SURYA.CO.ID - Pernyataan alumnus penerima beasiswa (awardee) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas, menuai kritik keras dari sejarawan, Prof Anhar Gonggong.
Melalui tayangan di Youtube pribadinya yang diakses SURYA.CO.ID, Sabtu (28/2/2026), Anhar bahkan meminta pemerintah bertindak tegas dengan mencabut status kewarganegaraan Tyas dan suaminya, Arya Iwantoro.
Hal ini merupakan imbas dari pernyataan Tyas yang menyebut cukup dia saja yang warga negara Indonesia (WNI), anak-anaknya jangan.
Apa alasannya Prof Anhar Gonggong minta kewarganegaraan Tyas dan Arya?
Anhar mengungkapkan kekecewaannya dalam video yang diunggah di akun Youtube-nya.
Baca juga: Sosok Prof Anhar Gonggong, Sejarawan yang Minta Status WNI Dwi Sasetyaningtyas dan Suami Dicabut
"Tapi yang betul-betul saya tersinggung sebagai warga negara, semacam penghinaan seakan-akan negara ini tidak punya apa-apa dibanding dengan Inggris."
"Karena negara ini, negara yang tidak memberikan masa depan, biar saya sendiri saja yang warga negara."
"Padahal, dia mendapatkan posisi dengan itu dengan biaya dari Republik Indonesia. Jadi terbalik pikirannya gitu sebagai dia orang pintar tapi yang bodoh. Orang pintar yang bodoh," katanya.
Anhar menambahkan, perilaku Dwi menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara.
"Dia tidak sadar bahwa memperoleh kesempatan tinggal di Inggris sekarang itu karena Republik Indonesia yang memberikan biaya pada dia."
"Artinya apa? saya meminta pemerintah pecat aja dia sebagai warga negara. Orang seperti ini kita tidak butuhkan."
"Orang yang sok pintar, yang bahkan pintarnya tapi bodoh sebagai warga negara republik indonesia lebih baik dipecat aja lah."
"Memalukan malah. Betul, dalam arti kata mempermalukan kepada negara bangsa Indonesia seakan bangsa Indonesia ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan Inggris," jelasnya.
Sejarawan dan akademikus itu menekankan pentingnya loyalitas bagi penerima beasiswa negara.
"Saya meminta sebagai warga negara yang mencintai republik ini, minta agar supaya orang ini dipecat saja sebagai warga negara."
"Artinya, kewarganegaraannya sekalian dibuang aja dua-duanya suami istri. Kami tidak butuh orang ini kok sepintar apapun kami tidak butuh."
"Kami butuh orang-orang pintar yang pintar dan mau berbuat baik bagi bangsa dan negara apalagi kalau dia, mendapatkan posisinya itu dengan biaya negara Republik Indonesia," jelasnya.
Anhar Gonggong lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 14 Agustus 1943.
Ia tumbuh di tengah pergolakan sejarah bangsa.
Ayahnya menjadi korban pembantaian Westerling, sebuah peristiwa kelam yang menorehkan luka mendalam bagi keluarganya.
Pengalaman traumatis ini menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar pada sejarah, terutama mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah menimpa bangsanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Anhar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada, kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Leiden, Belanda.
Pendidikan formal ini membekali Anhar dengan pengetahuan sejarah yang mendalam serta kemampuan menganalisis sumber-sumber sejarah secara kritis.
Sepulang dari Belanda, Anhar aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta.
Ia juga menjabat sebagai peneliti di Pusat Penelitian Sejarah dan Antropologi.
Sebagai seorang akademisi, Anhar telah menghasilkan sejumlah karya tulis ilmiah yang membahas berbagai aspek sejarah Indonesia, mulai dari sejarah politik, sosial, hingga budaya.
Sebagai seorang sejarawan, ia dikenal sebagai sosok kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya.
Ia tidak segan-segan mengoreksi kesalahan sejarah yang telah beredar luas di masyarakat.
Salah satu contohnya adalah ketika ia meluruskan kesalahan mengenai perancang lambang negara Indonesia.
Anhar juga kerap memberikan pandangan kritis terhadap berbagai isu kontemporer yang berkaitan dengan sejarah.
Ia seringkali menjadi narasumber dalam berbagai diskusi dan seminar tentang sejarah. Melalui tulisan dan ceramahnya, Anhar berupaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mempelajari sejarah.
Selain sebagai akademisi, Anhar juga pernah menjabat sebagai birokrat.
Pengalamannya sebagai birokrat memberikannya perspektif yang lebih luas tentang permasalahan bangsa. Ia kerap menyuarakan pentingnya peran sejarah dalam membangun bangsa.
Anhar Gonggong memiliki pandangan yang mendalam tentang Pancasila.
Ia menegaskan bahwa Pancasila bukanlah ideologi tunggal milik Soekarno, melainkan hasil dari pemikiran kolektif berbagai tokoh bangsa, terutama dari kalangan Islam.
Anhar tidak segan-segan mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.
Ia juga kerap menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang berintegritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Anhar Gonggong telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia sejarah Indonesia.
Karya-karyanya menjadi rujukan bagi para peneliti dan mahasiswa sejarah.
Selain itu, pemikiran-pemikiran kritisnya juga menginspirasi banyak orang untuk terus menggali dan mempelajari sejarah bangsa.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung