3 Bulan Keluhan Perbaikan Tak Ditanggapi, Warga Swadaya Perbaiki Jembatan Vital Jalur Akses 14 Desa
Ignatia Andra February 28, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Jembatan vital yang menjadi akses 14 desa di Aman Gawa, Bener Meriah Aceh, rusak setelah dihantam bencana banjir dan longsor beberapa waktu lalu.

Sebanyak 14 Kampung di Kecamatan Mesidah mengandalkan jembatan darurat sebagai penunjang hidup sehari-hari.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pokok warga jelas Aman Gawa, setiap hari jembatan darurat juga dilintasi ratusan petani untuk mengangkut hasil panen.

Sudah tiga bulan keluhan dikirim ke pemerintah daerah, ternyata tak ada sedikitpun tanggapan dan tindak lanjut terhadap kondisi jembatan.

Warga mulai khawatir

"Ini kan sudah mulai panen kopi sedikit-sedikit, kalau nanti mulai panen raya bagaimana, kalau terlalu banyak sepeda motor bermuatan berat lewat, bisa-bisa jembatan darurat itu roboh. Sekarang saja sudah mulai renggang dan rapuh. Kalau jembatan darurat itu rusak lagi, bagaimana nasib kami," keluhnya.

Adapun dari 14 desa, ada beberapa desa sangat bergantung pada jembatan Wih Kanis, yaitu desa-desa yang masuk wilayah kemukiman Tungku Tige.

Selebihnya, dapat mengakses jalan alternatif melalui rute jalan Pondok Baru - Samar Kilang.

Kendatipun tersedia jalur lain, namun jalur jembatan Wih Kanis tetap menjadi pilihan utama warga, hal tersebut disebabkan lamanya waktu perjalanan jika harus melewati jalur alternatif, bahkan bisa memakan waktu satu hingga dua jam perjalanan.

Baca juga: Respons Pemkab Atas Aksi Swadaya Warga Perbaiki Jalan Hasil Patungan & Live TikTok: Perlu Koordinasi

Warga Berencana Perbaiki Jembatan Secara Swadaya

Bila tidak kunjung diperbaiki Pemerintah, warga berinisiatif memperbaiki kembali jembatan secara swadaya. Sebagian besar warga telah sepakat mengumpulkan dana secara patungan.

Mengingat jembatan tersebut saat ini sudah mulai rusak dan sering menyebabkan kecelakaan tunggal.

"Disini sudah beberapa kali terjadi kecelakaan, jangan tunggu dulu memakan nyawa baru di perbaiki. Sudah tiga bulan berlalu. Itu bambu tidak tahan lama, kalau tetap tidak diperbaiki, gawat kan," ujar warga lainnya.

Sebelumnya ia dan warga lainnya sudah melaporkan jembatan tersebut ke Pemerintah setempat agar secepatnya diperbaiki, namun sampai saat ini belum ada tindakan nyata.

"Mereka (Pemerintah) saat kami melapor selalu menjawab Iya permintaan kami, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Katanya satu-satu dulu diperbaiki. Tapi nyatanya, warga lainpun ada yang swadaya, itu contohnya jalan Weh Ni Pase, swadaya juga kan," pungkasnya.

Baca juga: Menjelang Setengah Abad, Boncafe Surabaya Bersolek: Hadirkan Wajah Baru dan Museum Kenangan

Tiga bulan pasca bencana banjir dan longsor menerjang Kabupaten Bener Meriah, warga di Kecamatan Mesidah masih mengandalkan jembatan darurat berbahan bambu untuk melintasi sungai Wih Kanis yang beraliran deras.

Kini jembatan yang hanya dapat dilalui sepeda motor tersebut tiap harinya dilintasi ribuan masyarakat tanpa peduli resiko.

Jembatan yang mulai renggang dan rapuh mengancam nyawa pengendara sepeda motor atau pejalan kaki.

"Iya, sekarang jembatan ini satu-satunya akses yang dipilih warga untuk melintas. Yang lewat beragam ya, ada petani, tenaga kesehatan, pegawai kecamatan, banyaklah pokoknya," kata Aman Gawa, seorang warga saat ditemui Kompas.com, Jumat (27/2/2026).

