Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Disadari atau tidak selama bulan Ramadan berlangsung proses transfer pengetahuan dan ritual dari satu generasi ke generasi berikutnya atau dari orang tua ke anaknya, atau dari Tuan Guru ke jama’ahnya melalui multi saluran yang tersedia selama bulan Ramadan.
Sebagai bulan pendidikan, relatif mudah menemukan proses transfer pengetahuan dan ritual di dalam bulan suci ini, baik yang dilakukan secara mandiri maupun yang terorganisir oleh simpul-simpul kelompok di masyarakat yang menjadikan masjid sebagai basis syiar dan semarak Ramadan.
Ritual yang dimaksud dalam tulisan ini lebih kepada praktik mengisi bulan Ramadan dengan aktivitas-aktivitas khas mengikuti proses ritual ibadah puasa Ramadan seperti ritual membangunkan ibadah sahur, ritual menyemarakkan hari dan malam Ramadan, dan juga tradisi berbuka puasa.
Manusia memang dikenal sebagai makhluk yang senang dengan hal-hal yang simbolik (animal symbolicum) dan biasanya ditampilkan dalam setiap ritual yang diikutinya. Kebiasaan tersebut tidak terlepas dari tradisi ritual yang menjadi habit turun temurun masyarakat Indonesia, mulai dari ritual kelahiran, sunatan, ulang tahun, lamaran, pernikahan, sungkeman, hingga kematian.
Tiga titik tahapan ritual utama seperti kelahiran, hidup, dan kematian menjadi simpul ritual yang selalu terulang oleh animal symbolicum, meskipun dalam perkembangannya ritual-ritual yang ada mengalami perkembangan karena ditambah dengan aksi kreatif masyarakat sesuai perkembangan zaman.
Perkembangan kehidupan manusia yang cepat dengan bantuan teknologi membuat tradisi-tradisi yang muncul belakangan merengsek meninggalkan tradisi-tradisi sebelumnya. Sebagai contoh, bagi yang sudah berusia tua pasti sulit lagi menemukan ritual membangunkan ibadah sahur seperti yang dilakukan di zamannya.
Baca juga: Merajut Harmoni Ramadan dalam Komunikasi Berbasis Cinta
Kalau dulu sekedar memukul bedug yang ada masjid untuk menjadi simbol peringatan atau batas waktu mengakhiri santap sahur. Namun sekarang setiap tempat memiliki cara tersendiri, mulai dari yang sederhana sekedar menginfokan lewat pengeras suara yang ada di masjid, hingga cara-cara yang kreatif seperti bergerombolan jalan keliling kampung sambil bernyayi (lagu religius atau lagu daerah atau lagu popular nasional seperti dangdut dan pop) yang diringi dengan alat musik sederhana atau bahkan komplit dengan sound system yang menggelegar menggetarkan dada.
Secara umum jika diidentifikasi ritual-ritual yang berlangsung selama Ramadan setidaknya ditemukan dua jenis ritual yakni ritual yang memiliki nilai subtantif ibadah (seperti ibadah sahur, berbuka, tadarus, i’tiqaf dan beberapa ritual yang sejenis lainnya) dan ritual-ritual hasil improvisasi dari masyarakat (seperti ritual membangunkan sahur, ngabuburit, dan tradisi berbuka bersama di hotel atau restaurant).
Dua jenis ritual khas Ramadan ini secara langsung atau tidak, sadar atau tidak sadar terus ditransfer pada satu generasi ke generasi yang lainnya sehingga ritual tersebut terwariskan dari masa ke masa.
Pengembangan ritual yang dilakukan oleh generasi terkini ada pada aspek simbolik seperti tradisi berbuka bersama di hotel atau nongkrong dan jalan-jalan menghabiskan waktu jelang berbuka puasa (ngabuburit), termasuk membangunkan warga bersantap sahur dengan cara-cara kreatif.
Ritual khas Ramadan yang disebut terakhir tidak dijamin sepenuhnya bersumber dari warisan generasi sebelumnya karena banyak improvisasi yang ditemukan, dan kemungkinan mereka munculkan kreatifitas sendiri dari proses belajar sosial yang dilakukannya di dunia maya.
Perkembangan kreatifitas ritual tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup sehingga tidak heran jika yang terkejar prestise ketimbang substansi. Selera umat kekinian ini ditangkap oleh pihak penyedia jasa (seperti hotel) sehingga mereka berlomba mempromosikan paket berbuka puasa dengan sentuhan yang relevan dengan selera anak zaman now.
Acara berbuka puasa dengan gaya modern dan elitis seperti ini oleh sebagian kalangan menganggap sebagai bentuk penghormatan pada ibadah puasa karena ibadah berbuka puasa tidak boleh di tempat kumuh dan harus dengan makanan berasupan gizi tinggi. Tidak ada yang salah dengan argumentasi tersebut, cuman secara simbolik gaya berbuka puasa modern tersebut ‘mencederai” prinsip kesederhanaan dan nirempati pada saudara-saudara Muslim lainnya yang masih berkekurangan.
Ritual seperti ngabuburit juga pada dasarnya merupakan warisan ritual jelang berbuka puasa yang tidak produktif secara ritual (agama). Istilah dan tradisi yang diadopsi dari masyarakat Sunda tersebut terkesan hura-hura dan killing time yang hampa nilai tambah secara ibadah.
Akan lebih bagus jika waktu ngabuburit tersebut dimanfaatkan untuk tadarus dan berdzikir, bukan malah “keluyuran” yang berpotensi melihat atau berinteraksi dengan sesutu atau seseorang yang bisa mengurangi nilai puasa Ramadan.
Sejatinya anak zaman now harus selektif dalam mengaadopsi ritual pengisi ibadah puasa Ramadan agar dipastikan mempunyai nilai tambah bagi penyempurnaan kualitas ibadah puasa yang dilakukan, sehingga tidak terjebak pada ritual simbolik yang duniawi.
Namun beberapa fakta lain menunjukkan kebanggaan di saat sekumpulan anak muda dengan kesadaran sosialnya menggelar aksi pembagian takjil berbuka puasa gratis di pinggir jalan besar di ibukota dan daerah.
Ini sungguh menggembirakan karena sejak muda sudah mulai membangun kesadaran dan kepedulian sosial sehingga diprediksi mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tajam empati sosialnya dan kuat nilai-nilai religiusnya.
Jika kita terlibat dalam i’tiqaf di malam-malam akhir Ramadan pada masjid-masjid besar di setiap daerah, kita sangat senang dengan kehadiran anak-anak muda yang menempati sudut-sudut masjid untuk beri’tikaf dan qiyaamullail.
Ini adalah warisan ritual yang bagus kepada mereka dan dengan peer group-nya mereka saling mengajak sehingga telah menjadi bagian dari gaya hidup anak zaman now di akhir Ramadan.