TRIBUN-MEDAN.COM,- Para penggemar drama Korea Selatan lagi ramai membahas kemunculan drama The Art of Sarah.
Drama The Art of Sarah yang tayang di Netflix ini jadi bahan pembicaraan karena alur ceritanya.
Beberapa sumber dan penggemar drama Korea meyakini, bahwa drama The Art of Sarah diduga terinspirasi dari kasus penipuan besar barang mewah di Korea Selatan.
Baca juga: Sinopsis Lengkap Episode 1 dan 2 Sinetron 99 Nama Cinta di RCTI Selama Ramadan
Inilah yang kemudian membuat penasaran netizen Indonesia.
Banyak pihak menyebut, bahwa serial yang dibintangi Shin Hye-sun dan Lee Jun-hyuk ini mirip dengan kasus yang pernah heboh di Korea Selatan.
Pada tahun 2006, publik di Korea Selatan pernah digemparkan dengan adanya kasus penipuan jam tangan mewah palsu yang menyeret brand besar saat itu.
Baca juga: Sinopsis Film I Am Legend, Rekayasa Genetika yang Memicu Wabah Mematikan
Nama merek yang diduga melakukan pemalsuan adalah Vincent & Co.
Seperti dilansir dari CNN, bahwa di awal kemunculannya, Vincent & Co mengklaim produknya merupakan warisan Swiss selama seabad dan memiliki klien elite, termasuk anggota keluarga kerajaan Inggris.
Mereka memproduksi jam tangan mewah, yang kemudian meledak di pasar dan banyak digunakan oleh kalangan selebriti.
Namun, setelah beberapa bulan beredar di pasar, banyak laporan yang menyebutkan, bahwa jam tangan seharga 100 juta won atau sekitar Rp1,1 miliar per unit itu bermasalah.
Baca juga: Sinopsis Film In Time, Bergenre Fiksi Ilmiah Dimana Manusia Direkayasa tak Bisa Menua
Penyelidik kemudian melakukan pengecekan, dan menemukan fakta yang mengejutkan.
Bahwa selama ini produk jam tangan Vincent & Co dirakit dan diproduksi di dalam negeri.
Semua komponen dan suku cadang yang digunakan jam tangan Vincent & Co diimpor dari Hong Kong dan China.
Untuk meyakinkan pasar bahwa jam tangan ini adalah buatan Swiss, pihak perusahaan membawa jam tangan tersebut ke Swiss lalu mengimpornya kembali ke Korea demi mendapatkan dokumen impor asli.
Baca juga: Sinopsis Film American Assassin, Aksi Balas Dendam Agen CIA Terhadap Kelompok Teroris
Kasus ini pun bikin gempar warga Korsel, lantaran di balik harganya yang mahal, produk tersebut ternyata abal-abal.
Kejadian nyata yang terjadi tahun 2006 lalu tersebut mirip dengan kisah drama The Art of Sarah.
Tak heran, banyak pihak yang kemudian mengaitkan drama The Art of Sarah dengan peristiwa Vincent & Co tersebut, walaupun serial itu menyatakan semua karakter dan kejadiannya adalah fiksi.
Baca juga: Sinopsis Film Danny The Dog, Film Aksi Terbaik Jet Li dengan Cerita Emosional Menyentuh
Namun, mindset penonton keburu teringat dengan kejadian Vincent & Co.
Karena ceritanya sangat mirip sekali.
Kisah ini dibuka dengan penemuan jasad seorang perempuan yang telah membusuk di saluran pembuangan sebuah pusat perbelanjaan mewah di Seoul.
Baca juga: Drakor Terbaru 2026 yang Tayang pada Februari, Cek Ada Apa Saja
Korban awalnya diduga sebagai Sarah Kim, sosok yang dikenal sebagai direktur regional Boudoir, sebuah merek fesyen mewah yang menyasar kalangan 0,1 persen orang terkaya.