Menurut Aman Gawa, jembatan berbahan bambu itu dibangun secara swadaya oleh warga pasca bencana longsor dan banjir bandang melanda wilayah tersebut, inisiatif tersebut lahir saat warga terisolasi akibat rusaknya jembatan permanen.

Selain itu, Kecamatan Mesidah merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah saat bencana melanda Kabupaten setempat.

Bangun gondola

Warga di Indonesia memang tak pernah kehilangan akal dan ide untuk memperlancar kegiatan sehari-hari karena sudah lelah keluhan ke pemerintah tak ditanggapi.

Tak hanya sedikit kasus keluhan warga terhadap fasilitas umum selalu diabaikan oleh pemerintah daerah maupun pusat.

2 Januari 2026 silam banjir di sungai Jabak, Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jatim menghanyutkan jembatan penghubung ke Trenggalek.

Hal itu membuat warga harus memutar otak. Bagaimana tidak, jembatan yang menghubungkan Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo ke Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek itu merupakan akses utama warga untuk sekolah, berobat hingga bekerja.

Bantuan yang tak kunjung datang, membuat warga memilih jalan swadaya. Dengan dana seadanya,  terbangunlah kereta gantung sederhana:

Gondola darurat menjadi saksi bagaimana warga gotong royong agar tetap sekolah, berobat maupun bekerja.

Baca juga: Siswa Pelosok Ponorogo Seberangi Sungai Naik Gondola Kayu Demi Sekolah, Bayar Seikhlasnya

Hasil Swadaya Warga

Alat sederhana itu dibangun bukan oleh kontraktor, melainkan dari uang receh hasil keringat warga sendiri.

“Swadaya bukan cerita baru sebenarnya,” ungkap Suyanto, pengelola kereta gantung darurat kepada wartawan di lokasi, Minggu (15/2/2026).

Dia mengisahkan pada 2010 lalu, warga Dusun setempat sepakat menyisihkan penghasilan dari bertani porang dan bekerja di luar daerah demi membangun jembatan penghubung antarwilayah.

“Awalnya hanya jembatan dari anyaman bambu. Sedikit demi sedikit kami kumpulkan uang. Sampai 2014 akhirnya berdiri jembatan beton. Total dana swadaya waktu itu sekitar Rp300 juta,” urainya.

Hanya saja, dana yang minim membuat jembatan tersebut tak pernah benar-benar kuat. Berkali-kali ambrol, lalu ditambal seadanya menggunakan balok kayu jati. 

Baca juga: Jatim Terpopuler: SMKN 2 Ponorogo Dibobol Maling hingga Angin Kencang Terjang Ngawi

Hingga 2 Januari 2026, tahun baru bagi sebagian orang menata kehidupan. Warga Desa Gedangan harus menerima kenyataan bahwa jembatan itu runtuh lagi—kali ini memutus akses warga selama hampir sepekan.

Tak ada alat berat. Tak ada proyek darurat. Tak ada kepastian kapan jembatan dibangun ulang.

“Kami kembali patungan. Terkumpul sekitar Rp10 juta untuk membangun kereta gantung darurat,”’kisahnya.

Resiko Bertaruh Nyawa

Alhasil, warga bisa menyebrang namun dengan bertaruh nyawa menggunakan jembatan gantung sederhana. Anak sekolah, buruh, petani, hingga warga sakit terpaksa melintas dengan risiko jatuh setiap saat.

“Akses pendidikan dan layanan kesehatan otomatis terganggu. Kondisi ini sudah kami laporkan ke pemerintah,  tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” urainya,.

Kepala Dusun Purworejo, Sumarno, menyebut sedikitnya 750 warga terdampak langsung akibat ambrolnya jembatan tersebut.

Dampaknya merembet ke semua sektor kehidupan.

"Ini akses tercepat untuk sampai ke Kabupaten Trenggalek. Ada jalan lain tapi kelilingnya 20 kilometer,” tambahnya.

Dia berharap untuk bantuan dari Pemkab Ponorogo. “Semoga segera dibangunkan jembatan yang mumpuni,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.