TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini podcast di Studio Tribun Manado yang berada di Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi 2, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut, Rabu (25/2/2026) pagi.
Bersama Jurnalis Tribun Manado Ferdi Guhuhuku dan Kolonel Inf Daniel E. S Lalawi sebagai Aster Kasdam XIII/ Merdeka.
Edisi podcast kali ini membahas tema "Sinergi TNI dan Masyarakat Menjaga Ketahanan Pangan Lokal".
Berikut ini isi Podcast bersama Head of Stakeholder Relation PT. Sasa Inti, Rida Atmiyanti S.Psi, M.M:
Baca juga: Aster Kasdam XIII Merdeka Kolonel Inf Daniel Lalawi Kunjungi Tribun Manado, Jadi Narasumber Podcast
Tribun Manado: Selamat pagi, Pak.
Pak Daniel: Selamat pagi, Bang Ferdy. Ferdy, apa kabar?
Tribun Manado: Baik, baik.
Oke, seperti biasa panggil Abang. Jadi mungkin orang ingin lebih dekat, mungkin Abang silahkan memperkenalkan dulu nama lengkapnya, terus tugasnya sebagai apa.
Pak Daniel: baik.
Terima kasih, Bang Ferdy. Tribuners, terima kasih ini sudah diundang pertama oleh rekan media dari Tribun Manado.
Perkenalan singkat dulu sebelum kita mungkin memulai bincang-bincang.
Nama saya Daniel Lalawi, Pangkat Kolonel Infantri.
Saya sehari-hari sebagai staff dari Pangdam, yaitu asisten teritorial Kodam 13 Merdeka.
Memang agak cukup kenal kita dengan tribun karena sebelumnya memang saya sering berkomunikasi dengan rekan-rekan media.
Karena jabatan saya sebelumnya adalah Kepala Penerangan Kodam 13 Merdeka.
Jadi terima kasih kami sekali lagi sudah bisa diundang di Tribun Manado.
Bisa kita berbagi, bisa sharing tentang tugas-tugas Kodam.
Tribun Manado: Jadi untuk tugas sendiri, Pak Daniel, tugas-tugas sebelumnya ini sebagai apa, Pak? Sebelumnya dari Pangdam, kan? Pangdam. Pangdam pindah ke Aster. Nah, ini banyak yang masyarakat mungkin ingin tahu.
Tugas-tugas Pak sendiri itu seperti apa?
Pak Daniel: Itu tadi ya, seperti sudah sampaikan tadi. Jadi jabatan saya adalah asisten teritorial.
Jadi tentunya kita kebanyakan kewilayahan.
Jadi bagaimana peran saya sebagai Aster dapat membantu Panglima Kodam untuk bisa melakukan kegiatan pembinaan teritorial.
Sehingga bisa terwujud itu kemenunggalan antara TNI dan rakyat melalui kegiatan pembinaan teritorial yang kita lakukan.
Karena ini memang penting. TNI tidak bisa bekerja sendiri untuk menjaga pertahanan kita, negara kita, tanpa melibatkan masyarakat, tanpa melibatkan rakyat, tanpa melibatkan warga negara Indonesia.
Karena memang sesuai dengan sistem pertahanan kita, sistem pertahanan rakyat semesta, semuanya terlibat langsung untuk upaya usaha pertahanan negara.
Jadi ini tugas-tugas kami sebagai Aster. Menjaga, meyakinkan kepada Panglima bahwa pelaksanaan pembinaan teritorial di wilayah dapat berjalan dengan baik.
Tribun Manado: Jadi memang tugas-tugas juga sering turun ya?
Pak Daniel: Pastinya seperti itu.
Kita tahu kan di satuan kewilayan kita, Kodim-Kodim, Korem itu kan satuan-satuan kewilayan yang ada di bawah Kodam itu mereka lah yang sehari-hari yang melaksanakan tugas-tugas pembinaan teritorial.
Tribun Manado: Jadi untuk wilayah sendiri Pak, kalau tidak salah, untuk Kodam 13 Merica ini dari Sulawesi, Utara, Gorontalo, dan Sulteng?
