Kisah Pemburu Berkah Ramadan di Bandung: Raup Omzet Jutaan dari Gorengan
Ravianto March 01, 2026 09:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aroma minyak panas dan adonan tepung yang digoreng menyeruak di udara.

Wangi masakan gorengan ini tercium bagi siapa pun yang berlalu lalang di pasar tumpah Kiaracondong. 

Di antara deretan pedagang takjil, Agus sibuk membolak-balik gorengan di wajan besar.

Dia dengan cekatan melayani para pembeli sambil menyiapkan adonan. 

Menurut bapak lima orang anak ini, momentum Ramadan menjadi bulan yang dinantikan oleh semua umat muslim. Bagi dia, bulan suci ini turut membawa berkah. 

"Alhamdulillah, bulan Ramadan permintaan selalu meningkat. Pendapatan juga bertambah," kata dia, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Minggu (1/3/2026). 

Baca juga: Lengkap Banget, Dari Kolak Hingga Pepes, Alun-alun Jampang Kulon Sukabumi Jadi Kiblat War Takjil

Disinggung soal pendapatan bersih, Agus menyebut hingga Rp500-Rp600 ribu setiap hari. Penghasilan tersebut, dikatakan Agus, setara dengan tiga hari berjualan di hari biasa. 

"Jadi saya setiap yang beli, ditambahin satu. Itung-itung berbagi juga," katanya. 

Agus tak ingin melewatkan berkah Ramadan dengan hanya berjualan gorengan. Dia juga menyediakan aneka macam kolak yang telah dibungkus. 

GORENGAN -  Aneka gorengan yang dijual Agus di depan Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu 1 Maret 2026.
GORENGAN - Aneka gorengan yang dijual Agus di depan Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu 1 Maret 2026. (Tribun Jabar/Nappisah)

Hanya dengan merogoh kocek Rp5 ribu, kolak ubi hingga pisang bisa disantap pembeli. 

"Ini yang buat istri. Takjil itu selain gorengan, kan cari yang manis-manis," imbuhnya. 

Di tempat lainnya, Faizin warga Cirebon sudah dua tahun berjualan gorengan.

Sebelumnya, ia sempat mengadu nasib di Cikarang dengan usaha berbeda. Namun, Ramadan tahun ini menjadi kali pertama ia mencoba peruntungan di depan Pusat Dakwah Islam (Pusdai).

“Dulu saya mangkalnya di Ampera sama di Cargo depan Geologi. Tapi tiap sore lihat depan rumah di Pusdai ramai sekali. Kok orang dari jauh-jauh ke sini, saya malah enggak ke sini?” katanya . 

Rasa penasaran itu akhirnya membawanya pindah lapak.

Sore itu, dagangannya belum sepenuhnya matang. Padahal, aneka macam gorengan yang sedang ditiriskan nampak menggunung. 

“Ini belum seberapa, sebentar lagi penuh. Ada adonan yang belum dibuat," ucapnya.

 Ia menyebut, pemburu takjil di kawasan ini memang sudah terbiasa menjadikan jajanan kaki lima sebagai menu berbuka. 

Gorengan, kolak, hingga aneka minuman manis jadi favorit.

Dalam sehari selama Ramadan, Faizin bisa menggoreng sekitar 2.000 pieces gorengan.

 Ia membawa lebih dari pieces potong sekali angkut dalam wajan besar, dan totalnya bisa menembus lebih dari seribu potong hingga menjelang magrib.

“Kalau hari biasa kan dari pagi. Sekarang minimal keluar jam satu siang. Kalau kesiangan, enggak keburu gorengnya,” ujarnya.

Meski jumlah produksi meningkat, Faizin mengaku tak banyak mengubah pola jualan. 

Harga tetap ia tarif Rp5.000 untuk empat pieces gorengan. 

"Ya, banyak yang bilang mumpung bulan puasa, ramai harga dinaikin. Enggak mau, saya yang penting mah barokah saja,” katanya.

Soal pendapatan, ia menuturkan omzet kotor bisa mendekati jutaan rupiah saat ramai, tetapi untuk bersihnya berkisar ratusan ribu rupiah per hari. 

“Alhamdulillah, yang penting dapat berapa pun kita bersyukur," katanya. 
Di lapaknya tersedia cireng, tahu, risol, tempe, ubi, bala-bala, pisang, hingga bola-bola atau yang ia sebut “lubi-lubi”. 

Semua ditata sederhana di atas gerobak, sebagian baru akan digoreng saat pembeli berdatangan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.