Rekam Jejak Mojtaba Khamenei Diisukan Jadi Pengganti Ali Khamenei, Kuat Dalam Berpolitik & Keagamaan
Eri Ariyanto March 02, 2026 01:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Seyyed Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, kini muncul sebagai sosok yang paling banyak diperbincangkan sebagai calon pengganti Pemimpin Tertinggi Iran.

Meski tidak memegang jabatan publik utama, pengaruhnya terasa kuat di balik layar, terutama melalui jaringan dekat dengan badan keamanan dan militer.

Sejak muda, Seyyed Mojtaba Khamenei aktif dalam militer dan pernah bertugas dalam Perang Iran-Irak, membangun pengalaman politik dan strategi yang matang.

Seyyed Mojtaba Khamenei juga menekuni pendidikan keagamaan di kota suci Qom, sehingga memiliki kredensial religius yang kuat di kalangan ulama.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengamat menilai ia semakin diperhitungkan sebagai tokoh berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan rezim.

Kekuatan Seyyed Mojtaba Khamenei terlihat dari kemampuannya menjembatani urusan politik dan keagamaan, menjaga keseimbangan antara elite militer dan para ulama senior.

Namun, ambisinya menghadapi tantangan karena tradisi Syiah dan mekanisme suksesi menuntut legitimasi lebih dari sekadar hubungan darah.

Situasi ini menjadikannya figur yang kompleks dan strategis, di mata banyak pihak sebagai pewaris potensial yang siap melanjutkan warisan ayahnya.


Inilah sosok Putra Ayatollah Ali Khamenei, Seyyed Mojtaba Khamenei yang dikabarkan telah disiapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru selepas ayahnya tiada. 

Diwartakan sebelumnya, Ali Khamenei meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel di kantornya di Teheran, Sabtu (28/2/2026). 

Sejumlah laporan media Iran, termasuk media pemerintah Fars, menyebut nama putra kedua Ayatollah Ali, yaitu Mojtaba Khamenei, sebagai kandidat kuat menduduki jabatan sakral ini. 

Adapun Ali Khamenei tewas bersana sekitar 40 komandan senior. 

Anggota keluarganya, termasuk putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, dan menantu perempuannya, juga meninggal. 

Mojtaba sudah dua tahun disiapkan jadi penerus 

Dikutip dari Bhaskar English pada Minggu (1/3/2026), persiapan untuk menjadikan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi telah dilakukan dua tahun terakhir. 

Meski demikian, pencalonan ini belum dikonfirmasi secara resmi. 

Menurut laporan media, Ayatollah Ali Khamenei mengisyaratkan Mojtaba sebagai calon penerus pada 2024, di tengah kekhawatiran atas kondisi kesehatannya. 

Belum ada pernyataan resmi yang dirilis terkait kabar tersebut. 

Laporan juga menyebutkan bahwa Majelis Pakar menggelar diskusi rahasia pada 26 September 2024 terkait isu suksesi. 

Khamenei dilaporkan meminta anggota terpilih untuk membahas persoalan tersebut secara pribadi. 

Nama Mojtaba dikatakan mendapat dukungan kuat dari kalangan ulama berpengaruh. 

Meski Mojtaba dipandang sebagai kandidat potensial, keputusan akhir tetap berada di tangan Majelis Pakar. 

Majelis Pakar merupakan lembaga yang memiliki kewenangan memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi Iran. 

Badan ini terdiri dari 88 ulama yang dipilih untuk menentukan otoritas keagamaan tertinggi negara. 

Rekam jejak politik Mojtaba Khamenei 

Nama Mojtaba Khamenei sudah dikenal luas di kalangan politik dan keagamaan Iran. 

Ia dianggap memiliki kemampuan dalam teologi Islam serta mempertahankan pengaruh di lembaga keagamaan dan politik. 

Mojtaba kali pertama menjadi sorotan internasional saat krisis pemilihan presiden 2009. 

Pemilu tersebut dimenangi petahana garis keras Mahmoud Ahmadinejad atas penantang reformis Mir Hossein Mousavi. 

Para pemimpin oposisi menuding terjadi kecurangan pemilu secara meluas sehingga memicu protes massal di berbagai wilayah Iran. 

Sejumlah pengamat dan analis meyakini, Mojtaba memainkan peran penting di balik layar dalam mengelola respons negara terhadap kerusuhan itu. 

Meskipun tidak memegang jabatan pemerintahan formal, pengaruh Mojtaba dilaporkan terus meningkat selama bertahun-tahun. 

Ia dikenal rendah diri dan jarang tampil di depan umum maupun menyampaikan pidato seperti ayahnya. 

Laporan menyebut orang-orang yang dekat dengannya menempati posisi di lembaga intelijen dan institusi negara utama. 

Kondisi tersebut memperkuat otoritas informal Mojtaba di dalam struktur kekuasaan Iran. 

Pengaruhnya disebut semakin menguat setelah Ebrahim Raisi menjabat Presiden Iran. 

Spekulasi mengenai persiapan Mojtaba untuk peran kepemimpinan yang lebih besar pun menguat pada periode tersebut. 

Namun, kematian Raisi kemudian mengubah lanskap politik dan dinamika suksesi di Iran. 

Seberapa kuat pengaruh Pemimpin Tertinggi Iran? 

Posisi Pemimpin Tertinggi, yang dikenal sebagai Rahbar, merupakan otoritas tertinggi di Iran. 

Jabatan tersebut mengendalikan lembaga-lembaga utama negara, termasuk militer dan peradilan. 

Rahbar juga menjabat sebagai Panglima Tertinggi angkatan bersenjata, serta mengambil keputusan penting dalam pemerintahan, urusan militer, masyarakat, dan kebijakan luar negeri. 

Iran menjadi salah satu dari sedikit negara yang pemimpin agamanya memegang kekuasaan politik tertinggi. 

Peran Pemimpin Tertinggi kerap disamakan dengan Paus di Vatikan, yang memegang otoritas keagamaan dan pemerintahan tertinggi. 

Sejauh ini, hanya dua tokoh yang pernah menduduki jabatan tersebut, termasuk Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat selama 37 tahun sejak 1989, meneruskan tokoh Revolusi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini. 

Keberadaan lembaga seperti Presiden, Parlemen, Dewan Penjaga, dan Majelis Pakar tidak mengurangi dominasi otoritas Pemimpin Tertinggi dalam struktur politik Iran.

(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.