TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana akhir pekan di Pasar Johar tampak lebih ramai dari biasanya.
Memasuki hari ke-11 Ramadan, para pengunjung mulai berburu kebutuhan Lebaran, mulai dari sandal hingga busana muslim terbaru.
Satu di antara yang paling banyak dicari tahun ini adalah gamis dengan model yang sedang tren di media sosial, dikenal dengan sebutan "bini orang".
Baca juga: Intip Tren Gamis Bini Orang di Pasar Wage Purwokerto, Diprediksi Hits pada Lebaran 2026
Mutmainah (23), pengunjung Pasar Johar mengaku sengaja datang ke pasar untuk mencari baju Lebaran.
Meski bekerja dan hanya memiliki waktu luang di akhir pekan, ia tetap menyempatkan diri berburu gamis incaran.
"Kebetulan sudah cari-cari refererensi baju lebaran di media sosial. Ini cari bajunya (gamis) 'bini orang'," ungkap Mutmainah ditemui Tribun Jateng di Pasar Johar Tengah, Minggu (1/3/2026).
Mutmainah mengatakan, biasa mencari baju lebaran berdasarkan tren yang sedang populer.
Selain gamis, ia juga berencana mencari sandal untuk melengkapi penampilan Hari Raya. Meski baru tiba di pasar saat diwawancarai, ia optimistis bisa menemukan model yang cocok.
"Ikut tren saja."
"Biasanya (berburu baju lebaran) juga saat-saat ini," kata perempuan yang mengaku asal Kebumen tersebut.
Pengunjung lain, Anggun (24) mengaku masih mencari-cari model baju yang cocok untuk dikenakan di Hari Raya.
Ia ke Pasar Johar untuk jalan-jalan sekaligus berencana membeli jika ada model baju yang membuatnya tertarik.
"Belum ada gambaran, ini lihat-lihat dulu model bajunya," ungkapnya.
Mutmainah mengungkapkan, meski belanja online kini semakin marak dengan berbagai promo menarik, ia tetap lebih nyaman berbelanja langsung di pasar.
Menurutnya, membeli secara daring terkadang tidak sesuai ekspektasi.
"Kalau online kadang tidak sesuai. Jadi beli di pasar saja," katanya.
Dari segi harga, ia menilai perbandingan antara toko online dan pasar tidak jauh berbeda.
"Harga di pasar hampir sama dengan online," ungkapnya.
Sementara itu, tren "bini orang" juga diakui para pedagang sebagai salah satu model paling laris sejak awal Ramadan.
Dewi (48), satu di antara penjual gamis di Pasar Johar, menyebut permintaan meningkat tajam bahkan sejak pekan pertama puasa.
"Yang paling laris ya ‘bini orang’. Dari awal puasa sudah banyak yang cari," jelasnya.
Selain "bini orang", Dewi mengatakan ada pula model lain seperti "menantu idaman".
Namun, menurutnya, pamor "ini orang" jauh lebih kuat di pasaran tahun ini.
Tren tersebut, katanya, ramai diperbincangkan di TikTok dan cepat menyebar lewat konten fesyen.
"(Ramainya) Di TikTok. Terinsipirasi dari Inara kali," kiranya.
Ia menjelaskan, model gamis "bini orang" sendiri memiliki ciri khas potongan simpel dengan detail renda di bagian bawah rok. Motif dan coraknya beragam, namun siluetnya cenderung sama, yaitu longgar, anggun, dan memberi kesan dewasa.
"Modelnya kayak gini, cuma bawahnya ada renda-rendanya," jelas Dewi sambil menunjukkan salah satu koleksi.
Dari sisi bahan, menurunya, dari ceruty dengan beberapa tingkatan kualitas, mulai dari standar hingga premium. Ada pula pilihan katun jaguar.
Untuk model bermotif, umumnya menggunakan bahan seruti dengan tambahan detail renda menyerupai brokat di bagian bawah.
Soal harga, Dewi mematok kisaran Rp225 ribu hingga Rp300 ribu per potong, tergantung jenis bahan.
"Bedanya di bahan. Seruti itu ada yang biasa, ada yang premium," jelasnya.
Menurut Dewi, segmen pasar gamis "bini orang" lebih banyak diminati perempuan usia 30 tahun ke atas.
"Lebih ke orang dewasa sampai orang tua," ujarnya. Meski begitu, lanjutnya tidak sedikit keluarga yang membeli seragam atau "couple-an" untuk dikenakan saat Hari Raya.
Memasuki hari ke-11 Ramadan, Dewi menyebut toko sudah mulai ramai. Untuk model "bini orang", sebutnya, dalam sehari ia bisa menjual lima hingga sepuluh potong, tergantung keramaian pasar.
"Sehari itu bisa sampai lima atau 10 ya, tergantung pasar ramai atau tidaknya," sebutnya.
Pedagang lain, Ratnasari menyebut model "bini orang" menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan pembeli menjelang Lebaran tahun ini.
“Model terbaru sekarang ya kayak gini, ‘bini orang’ ini,” ujarnya sambil menunjukkan gamis dengan detail renda di bagian bawah.
Menurut Ratnasari, tren "bini orang" sebenarnya sudah mulai muncul bahkan sebelum Ramadan.
Ia mengetahui kepopulerannya dari media sosial, terutama TikTok, yang ramai menampilkan model tersebut dari pusat grosir seperti Tanah Abang.
Meski sempat muncul anggapan tren viral bisa membuat pembeli ragu karena takut "kembar" dengan orang lain, Ratnasari justru melihat sebaliknya.
"Malah banyak yang cari," katanya.
Baca juga: Pelatihan Menjahit Gamis dan Digital Marketing UT Semarang Tingkatkan Ekonomi Warga Surakarta
Namun, ia mengamati segmen pembelinya cenderung berbeda. Model ini lebih diminati kalangan ibu-ibu dibanding remaja.
"Biasanya sih ibu-ibu. Kalau remaja kayaknya kurang suka, takut kembar," ucapnya.
Ratna menyebut, dalam sehari, ia rata-rata menjual dua hingga tiga potong gamis "bini orang", menyesuaikan dengan tingkat keramaian pasar. (idy)