Amerika Kebobolan, Rahasia Militer Dijual ke Rusia Seharga jutaan dolar
TRIBUNNEWS.COM - Majalah Newsweek mengungkap detail kasus spionase siber serius yang berujung pada hukuman 7 tahun penjara bagi seorang karyawan perusahaan kontraktor militer Amerika.
Personel perusahaan itu itu terbukti bersalah menjual rahasia keamanan kepada entitas yang terkait dengan Rusia dengan imbalan 4 juta dolar AS atau senilai Rp 67,1 miliar dalam mata uang kripto.
Baca juga: Ledakan Magnitudo 2,75 di Kazakhstan, AS Tuding China Dibantu Rusia Uji Coba Nuklir Terbaru
Perangkat-perangkat ini seharusnya tetap menjadi domain eksklusif pemerintah AS dan sekutunya.
Investigasi mengungkapkan kalau Williams memanfaatkan posisinya di Trenchant untuk membocorkan delapan alat teknologi canggih dengan imbalan jutaan dolar dalam mata uang kripto, selama periode lebih dari tiga tahun.
Meskipun mengetahui kalau aksinya merupakan ancaman terhadap keamanan nasional AS dengan sanksi berat, dan bahkan saat ia tahu sedang diselidiki oleh Biro Investigasi Federal (FBI), Williams terus menjual materi-materi tersebut, menggunakan hasilnya untuk membeli mobil mewah, real estat, dan perhiasan.
Mengomentari keseriusan insiden tersebut, Jaksa Agung AS Jeanine Pirro menegaskan kalau perangkat-perangkat ini memungkinkan Rusia untuk meretas jutaan perangkat digital.
Hukuman ke Williams tersebut, katanya, mempertimbangkan bahwa "kejahatan tersebut telah melampaui batas pencurian dan menjadi ancaman langsung terhadap keamanan nasional."
Sementara itu, Agen Khusus FBI Jimmy Paul mencatat bahwa perilaku Williams menyebabkan "kerusakan dan kerugian yang signifikan bagi majikan, pemerintah AS, dan sekutunya."
Dengan pengakuan terdakwa bahwa tindakannya telah merugikan perusahaan kontraktor sekitar 35 juta dolar, Roman Rozhavski, asisten direktur divisi kontra intelijen FBI, menganggap putusan tersebut sebagai "peringatan yang jelas bagi siapa pun yang mengutamakan keserakahan pribadi daripada loyalitas kepada negara."
Dalam beberapa tahun terakhir Amerika Serikat secara konsisten menuduh Rusia melakukan operasi peretasan terhadap lembaga-lembaga Amerika, dan telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi sistem keamanannya.
Departemen Kehakiman AS mengumumkan pada Mei 2023 bahwa mereka telah menemukan lima serangan siber yang melibatkan penggunaan teknologi berbahaya di berbagai wilayah negara tersebut.
Dalam pernyataan singkatnya saat itu, kementerian tersebut mengatakan bahwa mereka telah membongkar jaringan yang dibentuk untuk membantu Rusia memperoleh teknologi sensitif.
Pernyataan itu menambahkan bahwa mereka telah mendakwa seorang warga negara Tiongkok karena memasok Iran dengan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rudal balistik dan senjata pemusnah massal.
Seorang warga negara Rusia yang tinggal di Amerika juga didakwa menggunakan ransomware untuk menyerang para korban di seluruh negeri.
Tahun lalu terjadi peningkatan signifikan dalam tingkat serangan siber, melebihi 100 persen di beberapa sektor, menurut statistik dari perusahaan keamanan Checkpoint.