Rocky Gerung Puji Prabowo yang Ingin Jadi Penengah AS-Israel vs Iran: Cerdas Manfaatkan Momentum
Wahyu Gilang Putranto March 01, 2026 04:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat politik Rocky Gerung memberikan pujiannya untuk Presiden Prabowo Subianto terkait keinginannya menjadi penengah konflik Amerika Serikat-Israel vs Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026).

Menurut dia, Prabowo pintar mencari kesempatan di tengah-tengah situasi memanas guna membuktikan Indonesia memiliki pengaruh di dunia internasional.

Meskipun lanjut Rocky, dirinya tidak yakin apakah Presiden Prabowo mampu menciptakan perdamaian atau perang tetap terus berlanjut.

"Jadi kelihatannya Presiden Prabowo cukup cerdik atau cukup cerdas untuk memanfaatkan momentum, bukan demi efektivitas Indonesia di dalam upaya mencegah perang berkelanjutan atau bahkan upaya untuk menengahi Israel dan Iran."

"Tetapi minimal memberi sinyal, bahwa Presiden Prabowo punya inisiatif untuk tampil di forum internasional sebagai juru damai. Itu entah berhasil apa tidak," katanya, dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official, Minggu (1/3/2026).

Pria kelahiran 20 Januari 1959 itu melanjutkan, setidaknya dengan inisiatif Indonesia, opini publik kepada Prabowo bisa mengarah positif.

Baca juga: Media Internasional Soroti Kesediaan Prabowo Jadi Mediator Iran dan AS

Dengan cara ini juga, Prabowo bisa menjawab keraguan publik terkait kebijakan politik luar negeri Indonesia yang dinilai berantakan dan banjir kritik netizen karena bergabung dengan Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump bersama Israel.

Di sisi lain, lewat BOP juga turut memperkuat posisi Indonesia saat ikut campur dalam konflik-konflik yang melibatkan Amerika Serikat maupun Israel.

"Kelihatannya opini publik pasti akan menganggap, oke Indonesia mampu untuk mengambil inisiatif atau bahkan menyodorkan diri sebagai juru damai."

"Jadi lebih sebagai pesan politik ke dalam negeri, sebetulnya keinginan Presiden Prabowo pergi ke Iran untuk menjawab segala kritik yang ada di dalam negeri bahwa Presiden Prabowo itu hanyalah antek Amerika di dalam BOP, dia tidak mungkin punya standing di situ."

"Terlihat bahwa Presiden Prabowo punya cara unik sebetulnya untuk masuk di dalam proses penyelesaian konflik antara Iran dan Israel dengan memanfaatkan kedudukan dia di BOP. Ini (juga sebagai) upaya Presiden Prabowo untuk memperoleh kembali legitimasi diplomasinya yang kemarin-kemarin berantakan ," tegas Rocky.

Prabowo Siap Bertolak ke Teheran Mediasi Konflik AS-Israel vs Iran

Tepat satu hari setelah menginjakkan kaki kembali di Tanah Air usai kunjungan maraton 10 hari ke tiga negara, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto langsung dihadapkan pada krisis global yang mencekam.

Di tengah eskalasi militer di Timur Tengah yang berada di titik nadir, Indonesia mengambil langkah diplomasi paling berani: Presiden Prabowo menyatakan kesiapan untuk bertolak ke Teheran.

Langkah ini menjadi respons cepat atas gelombang serangan rudal Amerika Serikat dan Israel yang menghujam wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Situasi kian kritis dengan laporan adanya serangan balasan rudal balistik Iran yang mulai menyasar wilayah Israel di hari yang sama.

Kepulangan Presiden Prabowo ke Jakarta pada Jumat (27/2/2026) pagi semula disambut euforia atas keberhasilan kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Yordania, dan UEA. 

Baca juga: Prabowo Siap ke Teheran Jadi Juru Damai, Hikmahanto: Terlalu Dini, Tak Akan Diterima 

Namun, suasana di Lanud Halim Perdanakusuma yang sempat diguyur hujan seolah menandakan agenda strategis yang lebih besar tengah menanti sang Kepala Negara.

Pemerintah Indonesia secara resmi menyesalkan kegagalan perundingan internasional yang memicu hujan rudal ini. Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap perdamaian dunia, Indonesia menawarkan solusi tingkat tinggi melalui mediasi kepresidenan secara langsung.

"Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Republik Indonesia menyatakan kesediaannya untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi langsung," tegas pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai "Jembatan Perdamaian" yang konsisten mengedepankan dialog di atas kekuatan senjata dan menghormati kedaulatan tiap negara.

DPR Dukung Penuh Keputusan Prabowo

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem, Amelia Anggraini, mendukung penuh keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mau menjadi mediator Amerika Serikat (AS) dan Iran demi menciptakan keamanan yang kondusif di kawasan Timur Tengah.

Kabar tersebut sebelumnya disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI saat memberikan pernyataan resmi terkait serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Kemlu mengatakan bahwa Prabowo siap terbang ke Teheran, Iran, untuk memediasi kedua belah pihak.

Namun, banyak pihak juga yang menentang keputusan Prabowo tersebut karena dianggap terlalu terburu-buru dan Iran diklaim tidak akan menyukainya.

Meski demikian, DPR tetap menyatakan dukungan tersebut kepada Prabowo karena dinilai sebagai langkah yang tepat.

"Kami sangat mendukung langkah yang diambil oleh Bapak Presiden dan saya rasa ini adalah kepala negara, salah satu pertama yang menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator bagi negara yang sedang berkonflik dalam hal ini Iran-Israel dan juga di-backup oleh Amerika," katanya, Minggu (1/3/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.

"Saya rasa itu adalah langkah yang tepat sebagai bagian dari komunitas internasional dan merupakan langkah diplomatik yang sangat baik," sambung Amelia.

Baca juga: Indonesia Sesalkan AS dan Israel Serang Iran, Prabowo Bersedia Jadi Mediator jika Diperlukan

Amelia menambahkan, Prabowo juga sudah berperan aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia, terutama untuk rakyat Gaza, Palestina.

Hal itu, kata Amelia, dibuktikan dengan bergabungnya Prabowo dalam Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump.

"Masuk ke dalam BoP itu adalah langkah diplomatik yang menurut saya juga baik. Tetapi ini saya melihatnya pada perspektif ikhtiar ya, sebuah usaha diplomatik begitu."

"Kalau kita tidak ada di dalam, bagaimana kita bisa memediasi pihak-pihak hasil berkonflik? Paling tidak kalau ada di dalam, kita bisa bersuara, kita bisa bersuara dan positioning kita kan jelas," papar Amelia.

Apalagi, menurut Amelia, dalam BoP itu banyak negara-negara di Timur Tengah juga yang bergabung untuk mendorong upaya perdamaian dunia.

"Seperti Saudi Arabia kemudian juga Qatar, Turki dalam hal ini juga berperan aktif juga menyuarakan agar segera ditemukan two state solution dalam konflik Palestina dan Israel," katanya.

(Tribunnews.com/Endra/Rifqah/Abdul Qodir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.