Pak Daniel: Nah ini yang perlu kita, mungkin belum banyak yang tahu ya.
Mulai tahun 2025, ya pertengahan tahun, sudah ada pembentukan satuan baru. Jadi di wilayah Sulawesi Tengah ini sudah ada Kodam baru Pak.
Namanya Kodam 23 Palakawira.
Sehingga untuk wilayah Sulawesi Tengah yang selama ini menjadi wilayah teritorial dari Kodam 13 Merdeka sudah berkurang.
Jadi hanya sekarang ini, wilayah teritorial Kodam 13 Merica hanya mencakup dua provinsi yaitu Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Tribun Manado: Pak Daniel, ini tentunya kita sudah tidak asing dengan kerja-kerja TNI.
Karena sebelum Pak Jokowi, TNI ini juga turun ke masyarakat.
Nah sekarang juga lebih ditekankan di Prabowo terkait dengan program ketahanan pangan ini.
Kita lihat beberapa waktu ini, kenapa TNI banyak turun ke masyarakat, terutama dalam berkontribusi untuk ketahanan pangan sendiri Pak?
Pak Daniel: Ini menarik ini pertanyaannya. Kenapa kok TNI serius banget nih ngurusin ketahanan pangan? Karena kalau mungkin kita sering nonton TV, Bapak Presiden kan sering menggaungkan masalah ketahanan pangan, masalah suasumbada pangan.
Ini sangat penting. Karena kaitannya dengan ketahanan wilayah ini sangat berkolerasi ya.
Jadi suatu negara yang besar itu kalau dia punya ketahanan pangan yang kuat, dia bisa swasembada bahkan, berarti satu poin pokok yang penting dalam ketahanan wilayah sudah terpenuhi.
Jadi kita bisa lihat banyak negara-negara yang mengalami instabilitas, goncang karena dia tidak punya ketahanan pangan yang kuat, mengharapkan impor dari luar.
Bagaimana kalau terjadi keos secara global, diberhentikan itu distribusi pangan dunia. Ini kan jadi persoalan Pak.
Jadi makanya kita kenapa TNI konsen dengan ketahanan pangan, karena ini bagian penting dari ketahanan wilayah.
Bagian penting dari ketahanan nasional, Pak. Jadi kita bisa berdikari, kita bisa menghasilkan pangan sendiri, bahkan bisa menjadi stok ataupun cadangan pangan bagi kita.
Kita lihat sendiri ada kemarin terjadi bencana di Sumatera, Aceh.
Kita bisa mandiri, kita bisa menangani persoalan-persoalan yang terjadi di sana tanpa mengharapkan bantuan dari luar.
Di sini lah diuji kita, bangsa kita.
Termasuk TNI, apakah bisa mendistribusikan semua bantuan itu termasuk pangan yang memang dari 2025 kan kita sudah swasembada pangan, Pak. Stok yang sudah kita punya itu bisa kita distribusikan ke daerah-daerah yang mengalami bencana. Itu namanya ketahanan wilayah, ketahanan bangsa, ketahanan nasional.
Ini yang penting.
Tribun Manado: Jadi ada kaitannya, Pak, antara ketahanan pangan. Kalau ketahanan pangan kita kuat, berarti ketahanan wilayah dan juga nasional kuat. Itu seperti apa?
Pak Daniel: Itu pasti ada korelasi yang sangat penting. Jadi tadi itu kita tidak lagi mengharapkan bantuan dari luar.
Kita tentunya dalam pergaulan internasional perlu kita menjalani kerjasama.
Terutama tadi mungkin kita ada yang kurang, ya tentunya kita mengharapkan bantuan dari luar negeri.
Tapi dalam hal-hal yang masih bisa kita selesaikan sendiri, kenapa tidak? Ini kan suatu yang sudah mulai kita coba kita lakukan saat-saat sekarang.
Mulai ditetapkan negara kita sudah swasembada pangan, ini mulai kita lakukan.
Khusus di Sulawesi Utara pun demikian. Kita berharap keterdiaman stok pangan yang ada di Sulawesi Utara ini juga bisa terjaga.