Kasus tersebut langsung menarik perhatian publik karena melibatkan dunia elite yang selama ini tertutup dan sulit disentuh hukum.
Penyelidikan dipimpin oleh Detektif Park Mu-gyeong.
Namun sejak awal, identitas korban menyimpan banyak kejanggalan.
Baca juga: Drakor Made In Korea Season 2 Kapan Tayang? Simak Penjelasannya
Dokumen-dokumen yang ditemukan terindikasi palsu, dan tak satu pun orang di lingkaran sosialnya benar-benar mengenal Sarah secara personal.
Ia dikenal glamor di permukaan, tetapi jejak masa lalunya kabur.
Fakta ini membuat penyelidikan berkembang dari sekadar kasus pembunuhan menjadi pengungkapan identitas palsu yang terstruktur.
Sarah Kim digambarkan sebagai perempuan berdarah Korea-Amerika yang tiba-tiba muncul dan berhasil menembus lingkaran old money Seoul.
Baca juga: 9 Drakor Terbaru Oktober - Desember 2025 dengan Rating Tertinggi yang Wajib Ditonton
Ia membangun citra sebagai simbol kemewahan melalui Boudoir, brand yang diklaim eksklusif dan berkelas internasional.
Namun seiring penyelidikan berjalan, terungkap bahwa fondasi merek tersebut rapuh.
Konsep “kemewahan Swiss” yang diusung hanyalah citra buatan, didorong pesta selebritas dan manipulasi branding.
Ia juga bekerja sama dengan CEO perusahaan NOX, Jeong Yeo-jin, untuk memperluas pengaruh sosial dan bisnis, meski transaksi keuangan mereka mulai tercium mencurigakan.
Baca juga: Keunikan Head Over Heels Drama yang Mencuri Perhatian para Pecinta Drakor Indonesia
Detektif Mu-gyeong kemudian menelusuri masa lalu Sarah lebih dalam.
Ia menemukan pola pergantian identitas, aliran dana tidak wajar, serta relasi kerja yang penuh tekanan.
Salah satu nama yang mencuat adalah Kim Mi-jeong, karyawan yang dikenal ambisius dan terobsesi pada kehidupan glamor atasannya.
Kecemburuan dan hasrat untuk menggantikan posisi Sarah diduga menjadi pemicu konflik.
Alur ini sekaligus menjadi kritik terhadap ketimpangan kelas sosial dan obsesi terhadap status yang kerap terlihat dalam berbagai skandal industri fesyen global.
Baca juga: Berawal Lihat Istri Nonton Drakor, Bobby Wacanakan Makanan Khas Batak BPK Akan Dipromosikan ke Korea
Fakta mengejutkan akhirnya terungkap: jasad yang ditemukan bukanlah Sarah Kim, melainkan Kim Mi-jeong.
Keduanya terlibat perkelahian hebat yang berujung kematian Mi-jeong.
Dalam situasi kacau itu, Sarah memanfaatkan kemiripan fisik dan kekacauan identitas untuk menukar peran.
Ia menyerahkan diri dengan identitas Mi-jeong dan mengaku sebagai pembunuh “Sarah Kim”, demi melindungi reputasi Boudoir serta menutup skandal yang bisa menghancurkan jejaring elitnya.
Baca juga: Sinopsis Drakor Nine Puzzles Beserta Fakta Unik yang Mesti Diketahui Penonton
Pengungkapan ini menempatkan Detektif Park Mu-gyeong dalam dilema moral besar.
Di satu sisi, ia menemukan kebenaran tentang identitas palsu dan manipulasi sosial yang terencana.
Di sisi lain, kasus tersebut membuka tabir rapuhnya dunia kemewahan yang dibangun di atas citra dan ilusi.
Cerita ini bukan sekadar misteri kriminal, melainkan potret tajam tentang identitas, ambisi, dan harga mahal yang harus dibayar demi mempertahankan status di puncak hierarki sosial.(ray/tribun-medan.com)