TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Bagi drg Novalia Karolisa Br Gurusinga, klinik gigi bukan sekadar tempat pasien datang ketika rasa nyeri sudah tak tertahankan.
Di Meitaarsa Dentalcare, klinik yang kini ia jalankan di Kota Tanjung Balai, perempuan yang akrab disapa drg Nova itu ingin menghadirkan ruang yang membuat pasien merasa aman sekaligus memahami pentingnya kesehatan gigi sejak dini.
Di ruang praktiknya, Nova tidak langsung berbicara soal tindakan medis. Ia lebih dulu mengajak pasien berdiskusi tentang kebiasaan sehari-hari, pola makan, hingga cara merawat gigi di rumah.
Baginya, perawatan gigi seharusnya dimulai dari pemahaman, bukan sekadar tindakan ketika rasa sakit muncul.
Mengabdi di Pelosok Negeri
Konsep pelayanan tersebut lahir dari pengalaman pengabdiannya saat mengikuti program Nusantara Sehat di daerah pelosok dengan akses yang sangat sulit.
Bertugas di wilayah terpencil Indonesia tepatnya di Desa Catur Tunggal, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, mengubah cara pandangnya terhadap profesi yang ia jalani.
“Yang paling mengubah cara saya melihat profesi dokter gigi adalah ketika saya mengabdi di daerah pelosok dengan akses yang sangat sulit. Saat itu saya sadar, dokter gigi bukan hanya soal tambal dan cabut gigi, tapi tentang menghadirkan harapan. Di tempat yang jauh dari fasilitas kesehatan, kehadiran kita sangat berarti. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan,” ujarnya.
Selama bertugas, Nova mendapati banyak masyarakat datang dalam kondisi gigi yang sudah parah akibat kurangnya pemahaman tentang kesehatan mulut.
Minimnya edukasi membuat masalah kecil berkembang menjadi infeksi serius yang bahkan berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya keterbatasan fasilitas kesehatan, tetapi juga cara pandang masyarakat terhadap perawatan gigi.
“Banyak yang menganggap ke dokter gigi hanya saat sakit saja. Padahal perawatan gigi itu preventif. Sakit gigi bukan hal sepele, dan kesehatan mulut sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Edukasi masih menjadi tantangan terbesar,” jelasnya.
Pengabdian di pelosok juga mengubah pendekatannya dalam melayani pasien. Jika sebelumnya ia lebih fokus pada tindakan klinis, kini ia lebih banyak mendengar dan memahami latar belakang setiap pasien.
“Sebelum mengabdi, mungkin saya lebih fokus pada tindakan klinis. Setelah melewati pengalaman di pelosok, saya jadi lebih sabar, lebih banyak mendengar, dan lebih menghargai kondisi sosial pasien. Saya belajar bahwa setiap pasien punya cerita dan keterbatasan masing-masing,” katanya.
Pendekatan tersebut kini menjadi prinsip utama pelayanan di Meitaarsa Dentalcare. Setiap pasien tidak hanya mendapatkan tindakan medis, tetapi juga penjelasan menyeluruh mengenai kondisi gigi serta langkah pencegahan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
Kesalahan Umum dalam Perawatan Gigi yang Masih Sering Terjadi
Dalam praktik sehari-hari, Nova melihat pola yang hampir sama pada banyak pasien yang datang berobat.
Baik di daerah pelosok maupun di kota kecil seperti Tanjung Balai, persoalan kesehatan gigi sering kali berakar dari kebiasaan dan pemahaman yang kurang tepat.
Menurutnya, kesalahan paling umum adalah kebiasaan datang ke dokter gigi hanya ketika rasa sakit sudah muncul.
Banyak orang menunda pemeriksaan hingga nyeri tidak lagi tertahankan, padahal kontrol rutin setiap enam bulan sekali dapat mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Selain itu, masih banyak masyarakat yang menganggap sakit gigi sebagai keluhan sepele. Padahal infeksi pada gigi dan gusi dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan jika tidak segera ditangani dengan tepat.
Tidak jarang pasien datang ketika kondisi sudah cukup berat, sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Kesalahan lain yang kerap ditemui adalah kurangnya pemahaman tentang cara menyikat gigi yang benar. Banyak orang merasa sudah menjaga kebersihan gigi, namun belum memahami teknik, durasi, serta waktu menyikat gigi yang tepat sehingga kebersihan mulut tidak optimal.
Rasa takut berlebihan terhadap dokter gigi juga masih menjadi hambatan besar. Menurut Nova, ketakutan tersebut sering muncul akibat pengalaman masa lalu atau informasi yang keliru, padahal perkembangan teknologi perawatan gigi saat ini membuat tindakan medis jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.
Ia pun berupaya menciptakan suasana klinik yang lebih ramah, terutama bagi anak-anak yang kerap merasa takut berobat. Pengalaman pertama yang positif, menurutnya, dapat membentuk kebiasaan menjaga kesehatan gigi hingga dewasa.
Pengabdian yang ia jalani tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap profesi, tetapi juga membentuk dirinya secara pribadi.
“Sangat mengubah. Saya jadi lebih bersyukur, lebih kuat secara mental, dan lebih peka terhadap kondisi orang lain. Pengabdian itu bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang belajar menerima dan memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda,” ungkapnya.
Kini, makna sukses pun ia definisikan secara berbeda dibandingkan masa awal kariernya.
“Dulu mungkin sukses adalah pencapaian karier. Hari ini, sukses bagi saya adalah ketika saya bisa bermanfaat untuk orang lain, tetap menjaga integritas, dan pulang ke rumah dengan hati yang tenang karena sudah bekerja dengan sepenuh hati,” tuturnya.
Melalui Meitaarsa Dentalcare di Tanjung Balai, Nova berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan gigi bukan hanya soal estetika, tetapi bagian penting dari kualitas hidup. Ia juga berpesan kepada perempuan muda agar tidak takut menjalani proses, meski jalan menuju mimpi sering kali tidak mudah.
Baginya, setiap pengalaman termasuk masa-masa sulit selalu membawa pelajaran yang membentuk kekuatan baru. Selama ia masih bisa memberi manfaat bagi orang lain, di situlah ia merasa panggilan profesinya tetap hidup.
(cr26/tribun-medan.com)