TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU – Setiap Ramadan tiba, Pondok Pesantren Al Quraniyah di Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, kembali menghidupkan kebiasaan yang telah mengakar sejak lama: salat tarawih kilat yang menjadi ciri khasnya.
Tradisi ini bukan sekadar berbeda, tetapi juga konsisten dijalankan dari tahun ke tahun. Di pesantren tersebut, 20 rakaat tarawih yang biasanya diikuti puluhan jemaah, baik santri maupun warga sekitar, dapat dituntaskan hanya dalam waktu kurang lebih enam menit.
Pelaksanaan ibadah tersebut dipimpin langsung oleh Pengasuh Ponpes Al Quraniyah, KH Azun Mauzun. Rangkaian dimulai dengan salat isya berjamaah, dilanjutkan tarawih kilat, lalu diakhiri dengan salat witir tiga rakaat.
Khusus untuk salat isya dan witir, pelaksanaannya tetap berjalan sebagaimana lazimnya, tanpa tempo cepat seperti pada tarawih. Perbedaan ritme itu menjadi pembeda utama dalam rangkaian ibadah malam Ramadan di sana.
Berdasarkan pantauan Tribuncirebon.com, satu rakaat tarawih di tempat tersebut hanya memakan waktu sekitar 20 hingga 25 detik. Artinya, dua rakaat bisa diselesaikan bahkan sebelum satu menit penuh berlalu.
Jika dihitung rata-rata, dua rakaat yang diimami langsung oleh KH Azun Mauzun berlangsung sekitar 45 detik. Dengan pola itu, keseluruhan 20 rakaat dapat dirampungkan dalam waktu yang sangat singkat.
KH Azun Mauzun mengungkapkan bahwa pola tarawih kilat ini sudah menjadi agenda rutin setiap Ramadan sejak pertama kali diperkenalkan pada 2006. Sejak saat itu, tradisi tersebut terus dipertahankan.
Menurutnya, gagasan tersebut muncul dari realitas sosial di lingkungan sekitar. Saat itu, sejumlah pemuda kerap berkumpul, memainkan gitar, hingga beriringan menggunakan sepeda motor di waktu tarawih.
"Kebiasaan itu mengganggu jemaah lainnya yang tengah melaksanakan salat tarawih, dan para pemuda di sini enggan tarawih apabila salatnya tidak cepat," kata Azun Mauzun saat ditemui di Ponpes Al Quraniyah, Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Sabtu (28/2/2026) malam.
Berangkat dari situasi tersebut, pesantren mengambil langkah untuk mengadakan tarawih dengan durasi singkat agar kalangan muda tertarik datang ke masjid, terutama selama bulan Ramadan.
Keputusan itu tidak diambil sepihak. Pelaksanaan tarawih kilat menjadi hasil kesepakatan bersama antara generasi muda dan para tokoh masyarakat setempat.
Seiring waktu, respons yang muncul justru melampaui perkiraan. Bukan hanya pemuda setempat yang hadir, tetapi juga warga dari luar kampung yang sengaja datang untuk ikut merasakan pengalaman tersebut.
"Awalnya, pemuda yang salat tarawih sedikit, tetapi lama-lama semakin banyak, karena pelaksanaannya cepat, dan alhamdulillah selama bertahun-tahun juga selalu ramai," ujar Azun Mauzun.
Fenomena itu terlihat jelas di lapangan. Mayoritas jemaah tarawih kilat didominasi anak muda yang sigap mengikuti setiap gerakan imam yang berjalan cepat.
Anak-anak pun tampak bersemangat sekaligus tertib ketika mengikuti rangkaian salat tersebut. Kehadiran mereka tidak sampai mengganggu kekhusyukan jemaah lain.
Selama bertahun-tahun memimpin tarawih kilat, Azun menegaskan bahwa pelaksanaan tersebut tetap sah karena memenuhi ketentuan dan rukun salat.
"Setiap bacaan salatnya biasa menggunakan surat-surat pendek, sehingga bisa dilaksanakan secara cepat, dan sesuai syarat maupun rukun salat," kata Azun Mauzun.
Meski telah menjadi agenda rutin, tarawih kilat di Ponpes Al Quraniyah pernah dihentikan dua kali, yakni pada Ramadan 2022 dan 2025. Tahun ini, kegiatan tersebut kembali digelar.
Pada 2022, pihak pesantren mengikuti imbauan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Indramayu agar tidak menyelenggarakan tarawih kilat.
Sementara pada 2025, faktor usia KH Azun Mauzun yang tidak lagi muda serta belum adanya sosok pengganti imam menjadi alasan utama penghentian sementara tersebut.
Kala itu, meskipun tidak lagi secepat enam menit, durasi tarawih tetap tergolong singkat, sekitar 12 hingga 15 menit.
Azun mengakui bahwa pada dua periode tanpa tarawih kilat tersebut, jumlah jemaah yang hadir memang sedikit menurun dibandingkan biasanya.
"Tahun lalu, kami sempat istirahat dalam artian tidak melaksanakan salat tarawih kilat, karena kondisi kesehatan saya, dan alhamdulillah tahun ini sudah lebih sehat, sehingga dilaksanakan kembali," ujar Azun Mauzun.
Salah satu jemaah, Aqilah (24), mengungkapkan dirinya hampir setiap tahun mengikuti tarawih kilat di pesantren yang letaknya tak jauh dari rumahnya itu.
Ia menyatakan tidak merasakan keluhan fisik meskipun gerakan salat berlangsung sangat cepat.
"Alhamdulillah, enggak ada sakit-sakit atau pegal-pegal badannya, karena setiap tahun selalu salat tarawih di Ponpes Al Quraniyah, bahkan salatnya yang cepat, sehingga bisa istirahat lebih lama," kata Aqilah.
(Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi)