TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran, dalam operasi militer yang oleh Presiden AS Donald Trump disebut sebagai 'operasi tempur besar-besaran'.
Serangan ini terjadi di tengah negosiasi antara Washington dan Teheran terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, setelah berminggu-minggu ketegangan meningkat.
Eskalasi ini juga terjadi delapan bulan setelah AS dan Israel terlibat perang selama 12 hari melawan Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel utara serta ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Hingga kini, dikutip dari Al Jazeera, rincian korban jiwa dan kerusakan di kedua pihak masih terbatas.
1. Ledakan di Teheran dan Sejumlah Kota
Koresponden Al Jazeera di Teheran barat mengatakan, mendengar dua ledakan, sementara video di media sosial memperlihatkan asap membumbung dari berbagai titik kota.
Israel lebih dulu mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal ke sasaran di dalam wilayah Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera, serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington telah mengerahkan armada besar jet tempur dan kapal perang ke kawasan tersebut, yang disebut sebagai pengerahan militer terbesar sejak Perang Irak.
Departemen Pertahanan AS kemudian menyatakan operasi itu diberi nama “Operation Epic Fury”.
Laporan media Iran menyebutkan rudal menghantam kawasan University Street dan Jomhouri di Teheran, serta area dekat markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Associated Press melaporkan satu serangan terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Seyyed Khandan, Teheran utara, serta di sejumlah kota lain seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, dan Provinsi Lorestan.
Baca juga: Terobos Qatar, Rudal Balistik Iran Hancurkan Radar Canggih Amerika FP132 Senilai 1,1 Miliar Dolar
2. Pernyataan Trump: Targetkan Rudal dan Angkatan Laut Iran
Dalam pernyataannya, Presiden AS, Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai 'masif dan sedang berlangsung'.
Ia mengatakan tujuan kampanye militer ini adalah 'menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga ke tanah'.
Trump juga menyatakan, militer AS akan 'memusnahkan angkatan laut Iran'.
Menurutnya, sasaran operasi meliputi:
Trump juga menawarkan amnesti kepada personel militer Iran yang menyerahkan diri.
Namun, ia memperingatkan akan ada 'kematian yang pasti' bagi mereka yang melawan. Ia mengakui kemungkinan adanya korban dari pihak AS.
Seorang pejabat AS kepada Reuters menyebutkan operasi ini direncanakan berlangsung beberapa hari.
3. Respons Iran: Serangan ke Israel dan Pangkalan AS
Militer Israel melaporkan, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel, memicu sirene serangan udara di sejumlah daerah dan ledakan di Israel utara.
Tak lama kemudian, Iran juga meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait operasi militer AS di kawasan, termasuk:
Ledakan juga terdengar di Riyadh, Arab Saudi, dan serangan dilaporkan terjadi terhadap pangkalan AS di Yordania.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan akan adanya respons 'menghancurkan'.
"Kami sudah memperingatkan kalian. Sekarang kalian memulai jalan yang akhirnya tidak lagi dalam kendali kalian," tulisnya di media sosial.
4. Netanyahu: Operasi Akan Berlanjut
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan operasi militer yang dinamakan 'Lion's Roar' akan terus berlanjut "selama diperlukan".
Sementara itu, keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei belum diketahui secara pasti. Jalan menuju kompleks kediamannya di Teheran ditutup saat ledakan terjadi.
5. Reaksi Dunia
Sejumlah negara dan pemimpin dunia menyampaikan kekhawatiran atas eskalasi ini.
Oman menyatakan negosiasi yang dimediasi negaranya kembali terganggu dan mendesak AS agar tidak semakin terlibat.
Sementara itu, Qatar mengutuk serangan Iran sebagai pelanggaran kedaulatan, sedangkan Uni Emirat Arab memperingatkan konsekuensi serius jika pelanggaran berlanjut.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyebut situasi ini 'berbahaya', dan Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan konflik ini membawa 'konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional'.
Di Rusia, Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev mengkritik langkah AS dan menuding negosiasi sebelumnya sebagai 'operasi kedok'.
Inggris menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sedangkan Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan dukungan terhadap upaya AS mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Hingga kini, situasi di kawasan masih berkembang dengan ketegangan tinggi dan potensi eskalasi lanjutan. (*)