Iran Berduka Ali Khamenei Meninggal, Kini 22 Tewas di Pakistan Efek Demo Konsulat Donald Trump
Nia Kurniawan March 02, 2026 03:05 AM

TRIBUNKALTENG.COM - UPDATE Iran vs Amerika. Peringatan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tak lagi berlaku pasca Ayatollah Ali Khamenei meninggal.

Alih-alih mundur, Iran justru melancarkan serangan balasan besar-besaran atas serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat keamanan tinggi pada Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Kabar Duka Iran di Perang AS-Israel, Susul Ali Khamenei Kini Ahmadinejad Tewas Senasib 4 Jenderal

Pada Minggu (1/3/2026), rudal-rudal Iran meluncur ke berbagai target di Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Gejolak aksi juga menimbulkan korban, sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 120 luka-luka di Pakistan ketika para pengunjuk rasa mencoba menyerbu Konsulat AS.

Bentrokan kekerasan antara demonstran dan pasukan keamanan di kota pelabuhan Karachi, Pakistan, dan di wilayah utara negara itu pada hari Minggu menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai lebih dari 120 lainnya ketika demonstran pro-Iran berupaya menyerbu Konsulat AS, kata pihak berwenang.

Di bagian utara negara itu, para demonstran juga menyerang kantor-kantor PBB dan pemerintah, seperti yang dikutip Tribunkalteng.com dari media Amerika Serikat newsandsentinel.com.

Kekerasan itu terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Polisi dan pejabat di sebuah rumah sakit di Karachi mengatakan bahwa setidaknya 50 orang juga terluka dalam bentrokan tersebut dan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.

Presiden Asif Ali Zardari menyampaikan “kesedihan mendalam atas kemartiran” Khamenei dan menyampaikan belasungkawa kepada Iran, menurut kantornya. Ia mengatakan: “Pakistan berdiri bersama bangsa Iran di saat duka ini dan turut merasakan kehilangan mereka.”

Summaiya Syed Tariq, seorang dokter forensik kepolisian di rumah sakit pemerintah utama kota itu, membenarkan bahwa enam jenazah dan beberapa orang yang terluka dibawa ke fasilitas tersebut. 

Namun, ia mengatakan jumlah korban tewas meningkat menjadi 10 setelah empat orang yang terluka parah meninggal dunia.

Dua belas orang tewas dan lebih dari 80 luka-luka dalam bentrokan dengan polisi di wilayah Gilgit-Baltistan utara ketika ribuan demonstran Syiah yang marah atas serangan AS dan Israel terhadap Iran menyerang kantor Kelompok Pengamat Militer PBB dan Program Pembangunan PBB (UNDP), kata pejabat polisi setempat, Asghar Ali.

Juru bicara pemerintah, Shabir Mir, mengatakan bahwa seluruh staf yang bekerja untuk organisasi-organisasi tersebut dalam keadaan aman. 

Ia mengatakan bahwa para pengunjuk rasa berulang kali bentrok dengan polisi di berbagai tempat di wilayah tersebut, merusak kantor sebuah badan amal lokal, dan membakar kantor polisi. 

Namun, ia mengatakan bahwa pihak berwenang telah mengerahkan pasukan dan mengendalikan situasi.

Kedutaan Besar AS di Pakistan menyatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa mereka memantau laporan tentang demonstrasi yang sedang berlangsung di Konsulat Jenderal AS di Karachi dan Lahore, serta seruan untuk protes tambahan di Kedutaan Besar AS di Islamabad dan Konsulat Jenderal di Peshawar.

Di Karachi, ibu kota provinsi Sindh selatan dan kota terbesar di Pakistan, pejabat polisi senior Irfan Baloch mengatakan bahwa para pengunjuk rasa sempat menyerang perimeter Konsulat AS, tetapi kemudian dibubarkan.

Ia menepis laporan yang menyebutkan bahwa sebagian gedung konsulat dibakar sebagai tidak berdasar. Namun, ia mengatakan bahwa para pengunjuk rasa membakar pos polisi terdekat dan menghancurkan jendela konsulat sebelum pasukan keamanan tiba dan mengendalikan situasi.

Para saksi mengatakan bahwa puluhan demonstran Syiah tetap berkumpul sekitar satu kilometer (setengah mil) dari konsulat, mendesak orang lain untuk bergabung dengan mereka. Mereka mengatakan salah satu demonstran mencoba membakar jendela konsulat, sebelum pasukan keamanan tiba di sana dan membubarkan para demonstran.

Rudal Iran Paksa Para Pejabat Israel Sembunyi

Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan gelombang serangan balasan besar-besaran menyasar wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS). 

Serangan yang dinamakan "Operasi True Promise 4" ini dilaporkan telah menelan korban jiwa dari pihak militer AS dan warga sipil Israel.

Komando Pusat AS (US Central Command) mengonfirmasi pada Minggu (1/3/2026) pagi bahwa tiga anggota militer Amerika tewas dan lima lainnya luka parah akibat serangan Iran yang menyasar pangkalan-pangkalan operasional AS di kawasan tersebut.

Selain Israel, IRGC mengklaim juga menargetkan fasilitas militer di Bahrain (Armada Kelima), Qatar, dan Uni Emirat Arab yang dianggap mendukung agresi terhadap Iran.

Sementara, di wilayah Israel, dampak paling mematikan terjadi di Kota Beit Shemesh, dekat Yerusalem. 

Satu rudal balistik Iran dilaporkan menghantam area pemukiman dan mengenai langsung sebuah sinagoge serta tempat perlindungan bom (bomb shelter) di bawahnya.

Layanan darurat Magen David Adom dan Kepolisian Israel mengonfirmasi sembilan orang tewas dan 28 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

Paramedis di lokasi kejadian menggambarkan situasi kacau dengan rumah-rumah yang hancur, mobil terbakar, serta puing-puing bangunan yang berserakan.

Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian di reruntuhan bangunan untuk mengantisipasi adanya korban tambahan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya dari atas atap markas besar IDF Kirya di Tel Aviv, menegaskan bahwa serangan Israel ke jantung Teheran akan terus meningkat.

Ia menyebut hari-hari ini sebagai "hari yang menyakitkan" bagi Israel, namun berjanji akan menghancurkan pemerintah berkuasa Iran secara meyakinkan.

"Kombinasi kekuatan ini memungkinkan kami melakukan apa yang telah saya dambakan selama 40 tahun—menyerang rezim teror secara tegas," ujar Netanyahu dikutip dari Times of Israel.

Namun, klaim berbeda disampaikan oleh pihak Iran.

Pihak Iran menyatakan bahwa serangan ini merupakan balasan atas agresi dua hari terakhir yang menewaskan lebih dari 200 orang di Iran, termasuk klaim tewasnya 145 anak-anak akibat serangan di sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan.

Konflik terbuka ini terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington di Jenewa yang dimediasi oleh Oman.

Meski pembicaraan pada Kamis lalu sempat menunjukkan "kemajuan signifikan", upaya diplomasi tersebut kini terancam buntu akibat intensitas tindakan militer di lapangan yang juga mulai mengganggu jalur pengiriman minyak dan pusat penerbangan regional.

 (Tribunkalteng/tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.