BANGKAPOS.COM--Nama Ali Larijani kini menjadi pusat perhatian internasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Kematian Khamenei yang telah dikonfirmasi media pemerintah Iran memicu kekosongan kepemimpinan tertinggi di Republik Islam tersebut.
Di tengah belum adanya keputusan resmi mengenai pengganti, Larijani disebut-sebut sebagai figur paling berpengaruh yang berpotensi memegang kendali kekuasaan sementara.
Sejak konflik berskala besar dengan Israel pada 2025, Larijani kembali menjabat sebagai Kepala SNSC posisi yang telah pernah ia pegang hampir dua dekade lalu dan kini memainkan peran lebih menonjol dibanding pendahulunya.
Menurut pengamat politik Ali Vaez dari International Crisis Group, Larijani adalah operator politik yang cerdik dan memahami secara mendalam seluk‑beluk sistem politik Iran, serta memiliki hubungan sangat dekat dengan Khamenei sebelum wafatnya pemimpin tertinggi itu.
Di tengah spekulasi tentang kepemimpinan masa depan Iran, belum ada pengumuman resmi tentang siapa yang akan dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Konstitusi Republik Islam Iran mengatur bahwa Majelis Ahli harus segera berkumpul untuk memilih penerus, namun prosesnya masih berlangsung dan belum diputuskan.
Meskipun demikian, Ali Larijani tetap menjadi figur yang paling sering disebut sebagai pengatur kekuasaan sementara dan tokoh penting yang memegang kendali atas keamanan serta arah kebijakan negara dalam periode paling genting ini, di tengah tekanan internasional dan konflik yang berkecamuk.
Larijani dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei dan telah lama berada di jantung sistem politik Iran.
Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), posisi strategis yang mengoordinasikan kebijakan pertahanan, negosiasi nuklir, dan arah hubungan luar negeri.
Ia juga kerap menjadi utusan penting Teheran dalam pertemuan internasional, termasuk dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta para pejabat negara Teluk yang berupaya menjadi mediator ketegangan Iran dan Barat.
Menurut analis Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, Larijani merupakan “operator politik cerdik” yang memahami seluk-beluk sistem kekuasaan Iran dan memiliki hubungan sangat dekat dengan Khamenei.
Lahir di Najaf, Irak, Larijani berasal dari keluarga religius yang memiliki kedekatan historis dengan pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Ia merupakan veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat perang Iran-Irak, pernah memimpin lembaga penyiaran negara IRIB, serta menjabat Ketua Parlemen Iran selama lebih dari satu dekade.
Meski bukan seorang ulama, latar belakang keluarga dan pengalaman panjangnya di militer, legislatif, serta keamanan nasional membuatnya dinilai memiliki legitimasi politik kuat di tengah masa krisis.
Larijani secara konsisten membela hak kedaulatan Iran dalam pengayaan uranium, namun tetap mendukung penyelesaian cepat melalui jalur negosiasi.
Ia memperingatkan, tekanan eksternal yang terus-menerus bisa memicu perubahan sikap nuklir Iran demi membela diri.
"Kami tidak bergerak menuju senjata (nuklir), tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk bergerak ke arah itu karena mereka harus membela diri," katanya kepada televisi pemerintah.
Setelah konflik dengan Israel, ia menggambarkan kekhawatiran Barat atas program nuklir Iran sebagai dalih untuk konfrontasi yang lebih luas.
Dia berulang kali menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington harus tetap terbatas pada isu nuklir dan membela pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan Iran.
"Kami menginginkan penyelesaian yang cepat untuk masalah ini," katanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Al Jazeera, merujuk pada pembicaraan dengan AS.
Larijani menilai perang terbuka antara Iran dan AS kecil kemungkinan terjadi.
Baginya, Washington akan menyadari bahwa risiko kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapat dari konflik bersenjata.
Vaez meyakini, perhitungan politik Larijani dibentuk oleh ambisi jangka panjang.
"Dia adalah pria ambisius yang mengincar jabatan yang lebih tinggi. Larijani jelas ingin menjadi presiden," kata Vaez. "Hal itu menciptakan dua insentif, pertama untuk menjaga sistem dan kedua untuk tidak membakar kartunya."
Konstitusi Iran mengatur bahwa Majelis Ahli harus berkumpul untuk memilih pemimpin tertinggi baru. Sementara proses tersebut berlangsung, muncul spekulasi bahwa kendali strategis negara berada di tangan Larijani sebagai Sekretaris SNSC.
Sejumlah laporan internasional, termasuk dari Reuters, juga menyebut kemungkinan munculnya figur garis keras dari IRGC sebagai kandidat penerus Khamenei.
Namun untuk saat ini, Larijani dinilai sebagai sosok paling sentral dalam menjaga stabilitas keamanan dan arah kebijakan Iran, di tengah tekanan internasional dan konflik regional yang masih berkecamuk.
Dengan pengalaman, jaringan politik, dan posisinya saat ini, Ali Larijani berada di garis depan panggung kekuasaan Iran dalam periode paling genting dalam sejarah modern negara tersebut.