Sehingga ada hal-hal yang mungkin status-status yang seperti yang sudah dialami oleh wilayah lain, bencana dan lain-lain, kita sudah punya kemandirian, Pak.
Tidak mengharapkan lagi distribusi dari luar. Kan itu butuh pasokan, distribusi, kan butuh efort khusus ya untuk pengarahannya.
Tribun Manado: Jadi memang dari Kodam 13 Merdeka juga dibawa pimpinan yang baru. Baru-baru ini mendukung penuh program dari Presiden terkait dengan ketahanan pangan ini.
Untuk ketahanan pangan sendiri, Pak, kalau untuk saat ini, kalau di Sulawesi Utara, apa yang menjadi fokus dari TNI untuk betul-betul menerapkan hal itu di masyarakat?
Pak Daniel: Sulawesi Utara ini, termasuk wilayah selanjutnya Gorontalo juga kadang-kadang wilayah kita, Kodam 13 Merdeka. Ini kan memang merupakan masyarakat agraris, ya.
Bagian besar adalah wilayah pertanian. Sehingga kita lihat itu suatu potensi yang bagus untuk dikembangkan. Sehingga saat ini kita lebih banyak berkonsentrasi untuk bagaimana perluasan lahan.
Lahan pertanian, terutama sawah. Sawah, karena memang padi ini makanan pokok rakyat Indonesia.
Jadi, ini kan makanan pokok masyarakat Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara.
Kita prioritaskan itu dulu. Padi, ya memang kita bekerjasama, kolaborasi dengan komunitas daerah. Bahkan ada given dari Pemerintah Pusat dalam hal ini dari Kementerian Pertanian untuk membantu percetakan lahan baru.
Sawah baru, ya. Tentunya di tanam padi, tentunya. Jadi itu memang jadi prioritas dari Kodam.
Tapi tidak menyampingkan juga komunitas yang lain. Ya, seperti tadi yang memang masyarakat Manado sini kan suka cabai, ya. Kita juga himbau sosialisasi dengan masyarakat Babinsa Turun untuk biar tidak terjadi inflasi.
Saat-saat ini kan musim hujan, bagaimana kita bisa menjaga agar stabilitas harga terjaga. Ya, tentunya masyarakat juga punya kemauan, bukan hanya mau beli saja. Tapi kalau bisa tanam di pekarangan sendiri kan bisa.
Menghemat juga, kan hanya butuh bibit. Lahan ada, kalaupun di keperkotaan pun bisa sebenarnya.
Tidak punya lahan untuk orang pakai polybag itu kan. Bisa tinggal diisi tanah, taruh bibit. Jadi dia tinggal petik sendiri.
Tribun Manado: Pak Daniel, kita masuk ke terkait dengan program dari Pak Presiden juga.
Visi-visi yang terkait dengan gerakan asri ini, menarik ini. Gerakan asri ini aman, sehat, rapi, dan indah.
Ini kan memang instruksi langsung dari Presiden. Nah gimana untuk Kodam 13 ini merealisasi program Presiden ini terkait dengan gerakan asri ini?
Pak Daniel: Jadi asri ini aman, sehat, rapi, indah.
Kalau beliau nyampaikan itu resik. Kalau lebih indah, bersih. Tertata, ya resik.
Jadi, gerakan asri ini bukan semata-mata terkait dengan kita korve-korve bersih-bersih. Tapi yang paling penting adalah mengubah mindset kita. Pola hidup kita, bagaimana kita mencintai asri itu.
Aman, sehat, resik, indah. Pola mindset kita dulu yang paling pokok sebenarnya. Persoalan masalah kebersihan.
Kita bicara konteks kebersihan dulu ya. Kebersihan yang ada di Indonesia ini, khususnya sosialis di utaranya ini juga suatu fenomena yang belum selesai-selesai. Saya juga kebetulan pernah jadi dandim di sini.
Ya, sering menemui permasalahan ini. Bersamaan dengan tadi yang disampaikan oleh Bapak Presiden, para saat Rakornas kalau tidak salah ya. Rakornas di Jakarta.
