BANJARMASINPOST CO.ID, BANJARBARU - Atlet voli putri Banjarbaru tetap menjaga intensitas latihan meski tengah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Mereka terlihat menjalani sesi angkat beban di kawasan Jalan Sapta Marga, Kota Banjarbaru, Jumat (27/2/2026) sore.
Empat atlet tampak mengikuti latihan dengan penuh konsentrasi. Sesi diawali dengan doa bersama, dilanjutkan stretching untuk meregangkan otot, lalu jogging ringan dua putaran sebagai pemanasan sebelum masuk ke latihan inti.
Pelatih Voli Juragan Travel, Jihandoyo mengatakan, program latihan yang diberikan tidak sekadar angkat beban biasa.
“Power max atau power maksimum, kemudian speed endurance, dan plyometric isometric. Dengan power max kita mengetahui dulu kemampuan otot anak-anak masing-masing,” ujar Jihandoyo di sela latihan.
Menurutnya, kekuatan otot menjadi fondasi utama sebelum melatih kecepatan. Kombinasi keduanya akan menghasilkan daya ledak yang sangat dibutuhkan dalam permainan voli.
“Kemudian dengan kekuatan itu kita latihkan kecepatan. Agar apa, dengan rumus kalau terjadinya ledakan itu kekuatan ditambah kecepatan sama dengan ledakan. Sebenarnya itu lah,” jelasnya.
Selain itu, latihan plyometric dan isometric diberikan untuk menjaga massa otot dan kelenturan tubuh atlet. Program ini dinilai penting agar kemampuan fisik yang sudah dimiliki tidak menurun, terlebih selama bulan puasa.
“Untuk plyometric, isometric, untuk menjaga massa otot, kelenturan. Jadi tidak sampai apa yang sudah dimiliki oleh anak-anak itu hilang. Jadi ini harus terus dilakukan,” tegasnya.
Jihandoyo bahkan menekankan latihan beban bukan hanya penting bagi atlet muda, tetapi juga bermanfaat hingga usia lanjut.
“Sampai tua pun sebenarnya latihan beban itu bagus banget. Untuk menjaga massa otot. Karena semakin bertambah usia, otot kita semakin mengecil. Harus dirawat, dijaga,” katanya.
Terkait frekuensi latihan, ia menjelaskan dalam kondisi normal program Juragan Travel (JT) dilakukan tiga kali dalam sepekan. Namun selama Ramadan, intensitas disesuaikan agar kondisi atlet tetap terjaga.
“Sebenarnya program JT itu seminggu tiga kali. Cuma karena ini mereka puasa, saya isi dengan kebugaran, tidak hanya melulu di beban. Tapi kita main dengan resistance band, seperti itu karet, kita seling-seling,” ungkapnya.
Penggunaan resistance band bertujuan menjaga massa otot sekaligus mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas tubuh atlet tanpa memberikan beban berlebihan saat berpuasa.
Di akhir sesi, Jihandoyo menyampaikan pesan khusus kepada para atletnya yang tengah berproses mengejar prestasi.
“Yang pasti mereka ini kan sedang berproses. Saya selalu sampaikan, kamu tidak harus hebat untuk memulai, tapi harus memulai untuk menjadi hebat,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Andra Ramadhan)