Pengamat Kebijakan Publik Unila Nilai Konsep Koperasi Suplai Bahan Baku MBG Itu Bagus
Robertus Didik Budiawan Cahyono February 26, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Lampung (Unila) Dedy Hermawan menilai konsep Koperasi Merah Putih menyuplai bahan baku lokal untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu bagus.

Karena koperasi tersebut, lanjut dia, nantinya bisa menjadi satu institusi yang akan menggerakkan roda ekonomi masyarakat. "Dampaknya bisa sangat bagus dalam jangka panjang," ujar Dedy, Kamis (26/2/2026).

Dedy mengatakan, secara filosofi koperasi merupakan soko guru (penopang utama) perekonomian yang seharusnya mampu menjadi motor penggerak ekonomi di tingkat desa. Termasuk melalui kolaborasi dengan program MBG.

Namun, menurut dia, potensi besar Koperasi Merah Putih menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola secara profesional dan solid.

Dia mengingatkan agar pemerintah tidak mengulangi kegagalan program-program desa terdahulu. Seperti beberapa kasus pada Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang dinilai sangat minim dampaknya bagi masyarakat desa.

Baca juga: Akademisi Unila Sebut Publik Tak Paham Dapur MBG Hanya Bisa Beli Barang dari Koperasi

Dedy menyoroti fenomena 'mati suri' di mana lembaga ekonomi desa hanya aktif saat ada kucuran dana atau program pemerintah. Namun kehilangan taji saat program tersebut berakhir.

"Jangan sampai Koperasi Desa Merah Putih ini berada dalam bayang-bayang masa lalu yang kurang bagus. Kita banyak catatan buruk soal program-program seperti ini," tegas Dosen FISIP Unila tersebut.

Ia menyarankan agar rekrutmen pengurus koperasi dilakukan secara transparan dengan melibatkan orang-orang yang kompeten di bidangnya. Seperti ahli pertanian dan konsultan keuangan, bukan sekadar asal pilih.

"Yang lebih penting adalah membangun tim yang kuat. Sarana prasarana penting, tapi kita tahu banyak juga kantor-kantor mangkrak karena tidak dikelola orang yang punya integritas dan visi yang jelas," tambah Dedy.

Dedy juga mewanti-wanti adanya potensi penyimpangan atau kolusi dari pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan pribadi dari program besar ini.

Ia merujuk pada beberapa kritik terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan yang mulai muncul. Mulai dari masalah deviasi hingga kasus keracunan.

"Jangan sampai nasibnya sama kayak program MBG yang lagi banyak dikritik karena banyak biasnya. Ada pihak tertentu mengambil keuntungan, kolusi macam-macam, sehingga terjadi penyimpangan," katanya mengingatkan.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa keberhasilan Kopdes Merah Putih akan sangat bergantung keseriusan pemerintah pusat hingga daerah dalam melakukan pengawalan.

Menurutnya, integritas manajemen menjadi harga mati agar target menciptakan lapangan kerja baru dan peningkatan kesejahteraan warga desa di Lampung tidak hanya menjadi slogan di atas kertas.

"Orangnya, pola kerjanya, ini yang harus benar-benar dijaga. Kalau sarana prasarana ya penting juga, tapi kan kita tahu banyak juga kantor-kantor mangkrak gitu kan, karena tidak dikelola dengan orang yang punya integritas, punya visi, punya kompetensi profesional," tegasnya.

Dia memastikan, yang lebih penting adalah membangun tim yang kuat di dalam Koperasi Desa Merah Putih sehingga bisa menjalankan misi utamanya. Yaitu menggerakkan roda ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, ekonomi desa bertumbuh, kesejahteraan masyarakat juga meningkat.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.