Jadi atensi beliau, kami yang berada di wilayah juga langsung merespon apa yang beliau sampaikan. Beberapa waktu yang lalu setelah beliau menyampaikan pasal Rakornas, kami bersama dengan insansi pemerintah yang ada, yang rendah, dengan dinas-dinas yang ada. Bahkan rekan-rekan insansi vertikal, ya.
Polisian, kejaksaan. Kita turun langsung ke lapangan. Jadi tadi yang saya bilang, mindset perlu kita ubah.
Tapi kan itu perlu proses. Tapi yang di depan ada sampah ini. Jangan kita biarkan.
Langsung kita eksekusi. Khususnya di Kota Manado ini memang sampah pemerintah daerah atau pemkot Manado sudah berupa ya tentunya.
Saya kebetulan memang pernah dandim di sini.
Saya tahu program dari Bapak Wali Kota. Bahkan di setiap sungai itu sudah ada penyekat sampah-sampah itu. Tapi sampah itu datang juga dari mana-mana rupanya.
Apalagi kalau kita nongkrong di, main-main ke Taman Ria. Di Manado Beach Wall, MBW itu. Kok bisa ada sampah gitu banyaknya? Tidak mungkin juga pengunjung buang sampah, segitu banyaknya sampah yang ada gitu dari pengunjung.
Sedangkan pengunjung kan mungkin tidak terlalu banyak. Jadi ternyata ada juga dari luar yang datang. Sampah kirimannya.
Di Kodam waktu itu kita beberapa waktu lalu ini sudah sekitar 5-6 kali kita pembersihan di objek-objek wisata di pantai. Cukup signifikan juga sampah itu yang kita angkat. Banyak ya.
Sangat banyak. Dan puji Tuhan ya beberapa waktu ini sudah mulai agak berkurang. Jadi memang harus ada aksi nyata Pak.
Selain kita memberikan edukasi ke masyarakat. Tentang bagaimana kita menjaga lingkungan kita terbersih. Tapi juga kita harus aksi nyata.
Begitulah Pak.
Pak Tribun Manado: Jadi untuk asri ini terusnya dilakukan ya Pak? Jadi bukan biasa sekali. Ini terus di sosialisasi terutama.
Bagaimana Pak penerapan di Kodam 13 Merdeka sendiri Pak?
Pak Daniel: Jadi bahkan Panglima, Pangdam 13 Merdeka sudah mencanangkan kita untuk melakukan program 3 bulan dan 6 bulan.
Tribun Manado: Jadi itu seperti apa programnya?
Pak Daniel: Jadi untuk program 3 bulan kita tangani dulu ini.
Tentunya tidak berjalan sendiri. Kita akan membuat koordinasi dengan peminta daerah. Kita mengajak masyarakat bahkan semua stakeholder yang ada.
3 bulan ini kita tangani dulu. Fisiknya dulu. Bagaimana biar asri ini bisa kita wujudkan dulu.
3 bulan pertama. Bagaimana kita angkat sampahnya. Bagaimana kita buang sampahnya.
Bagaimana kita olah sampahnya. Ini 3 bulan ini harus tertangani dulu. Bagaimana distribusinya.
Kendaraan yang digunakan. Titik-titik yang selama ini menjadi pusat sampah. Ini kalau bisa 3 bulan ini tertangani dulu.
Setelah itu baru 3 bulan ke depan. Atau jangka 6 bulan ke depan. Bagaimana kita mengatur sistem.
Sehingga mulai dari masyarakat buang sampah. Sampai dia pengolahan sampah terakhir itu.
Seperti Bapak Presiden sampaikan. Waste to energy. Mengolah sampah itu menjadi energy. Bisa terwujud, di 6 bulan ke depan.
TNI ini tidak bisa bekerja sendiri. Semuanya kita terkait dengan pemerintah daerah.
Bahkan dengan elemen masyarakat. Ini ayo kita sama-sama. Kita tangani sampah ini.
Bukan hanya menjadi musuh kita. Tapi juga menjadi sahabat kita sampah ini. Karena bisa kita olah.
Sampah ini kan bukan hanya bisa diolah sebagai energy. Bisa juga sebagai bahan kerajinan. Bahkan bisa dijadikan pupuk.
