TRIBUN-MEDAN.COM - Serangan gabungan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, pada Sabtu (28/2/2026), memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah. Operasi militer tersebut dilaporkan menargetkan sejumlah lokasi strategis, termasuk fasilitas militer dan pusat kepemimpinan negara.
Situasi ini membuat pemerintahan Iran menghadapi tekanan besar di tengah konflik yang terus berkembang. Ditambah lagi, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil alih transisi negara di tengah situasi perang. Ia dibantu Wakil Presiden Mohammad Reza Aref dalam mengendalikan pemerintahan.
Dikutip dari AFP, Ketua Lembaga Peradilan Gholamhossein Mohseni Ejei dan seorang pejabat lain dari Dewan Hukum Negara Iran akan melengkapi dua nama lain yang mengawasi masa transisi tersebut, demikian menurut televisi pemerintah Iran mengutip Mohammad Mokhber, salah satu penasihat Khamenei, dilansir Aljazeera, Minggu (1/3/2026). "Para pemimpin transisi tersebut langsung bekerja hari ini, Minggu (1/3/2026)".
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji akan merespons tegas atas pembunuhan Khamenei. "Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah murni pemimpin berpangkat tinggi ini akan mengalir seperti mata air yang deras dan akan memberantas penindasan dan kejahatan Amerika-Zionis,"ujar Pezeshkian dilansir Aljazeera, Minggu (1/3/2026).
"Kali ini juga, dengan segenap kekuatan dan tekad kami, dengan dukungan bangsa Islam dan rakyat bebas di dunia, kami akan membuat para pelaku dan komandan kejahatan besar ini menyesalinya,"tambahnya.
Presiden Pezeshkian juga mengumumkan 7 hari libur nasional selain 40 hari masa berkabung.
Sementara, Garda Revolusi Iran mengatakan operasi ofensif paling ganas dalam sejarah Republik Islam tersebut segera dimulai. Iran dengan cepat bersumpah akan membalas kematian Khamenei.
"Operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai menuju wilayah dan pangkalan teroris Amerika yang diduduki," kata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca juga: KORBAN Tewas di Iran Capai 148 Orang, di Antaranya 8 Pejabat Negara dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah
Khamenei Tewas di Kantornya
Melansir Al Mayadeen, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas di kantornya di kompleks Gedung Kepemimpinan setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) dini hari.
Media pemerintah Iran menyebut Khamenei tetap berada di kantornya ketika serangan terjadi.
“Pemimpin Iran, Sayyed Ali Khamenei, gugur di tempat kerjanya di Gedung Kepemimpinan saat menjalankan tugasnya,” lapor televisi pemerintah Iran.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini dan menjadi figur paling berpengaruh dalam sistem politik negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Dalam posisinya sebagai pemimpin tertinggi atau pemimpin agung, ia memiliki kewenangan besar dalam menentukan kebijakan nasional, termasuk arah politik, militer, dan strategi regional Iran.
Selama masa kepemimpinannya, Khamenei juga memperkuat peran Islamic Revolutionary Guard Corps sebagai kekuatan militer utama sekaligus aktor penting dalam pengaruh geopolitik Iran di Timur Tengah.
Sementara itu, laporan media pemerintah Iran juga menyebut sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk putri, menantu, dan cucunya, turut menjadi korban dalam serangan tersebut.
Bahkan, akibat serangan AS-Israel itu, kompleks kediaman Khamenei, Beit-e Rahbari tampak hancur dan rata dengan tanah.
Melansir New York Times, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama di kompleks tersebut dalam kondisi hancur total.
Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.
Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa pola kawah dan dampak ledakan yang terlihat konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker (bunker-buster).
Senjata jenis ini dirancang khusus untuk menembus lapisan beton bangunan guna menghancurkan fasilitas bawah tanah yang diperkuat.
(*/tribun-medan.com)
Baca juga: SIAPA Pimpin Iran Usai Tewasnya Ali Khamenei? 3 Orang Ini Ambil Alih Masa Transisi
Baca juga: SOSOK 7 Komandan Militer Iran yang Tewas Dalam Serangan AS-Israel