TRIBUNNEWS.COM - Hasil MotoGP 2026 seri Thailand menjadi definisi kejutan yang sesungguhnya karena Aprilia menunjukkan performa luar biasa impresif di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Minggu (1/3/2026).
Keberhasilan empat pembalap Aprilia, yakni Marco Bezzecchi (P1), Raul Fernandez (P2), Jorge Martin (P4), dan Ai Ogura (P5), menjadi bukti sahih bahwa pabrikan Noale tidak main-main dalam menatap musim balap 2026.
Secara tidak langsung, publik langsung menyoroti runtuhnya dominasi Ducati yang selama ini sulit dipatahkan. Singgasana tersebut seolah mulai diambil alih oleh Aprilia melalui aksi Marco Bezzecchi dan kolega.
Fenomena ini kian dipertegas dengan terhentinya rekor fantastis Ducati yang sebelumnya mencatatkan 88 penampilan podium berturut-turut.
Menanggapi situasi tersebut, bos Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengakui keunggulan lawan. Ia menuturkan adanya perbedaan perilaku motor yang signifikan antara sesi tes pramusim dan balapan Grand Prix yang sesungguhnya.
Ducati gagal menunjukkan tajinya selama akhir pekan di Thailand. Kemenangan Marc Marquez di sesi Sprint bahkan harus dibatalkan karena penalti, sementara pembalap Ducati lainnya gagal mengimbangi level kecepatan Aprilia.
"Ini akhir pekan yang sangat sulit. Sepertinya Aprilia telah berkembang pesat dan mereka sangat cepat dengan keempat pembalapnya. Jadi, angkat topi untuk mereka karena menjalani akhir pekan yang fantastis," ungkap Tardozzi melansir Crash.
Ia menambahkan bahwa ada keanehan pada motor GP26 yang terasa sangat berbeda dibanding saat pengujian, sebuah misteri yang hingga kini belum dipahami oleh tim teknis mereka.
Meski Ducati sedang dirundung tren negatif, Marquez bersaudara tetap menunjukkan ketenangan.
Marc Marquez menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk merasa cemas secara berlebihan saat ini.
Menurutnya, karakteristik ban yang berbeda di Thailand menjadi salah satu faktor penentu hasil balapan.
Baca juga: MotoGP Kena Efek Perang Iran vs AS-Israel, Jalur Berangkat dan Pulang Marc Marquez Cs Terganggu
"Tentu saja Ducati sedang bekerja keras. Kita perlu bekerja dengan baik, tetapi jangan panik. Di Thailand, rangka bannya berbeda. Mari kita lihat balapan-balapan berikutnya. Kita tidak boleh 'tidur'," ujar Marc mengutip TNT Sports.
Sependapat dengan sang kakak, Alex Marquez turut menunjukkan kepercayaan penuh pada kemampuan reaksi tim Borgo Panigale.
Ia meminta semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan prematur karena musim 2026 masih menyisakan 21 balapan.
"Terkadang kemunduran seperti ini justru bagus untuk memicu kita kembali bangkit dan membangun ulang kekuatan. Hal terbaik sekarang adalah memiliki kesabaran dan stabilitas. Daripada mencoba terlalu banyak hal baru, lebih baik memaksimalkan potensi yang sudah kita miliki," pungkas Alex sebagaimana dikutip dari Motosan.
(Tribunnews.com/Niken)