Ini kan belum maksimal. Memang pemerintah daerah sudah melakukan itu. Tetap belum maksimal.
Jadi program ini kita lakukan. Di 3 bulan pertama dan 3 bulan berikutnya. Ini mudah-mudahan bisa terrealisasi dengan baik.
Sehingga ke depan. Proses pengolahan sampah. Tidak mengganggu konsentrasi kita dalam pembangunan ini.
Jadi dalam 1 minggu itu. Kalau kondam itu 3 kali.
Kalau untuk lingkungan asrama itu pasti, Pak, tiap hari. Tapi yang kalau agak di luar asrama. Seminggu sekali lah kita.
Di lingkungan asrama dengan masyarakat. 2 kali dalam seminggu. Itu kerjasama dengan yang lain.
Dengan Pemprov, Pemkot. Dengan instansi yang lain. Kita kemarin bersifat di Persara 45, di MBEW.
Bahkan kemarin kita sampai ke Benaken. 2 kali seminggu kita kerjakan. Perwisata juga di sana, ya.
Itu dia. Sulut tempat perwisata Manado ini. Orang datang pertama ke Manado.
Untuk lihat tempat wisata. Tapi kalau Manado ini sudah kotor. Mungkin mood-nya sudah hilang.
Tribun Manado: Kalau kita lihat juga, Pak. Ini kan program jelas. Ini buat program untuk mendukung.
Program dari Pak Presiden. Ini kan TNI tidak bisa bekerja sendiri. Bagaimana koordinasi antara instansi? Karena kan biasanya ada dinas.
Contohnya kalau bicara pangan. Ada dinas terkait di situ. Ada dinas pertanian.
Begitu juga dengan mengangkut sampah ini. Ada dinas DLH. Nah ini koordinasi ini seperti apa yang dijalankan, Pak?
Pak Daniel: Jadi pertama yang perlu saya sampaikan adalah. TNI hadir untuk membantu. Bukan untuk mengambil alih.
Tugas-tugas dari teman-teman di dinas-dinas itu. Jadi selama ini syukur puji Tuhan. Kita semuanya terkoordinasi dengan baik.
Mungkin ada sekat-sekat yang mungkin selama ini agak kurang terbuka. Kita coba buka itu. Contoh yang tadi kita bicara masalah asri.
Saya baru habis telepon dengan Plt SekProv Sulut. Terkait dengan bagaimana kita membersihkan sampah ini. Mungkin karena ada kesibukan-kesibukan. Kami coba tawarkan solusi.
Pak, bagaimana kalau kita membersihkan? Kita tentukan dulu titiknya di mana. Kemudian kita tinjau lokasinya. Apa yang harus kita tangani.
Setelah itu kita rakor. Rakor dulu. Jadi baru kita bagi tugas.
Sudah saya lihat lokasi sampahnya atau tempatnya seperti ini. Untuk itu nanti kita bagi.
Misalnya dinas pertanian nanti bersihkan ini. Dinas DLH bersihkan ini. Atau dari TNI mungkin Kodam ini.
Korem ini. Terkadang dari Kodaeral titiknya di sini, seperti itu. Itu bagian dari kita melaksanakan koordinasi, memberikan masukan saran.
Jadi bukan kita ambil alih. Jadi membantu.
Bisa memberikan solusi. Bisa membantu. Teman-teman yang mungkin belum sempat terpikirkan.
Kita kasih masukan. Kira-kira cocok nggak ini. Beliau sangat apresiatif.
Bagus juga, Pak. Kalau bisa kita buat seperti itu. Sehingga hasil yang kita kerjakan ini.
Untuk pembersihan sampah di Kota Manado bisa lebih maksimal. Lebih optimal lagi.
Tribun Manado: Karena kalau bicara tentang tenaga. TNI siap. Karena banyak sekali yang siap. Nah kalau untuk ketahanan pangan sendiri, Pak. Ini koordinasi dengan dinas terkait itu seperti apa?
Pak Daniel: Sama juga dengan ketahanan pangan.
Jadi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan seperti tadi.
