Ali Khamenei Baru Saja Meninggal, Keadaan Darurat di Israel Diperpanjang Hingga 12 Maret 2026
Nia Kurniawan March 02, 2026 04:50 AM

TRIBUNKALTENG.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Seyyed Ali Khamenei dan anggota keluarganya tewas. Kini Israel memperpanjang keadaan darurat hingga 12 Maret.

Dikutip Tribunkalteng.com, Senin 2 Maret 2026 dari Trend News Agency, keadaan darurat di Israel akan diperpanjang hingga 12 Maret.

Baca juga: Iran Berduka Ali Khamenei Meninggal, Kini 22 Tewas di Pakistan Efek Demo Konsulat Donald Trump

Rezim tersebut dilaporkan diberlakukan pada 28 Februari dan dapat dicabut lebih awal jika kampanye militer berakhir sebelum 12 Maret, atau diperpanjang jika pertempuran berlanjut.

Situasi itu memicu AS meningkatkan kehadirannya di wilayah dekat Iran, mengerahkan lebih dari 150 pesawat ke pangkalan di Eropa dan Timur Tengah.

Eskalasi ini terjadi setelah putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa pada 26 Februari. 

Diselenggarakan di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump, negosiasi tersebut dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk penyelesaian diplomatik. 

Namun, tidak ada kesepakatan yang tercapai, karena Teheran menolak untuk menghentikan pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklirnya, atau menerima pembatasan tanpa batas waktu pada program nuklirnya. 

Israel melancarkan serangan udara tak lama kemudian, dengan Menteri Pertahanan Israel, Katz, menekankan bahwa operasi tersebut bersifat preventif.

Akibat serangan udara militer yang dilakukan sehari sebelumnya oleh Israel dan Amerika Serikat, Pemimpin Tertinggi Iran Seyyed Ali Khamenei dan anggota keluarganya tewas.

Massa Turun ke Jalan

Kondisi sosiopolitik Iran pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) dilaporkan terbelah secara ekstrem.

Di saat media pemerintah menyiarkan narasi duka nasional, rekaman amatir dan laporan lapangan menunjukkan fenomena yang mengejutkan: gelombang perayaan warga atas berakhirnya era kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei.

Melansir laporan mendalam dari Iran International, segera setelah kabar kematian Khamenei menyebar, warga di distrik-distrik besar seperti Teheran, Isfahan, hingga Mashhad dilaporkan merayakan peristiwa tersebut secara spontan.

Di beberapa pemukiman, warga menyalakan kembang api dari atap rumah dan membunyikan klakson kendaraan dalam durasi yang lama.

Dikutip dari The New York Times, meski pasukan keamanan dikerahkan secara masif, banyak warga tetap nekat menunjukkan kegembiraan mereka.

Laporan tersebut mencatat bahwa bagi sebagian rakyat Iran—terutama generasi muda dan mereka yang terdampak penindasan dalam protes beberapa tahun terakhir—kematian Khamenei dipandang sebagai "peluang emas untuk perubahan".

"Malam ini kami tidak tidur bukan karena takut, tapi karena penuh harapan," ujar seorang aktivis di Teheran kepada The New York Times.

Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional, setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei tewas.

Dikutip dari Al Jazeera, selain masa berkabung, pemerintah Iran juga mengumumkan tujuh hari libur nasional.

Nantinya, akan ada upacara yang direncanakan di kemudian hari menyusul pengumuman sebelumnya tentang masa berkabung selama 40 hari.

Upacara-upacara ini kemungkinan akan berlangsung di tengah bombardir yang terus berlanjut di seluruh negeri. 

Laporan Penindasan dan Penjagaan Ketat

Namun, perayaan ini tidak berlangsung tanpa hambatan.

Mengutip media Ukraina, Suspilne, aparat keamanan dan milisi Basij telah mengambil posisi tempur di titik-titik strategis.

Di beberapa lokasi, dilaporkan terjadi bentrokan kecil ketika aparat berusaha menyita ponsel warga yang merekam momen perayaan.

Suspilne melaporkan bahwa di Shiraz, polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai meneriakkan slogan "Mampuslah Diktator".

Lumpuhnya Komando Militer: Daftar Petinggi yang Gugur

Ketidakpastian politik semakin diperparah dengan hilangnya hampir seluruh komando elit militer Iran dalam satu malam.

Baca juga: Iran Konfirmasi Kepala Staf dan Menteri Pertahanan Tewas dalam Serangan AS-Israel

Serangan ini dilaporkan terjadi saat para petinggi tersebut sedang mengadakan rapat darurat di markas komando dewan pertahanan, yang membuatnya menjadi pukulan paling telak dalam sejarah militer Republik Islam Iran.

Reaksi di Luar Negeri: Protes dan Bentrokan

Kematian Khamenei juga memicu reaksi keras di luar Iran.

Di Kashmir, India, ribuan Muslim Syiah turun ke jalan melakukan protes anti-AS.

Sementara itu, di Karachi, Pakistan, situasi menjadi sangat anarkis.

Mengutip laporan AFP, pengunjuk rasa mencoba menyerbu Konsulat AS dan terlibat bentrokan berdarah dengan kepolisian setempat yang mengakibatkan satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Dikutip dari sumber resmi Pemerintah Irak, Baghdad telah mengumumkan masa berkabung selama tiga hari sebagai tanda solidaritas terhadap "bangsa Iran yang sedang berduka atas agresi yang terang-terangan".

Saat ini, Dewan Transisi Iran yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Peradilan tengah berusaha menstabilkan situasi domestik.

Upaya ini dilakukan di tengah ancaman kekosongan kekuasaan yang bisa memicu perang saudara atau revolusi internal.

(Tribunnews.com/tribunkalteng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.