Komandan IRGC Iran Diklaim Tewas Seusai Serangan Rudal AS dan Israel ke Teheran
Noval Andriansyah February 28, 2026 09:36 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour, diklaim tewas akibat serangan rudal brutal yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Serangan rudal yang dilakukan secara massif tersebut terjadi pada pada Sabtu (28/2/2026).

Klaim tewasnya Komandan IRGC, Jenderal Mohammad Pakpour, itu, diumumkan media Israel, Times of Israel.

Media menyebut informasi tersebut diterima dari salah seorang pejabat Israel.

"Pejabat Israel meyakini bahwa Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Jenderal Mohammad Pakpour, tewas dalam serangan pagi ini di Iran," tulis Times of Israel.

Baca juga: Kondisi Terkini WNI Seusai Iran Dibombardir Rudal AS dan Israel

Pejabat Israel itu juga mengklaim bahwa Kepala Intelijen IRGC, Majid Khadami, turut tewas dalam serangan tersebut.

Namun, belum ada pernyataan resmi dari Iran dan militer Israel terkait klaim dari pejabat tersebut.

Di sisi lain, pejabat Israel tersebut juga mengatakan bahwa Panglima Tertinggi Angkatan Darat Iran, Jenderal Amir Hatami turut tewas dalam serangan Zionis dan AS.

Hanya saja, klaim tersebut langsung dibantah oleh Iran.

Dikutip dari Tasnim, Kantor Pers Angkatan Darat Iran menyatakan sang jenderal masih menjalankan tugasnya pasca serangan AS dan Israel.

“Amir Hatami masih hidup dan terus menjalankan tugasnya,” ungkap Kantor Pers Angkatan Darat Iran.

Militer Iran pun meminta masyarakat tidak mempercayai segala rumor yang beredar dan mengimbau untuk mengandalkan informasi resmi dari pemerintah.

Sementara, media pemerintah Iran juga menginformasikan bahwa pejabat tinggi seperti Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, dan Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf, dalam kondisi selamat.

Pasca serangan, Dewan Keamanan Nasional Iran meminta agar warga mengungsi dari Tehran jika memungkinkan dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah.

Selain itu, pemerintah Iran juga telah menutup seluruh aset vital negara seperti bandara, sekolah, dan universitas setelah serangan AS dan Israel dilancarkan.

Namun, pemerintah menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan barang pokok dan obat-obatan karena masih mencukupi.

Trump dan Netanyahu Ungkap Alasan Lakukan Serangan

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu telah mengungkap alasan pihaknya melakukan serangan ke Iran.

Trump menegaskan serangan dilakukan demi melindungi rakyat AS dari rezim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

"Beberapa waktu lalu, militer AS memulai operasi serangan di Iran. Tujuan utama kita yakni melindungi masyarakat AS dengan mengeliminasi ancaman dari rezim Iran," katanya.

Ia mengatakan AS akan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir dan menuduh Teheran berupaya membanun kembali program nuklirnya dan mengembangkan rudal jarak jauh yang mengancam pihaknya dan sekutu.

"Kami akan memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka. Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga ke tanah," tegasnya.

Trump juga mengklaim telah berbicara kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan mendesak para anggotanya untuk menyerah.

"Kalian harus meletakkan senjata. Kalian akan diperlakukan secara adil dengan kekebalan penuh atau kalian akan menghadapi kematian yang pasti," tuturnya.

Di sisi lain, Trump juga sempat memberikan pernyataannya pada Jumat (27/2/2026) kemarin dengan menyatakan tidak puas atas situasi terkini dan kekuatan militer Iran.

Dia ingin agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. Namun, menurutnya negosiasi telah berjalan alot.

"Kami tidak terlalu puas dengan cara mereka (Iran) bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi," ujarnya di Gedung Putih setelah pembicaraan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran, dikutip dari The Guardian.

Trump juga mengatakan pihaknya lebih memilih jalur diplomasi terkait kepemilikan senjata nuklir tersebut.

Namun, dia kembali menegaskan bahwa Iran dilarang untuk memiliki senjata nuklir.

"Akan sangat baik jika mereka bernegosiasi dengan itikad baik dan kesadaran, tetapi sejauh ini mereka belum mencapainya," tuturnya.

Sementara, Netanyahu mengatakan serangan ke Iran dilakukan untuk 'menghilangkan ancaman eksistensial'.

Dalam pernyataan video yang dirilis dikutip dari The Jerusalem Post, Netanyahu berterima kasih kepada Trump 'atas kepemimpinannya yang bersejarah'.

"Saudara dan saudariku, warga Israel, beberapa saat yang lalu, Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris di Iran," kata Netanyahu.

"Aksi gabungan kita akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil kendali atas nasib mereka sendiri," tambahnya.

Netanyahu kemudian menyerukan pergantian rezim di Teheran dan menyerukan rakyat Iran untuk bersatu melawan pemerintah mereka.

"Waktunya telah tiba bagi seluruh rakyat Iran... untuk melepaskan belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai," cetus PM Israel tersebut dalam pernyataan yang ditujukan pada rakyat Iran.

Seruan serupa juga disampaikan Netanyahu saat Israel terlibat perang 12 hari dengan Iran pada Juni 2025 lalu.

Senada dengan Trump, Netanyahu menegaskan Iran tidak diperbolehkan untuk mendapatkan senjata nuklir.

"Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan untuk mempersenjatai diri dengan senjata nuklir yang akan memungkinkan mereka untuk mengancam seluruh umat manusia," tegasnya.

"Bersama kita akan berdiri, bersama kita akan berjuang, dan bersama kita akan memastikan keabadian Israel," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.