Kita di sekarang tahun ini, di tahun 2025-2006. Kita mau bantu percetakan lahan sawah baru yang saya sampaikan.
Itu tidak serta-merta kita langsung ambil alih.
Tidak. Justru. Kita sudah ada MOU.
Di tingkat pusat. Kementerian Pertanian. Panglima TNI.
Breakdown kebawah. Sampai ke PKST. Tingkat teknisnya.
Kerjanya kerjasama teknis. Sampai tingkat Kodim atau Korem. Jadi sudah ditentukan dulu sama Dinas Pertanian.
Ini yang mau dibuka lahannya. TNI dengan bentuk swakelola kita kerjakan sama-sama. Untuk membuka lahan baru.
Jadi tidak bisa kita kerja sendiri tanpa arahan dari Kementerian Pertanian atau Dinas Pertanian. Justru itu kita juga kalau kita mau bergerak sendiri tidak bisa.
Jadi secara teknis nanti di lapangan Dinas Pertanian. Nanti Pak, lahan yang dibuka ini. Ini yang untuk lokasi sawah.
Ini untuk bikin irigasinya, tetap didampingi, ada Babinsya di situ, ada PPLnya di situ, ada masyarakatnya di situ.
Tribun Manado: Untuk pembongkaran lahan berarti ini TNI yang bongkar?
Pak Daniel: Swakelola. Kita kerja sama-sama. Itu juga sudah dilakukan SID atau survey dulu Pak.
Sudah dilaksanakan survei dulu, ada tenaga ahli.
Karena membuka lahannya kan tidak bisa. Sembarangan ya. Sembarangan.
Air tidak bisa mengalir dan lain-lain. Itu lahannya siapa? Kalau punya masyarakat mau tidak dijadikan sawah?
Jadi survei dulu, itu ada tenaga ahli.
Yang di Gorontalo itu dari unsrat. Teman-teman dari unsrat yang laksanakan survei dulu.
Identifikasi, kemudian sudah oke, silahkan ke Dinas Pertanian.
Oke Pak. Sudah bisa Pak. Kita kerjakan.
Tapi pun kita tidak kerja sendiri, sama-sama.
Alatnya dan lain sebagainya ya.
Tribun Manado: Berarti untuk program ini bagaimana respon masyarakat? Apakah masyarakat mendukung atau seperti apa? Terkait dengan ketahanan pangan maupun dengan gerakan asri ini Pak?
Pak Daniel: Saya bahas satu aspek saja soal cetak sawah. Kemarin ada pengalaman itu. Ada masyarakat yang tidak mau, dia sudah menanam kelapa ini.
Kemudian kita cetak sawah ini. Ini berubah pikiran.
Ternyata kalau Bapak Tentara yang kerjakan cepat gitu loh.
Tapi itu tadi permasalahan sosial, ini cepat kita selesaikan.
Akhirnya ada yang berubah pikiran ini.
Jadi responnya bagus. Syukur Alhamdulillah, puji Tuhan Pak.
Program ketahanan pangan ataupun program membantu pemerintah untuk meningkatkan pangan di wilayah Sulawesi Utara maupun Gorontalo mendapat respon yang baik dari masyarakat. Ya mungkin ada kekurangan sana-sini. Tapi berusaha kita eliminir.
Jangan sampai juga jadi tidak bermanfaat apa yang kita kerjakan. Jadi sebelum kita kerja, pasti kita sosialisasi dulu.
Tribun Manado: Jadi intinya masyarakat mendukung?
Pak Daniel: Masuk dengan asri. yang tadi saya sampaikan, kita kerja di Bunaken kemarin.
Wah, masyarakat banyak sekali, rupanya mereka menunggu kita sudah lama.
Ini kalau tidak ada tentara dan polisi, katanya agak lama tertangani.
Jadi beberapa kapal kita ke sana. Yang dari daratan sini kita berangkat ke sana. Kalau Babinsa kan cuma satu orang di sana.
Jadi kita datang, masyarakat sudah menunggu di sana, Pak. Langsung bersih.
