Sejarah Hubungan Bilateral RI-Iran, Cikal Bakalnya sejak Zaman Nusantara-Persia
GH News March 02, 2026 05:10 PM
Jakarta -

Situasi geopolitik global kembali memanas menyusul serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Aksi militer tersebut memicu rangkaian serangan balasan, yang pada akhirnya berdampak pada keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengatakan Presiden Prabowo siap menjadi mediator antara AS, Israel, dan Iran. Kemlu menyatakan pada Sabtu (28/2/2026), Prabowo bersedia menuju Teheran dalam rangka sebagai mediator, jika disetujui kedua belah pihak.

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," terang Kemlu RI.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran pada dasarnya sudah dimulai sejak 1950. Iran merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki hubungan bilateral terlama dengan Indonesia.

Sejarah Hubungan Builateral Indonesia dan Iran

Hubungan diplomatik resmi antara Indonesia dan Iran dimulai pada 1950 pada tingkat Kedutaan. Hubungan ini kemudian dinaikkan tingkatnya menjadi Kedutaan Besar RI pada akhir 1960.

Dikatakan dalam arsip Kemlu RI, high level engagement dan mekanisme bilateral antara Indonesia dan Iran berjalan cukup intensif, mencakup juga saling kunjung kepala negara/pemerintahan sejak 2006.

Hubungan bilateral keduanya berlangsung dengan didukung kepentingan bersama pada bidang ekonomi, energi, dan solidaritas terhadap isu-isu global dan kawasan. Hubungan kedua negara juga terwujud melalui kolaborasi di berbagai forum internasional seperti PBB, OKI, D-8, serta BRICS.

Kunjungan tingkat tinggi yang dilakukan kedua negara dilakukan oleh setingkat presiden, wakil presiden, menteri/pejabat setingkat menteri lainnya, maupun pertemuan di sela-sela konferensi.

Adapun kerja sama yang dilakukan kedua negara mencakup bidang ekonomi dan perdagangan, pertahanan dan keamanan, kesehatan, riset dan teknologi, hingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Berasarkan data per Januari lalu, ada 329 WNI yang kini berada di Iran.

Hubungan yang Ternyata sejak Ratusan Tahun Silam

Menariknya, hubungan antara Indonesia dan Iran ternyata terjalin bahkan sejak ratusan tahun lalu, ketika masih berupa Nusantara dan Persia. Bagaimana bisa?

Kehadiran muslim asal Iran, yang disebut sebagai Po-ssu di bandar-bandar sepanjang tepiang Selat Malaka, pantai barat Sumatera, dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu hingga ke pesisir Laut China Selatan, diketahui sudah ada sejak abad 7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah.

Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab, Persia, dan Sriwijaya di Nusantara dibersamai relasi persahabatan. Dikatakan dalam arsip Antara, imbas intensitas dagang antara Nusantara dan Persia berdampak pada kebudayaan, termasuk bidang bahasa; kesusasteraan; juga agama.

Karya-karya prosa dari Persia berpengaruh ke kesusasteraan Indonesia. Contohnya Kitab Menak yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa yang kisah awalnya berasal dari Persia.

Kemudian ada juga Kitab Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Melayu. Cerita Menak dalam Hikayat Amir Hamzah biasanya dipertunjukkan dalam wujud wayang golek, wayang kulit, dan wayang gedog.

Kisah Menak juga dimuat dalam Kitab Rengganis yang digemari masyarakat Sasak di Lombok dan digemari juga di Palembang. Produk budaya lain yang berkaitan dengan Persia ada seni Tabot di Bengkulu.

Novia Aisyah
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.