TRIBUNKALTARA.COM - Selepas tersingkir dari Liga Champions, tiga pukulan berat mengintai Juventus, Bianconeri dalam masalah serius.
Kekecewaan besar menghampiri Juventus setelah terhenti di babak playoff Liga Champions 2025/2026.
Klub berjulukan Bianconeri itu kalah agregat 5-7 dari Galatasaray, meski sempat menang 3-2 pada leg kedua, Kamis (26/2/2026).
Hasil tersebut bukan sekadar kegagalan prestasi, tetapi juga memicu serangkaian dampak serius bagi Juventus.
Tersingkirnya Juventus lebih awal dari kompetisi elite Eropa langsung menyeret klub ke dalam masalah besar, baik dari sisi finansial, peluang masa depan di Eropa, hingga kondisi psikologis tim.
Berikut tiga dampak serius yang mengintai Bianconeri usai tersingkir di Liga Champions:
1. Kerugian Finansial Besar dan Tekanan Anggaran
Eliminasi dini di Liga Champions membuat Juventus kehilangan potensi pemasukan signifikan dari hadiah UEFA, hak siar lanjutan, serta pendapatan matchday babak gugur.
Padahal, pendapatan dari UCL sangat krusial untuk menutup biaya operasional Bianconeri yang tinggi, mulai dari gaji pemain hingga belanja transfer.
Meskipun musim lalu juga terhenti di fase playoff Liga Champions, Juventus tetap mampu menekan kerugian berkat pemasukan yang cukup dan kompetisi Piala Dunia Antarklub.
Tetapi musim ini situasinya berbeda, kembali tersisih di playoff membuat Bianconeri kehilangan peluang meraup tambahan puluhan juta euro, termasuk bonus lolos ke babak 16 besar.
Akibatnya, kondisi keuangan klub kembali tertekan.
Baca juga: Hasil Drawing 16 besar Liga Champions, Aroma Dendam Real Madrid vs Man City dan PSG vs Chelsea
Target menuju keseimbangan finansial terancam mundur, dan Juventus berpotensi harus menerapkan penghematan ketat atau menjual pemain bintang demi menutup lubang keuangan.
2. Peluang Lolos UCL Musim Depan Semakin Berat
Kegagalan di Eropa juga berdampak langsung pada posisi Juventus musim depan.
Italia sedang berjuang menjaga koefisien UEFA, dan tersingkirnya Juventus, Inter Milan, dan Napoli, memaksa Serie A kehilangan poin penting.
Bagi Juventus sendiri, situasi ini memperbesar tekanan di kompetisi domestik.
Anak asuh Luciano Spalletti itu sekarang wajib finish di 3 besar Serie A untuk mengamankan tiket Liga Champions musim depan.
Jika gagal, Juventus berisiko kembali absen dari kompetisi elite Eropa, sebuah skenario yang bisa memperpanjang krisis finansial dan prestasi klub.
Tanpa Liga Champions, pemasukan menurun drastis dan daya tarik klub di bursa transfer pun ikut tergerus.
Saat ini Juventus menduduki posisi 5 klasemen sementara Liga Italia dengan koleksi 46 poin.
Posisi tersebut adalah zona Europa League, dan Bianconeri tertinggal 4 poin dari peringkat tiga.
Jika tidak mampu bereaksi bagus di Serie A, posisi Juventus rawan tergelincir.
Apalagi dua tim di bawahnya, yakni Como dan Atalanta cuma tertinggal satu poin dari Kenan Yildiz dkk.
3. Tekanan Mental dan Reputasi yang Terus Menurun
Dari sisi psikologis, tersingkirnya Juventus meninggalkan luka mendalam bagi pemain, pelatih, dan fans.
Meski mendapat apresiasi dari suporter setelah perjuangan di leg kedua yang luar biasa, kekecewaan tetap tak terhindarkan.
Kapten tim, Manuel Locatelli bahkan mengakui timnya sangat terpukul karena kegagalan itu terasa begitu dekat.
Eliminasi ini juga memperpanjang catatan buruk Juventus di Liga Champions.
Klub yang mengoleksi 3 bintang Scudetto ini menunjukkan inkonsistensi di Liga Champions dalam 6 musim terakhir.
Musim 2021/22, Bianconeri tersingkir di babak 16 besar setelah takluk dari Villarreal.
Lanjut di 2022/23, Bianconeri malah tersingkir di fase grup, pencapaian terburuk Juventus setelah finish di belakang PSG, Benfica, dan Maccabi Haifa).
Baca juga: Alasan Spalletti usai Juventus Dipermalukan Como, Khephren Thuram Marah
Musim 2023/24 paling parah, lantaran Juventus tidak ikut UCL karena finish di luar 4 besar klasemen Serie A.
Sedangkan dalam format baru Liga Champions yang telah berlangsung dua musim terakhir, Juventus terjegal di fase playoff.
Bagi klub dengan sejarah panjang di Eropa, citra ini menjadi pukulan serius.
Tekanan mental tersebut kini menjadi tantangan besar bagi pelatih Luciano Spalletti, yang harus mengangkat kembali kepercayaan diri tim di tengah sorotan tajam.
(*)
TribunKaltara.com / Cornel Dimas Satrio K