Tribun Manado: Nah kalau untuk panen sendiri, Pak. Contohnya nanti kan sudah tanam ini. Apakah dari TNI juga akan hadir?
Pak Daniel: Jadi di kita itu kerjasama dengan Dinas Pertanian.
Ada program yang namanya LTT dan Sergab Gabah. LTT atau Luas Tambah Tanam. Berarti menambah lokasi tanam yang tadi sudah existing.
Misalnya di Sulawesi Utara ada 1 juta. Kita bantu pendampingan bagaimana bisa nambah. Tadinya lahan-lahan tidur itu bisa bertambah.
Bukan 1 juta lagi. Mungkin nambah jadi 1 juta 100, 1 juta 200. Untuk penanaman lokasi lahan pertanian.
Kemudian demikian juga ada ya Sergab Gabah. Kita kerjasama dengan Bulog. Bagaimana kita pada saat panen, kita bisa sosialisasi dengan masyarakat.
Kalau bisa, masyarakat jualnya ke Bulog, Pak. Dengan harga yang kompetitif. Jadi tidak asalnya jual berasnya, tau-taunya di bawah harga pasaran.
Biasanya kita tuh ada tengkulak-tengkulak. Tentunya dia mencari untung yang besar. Dia langsung tunggu di, ibaratnya di kobong pece, kan? Langsung dia mau beli.
Kita bersama dengan Bulog, sama-sama tuh. Langsung kita datang ke masyarakat. Mari kita beli, Pak.
Jual ke Bulog, harganya pasti kompetitif. Itu jadi salah satu juga untuk menjaga stabilitas harga.
Tribun Manado: Jadi bukan hanya di kelolannya, tapi betul-betul TNI ini terlibat sampai dengan panen. sampai dengan penjualan juga. Artinya mau minta masyarakat untuk jual lagi di sini lebih untung, dan Ini sudah dilakukan, ya, Pak?
Pak Daniel: Sudah dilakukan, setiap tahun itu kita sudah lakukan.
Ya, puji Tuhan, tahun ini sudah, untuk LTT tadi sudah 1742 hektare, Yang sudah tertanam dari luas lahan 15 ribu.
Tribun Manado: Ini kalau bicara tentang pertanian. orang tua kita juga di pertanian.
Ini kan kita buat kerja sendiri. Tanpa bantuan TNI maupun dari pihak kepolisian. Sebelum ada program-program ini.
Ini tentunya kita tahu suatu tantangan yang besar juga. Nah, bagaimana pihak Kodam ini meyakinkan masyarakat supaya mereka tertarik dengan program ini, yang menjadi senjata? untuk bujuk masyarakat bahwa program ini bagus?
Pak Daniel: Sebenarnya pemerintah, ini dari Kementerian Pertanian, itu sudah cukup banyaklah. Ibarat mempromosikan tentang pertanian ini.
Karena anak-anak sekarang, mungkin generasi jaman sekarang ini lebih tertarik mungkin pekerjaan yang di kota.
Sementara di desa, atau pertanian kita juga besar di desa, jadi kurang menarik.
Tentunya ini peran Babinsa yang turun langsung.
Sosialisasi di sekolah-sekolah, sampaikan hal yang menarik tentang pertanian. Bahwa pertanian ini adalah masa depan kita.
Kalo sampe pertanian ini kita tidak tangani dengan baik, ya lahan pertanian jadi lahan industri atau jadi ke lahan pemukiman, lambat-lambat berkurang, berkurang ya nanti torang mau makan apa.
Sementara juga harga pangan sekarang kan semakin naik, jadi kita bicara prospek ekonomi juga sebenarnya kalo terutama generasi muda mau dia terjun ke langsung di pertanian, itu justru punya prospek yang bagus.
Kalo kita sering nonton TV atau konten-konten Youtube, ya terutama di daerah Jawa sana, banyak yang pulang kampung, yang dia udah kerja di perbankan, yang sudah jadi pengusaha di kota, dia pulang kampung, justru prospeknya lebih bagus.
Karena orang bekerja menyatu dengan alam, orang bilang lebih fresh, lebih sejuk, lebih tenang, lebih nyaman, lebih tenang daripada di kota.
