik - sebuah eskalasi di mana batas-batas geografis dan politik menjadi kabur. 

Satu serangan dapat memicu balasan di tempat lain. 

Satu tekanan dapat memantik front baru. 

Dalam skenario seperti itu, pengendalian eskalasi bukan lagi sekadar soal kehendak politik, melainkan soal kemampuan riil untuk menghentikan api yang sudah menyebar.

Kesadaran akan risiko inilah yang membuat sebagian sekutu Amerika di kawasan tidak serta-merta mengatakan “ya” pada langkah konfrontatif. 

Mereka memahami bahwa memulai mungkin terlihat tegas, tetapi mengakhiri adalah perkara yang jauh lebih mahal. 

Stabilitas domestik, keamanan energi, dan keberlangsungan ekonomi mereka sendiri menjadi taruhan. 

Ketika risiko perang regional begitu besar, kalkulasi rasional sering kali mengalahkan dorongan retorika.

Ketika Pungo Bertemu Puleh Pungo

Pada akhirnya, konflik AS - Iran lebih menyerupai pertunjukan psikologis daripada duel terbuka. 

Metafora “pungo” versus “puleh pungo” membantu menjelaskan dinamika tersebut tanpa harus memahaminya secara harfiah. 

Ia menggambarkan pertemuan antara kenekatan demonstratif dan kesiapan menghadapi eskalasi ekstrem. 

Satu pihak menonjolkan superioritas material dan efek dramatis; pihak lain menekankan ketahanan historis dan kesiapan memperluas medan konflik.

Kemungkinan besar, tujuan akhir bukanlah kehancuran total, melainkan negosiasi ulang posisi tawar. 

Amerika Serikat ingin memastikan kepentingan strategisnya terlindungi. 

Iran ingin mempertahankan kedaulatan dan pengaruh regionalnya. 

Ketegangan menjadi alat untuk membentuk hasil akhir yang lebih menguntungkan masing-masing pihak.

Namun dunia harus memahami satu hal: ketika “pungo” bertemu dengan “puleh pungo”, risiko terbesar bukanlah siapa yang terlihat paling berani, melainkan seberapa jauh api konflik dapat menjalar. 

Dan dalam geopolitik Timur Tengah, sekali bara menyala, memadamkannya sering kali jauh lebih sulit daripada menyalakannya.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.