Tribun Manado: Jadi disosialisasi ya tentunya?
Pak Daniel: Iya disosialisasi bersama dengan PPL tentunya.
Tribun Manado: Nah untuk target ke depan dari Kodem 13 Merdeka ini seperti apa dalam hal ketahanan pangan maupun gerakan asri ini Pak?
Pak Daniel: Untuk target ke depan tentunya kita berharap kalo untuk ketahanan pangan ini akan terus meningkat ya.
Sampai status kita bisa swasembada pangan, itu target kita. Termasuk dengan yang tadi asri, kita berharap bukan hanya kita menangani sampah secara fisik, ada sampah kita kerjakan, tapi tadi mindset masyarakat sudah bisa terbentuk, ada kecintaan terhadap lingkungan kita.
Bisa terjaga dengan bersih, bagaimana masyarakat bisa buang sampah pada tempatnya, bagaimana masyarakat melihat sampah dan dia bisa mengambil sampah itu.
Kadang-kadang kita oke lah, kita bisa tertip dengan diri kita sendiri tidak buang sampah sembarangan.
Tapi kadang-kadang ada sikap apatis kita melihat sampah, ah itu kan bukan saya yang buang.
Kesadaran ini yang perlu kita keteluhkan ya untuk menjaga keindahan, mana yang harusnya tempatnya tidak seperti itu, pada tempatnya dipindahkan ke tempat yang sebenarnya seperti apa.
Itu menjaga keindahan, kebersihan, keteraturan.
Jadi kita punya harapan-harapan tentunya semuanya untuk kepentingan rakyat.
Masyarakat bisa sejahtera, masyarakat bisa ada rasa aman, merasa nyaman.
Ya tentunya juga kita tentara ini bisa juga bertugas dengan, bisa menjalankan tugas pokok di bidang pertahanan.
Kalau masyarakat belum, ya biar tadi saya bilang belum sejahtera, belum merasa nyaman, aman, sehat. Jadi kami terpanggil juga untuk bisa membantu, menyelesaikan itu.
Tribun Manado: Jadi tugas kami bertambah. Jadi bukan pertahanan-pertahanan, tapi mendukung program-program presiden dalam hal pertahan pangan. Karena ya harus ada dorongan juga dari TNI untuk bersama-sama dengan masyarakat.
Kita boleh ngobrol-ngobrol lagi di kesempatan yang lain. Silakan, kalau ada yang ingin disampaikan untuk closing statement-nya kepada masyarakat. Bagaimana mungkin ke depan sinergi masyarakat dengan TNI, TNI bersama dengan masyarakat, untuk menjaga ketahanan tentunya, ketahanan negara, maupun ketahanan pangan.
Nah ini apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat dan juga mungkin kepada pemerintah?
Pak Daniel: jadi kami Kodam 13 Perdeka tentunya akan selalu hadir di tengah masyarakat, kapanpun, dimanapun.
Kami juga siap selalu menjadi garda terdepan menjaga keutuhan wilayah negara, kesatuan Republik Indonesia, menjaga stabilitas, keamanan, kenyamanan masyarakat, menjaga tentunya bagaimana masyarakat bisa bekerja dengan baik, kemudian tadi yang sudah kita bahas, kita juga membantu bagaimana ketahanan pangan bisa terwujud di wilayah Sulawesi Utara ini, membangun wilayah yang tadi asri, aman, sehat, resik, dan indah.
TNI kuat bersama dengan rakyat, rakyat kuat karena ada kebersamaan.
Tribun Manado : Pak Daniel, terima kasih semoga sukses selalu, menjalankan tugas dengan baik ke depan dan kalau ada kesempatan bisa berbincang-bincang.
Ok Tribuners, sampai disini bincang-bincang kita, jangan lupa dibagikan terutama didengar.
TNI juga bersama dengan masyarakat dalam menjaga kedulutan pangan, tentunya ada tugas-tugas pokok juga yang terus dijalankan oleh TNI sebagai rakyat tentunya kita harus mendukung.
Mungkin itu dari saya, terima kasih. Kita ketemu di program selanjutnya.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini