TRIBUNGORONTALO.COM -- Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya kian meluas dan memakan korban besar.
Palang Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas akibat kampanye serangan udara gabungan yang menyasar berbagai wilayah di Republik Islam tersebut.
Organisasi itu juga menyebutkan sedikitnya 131 kota di Iran telah menjadi target serangan sejak perang pecah.
Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas, dengan serangan balasan Iran menjangkau negara-negara Arab di Teluk.
Di tengah eskalasi konflik, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi dilaporkan diserang drone pada Senin.
Baca juga: Iran Blok Jalur Perdagangan Minyak Dunia, Kapala-kapal Terpaksa Memutar hingga Harga Melonjak
Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan pesawat nirawak yang masuk berhasil ditembak jatuh sebelum menimbulkan kerusakan besar.
Ras Tanura, yang berada dekat Dammam, memiliki kapasitas produksi lebih dari 500 ribu barel minyak mentah per hari.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan kepulan asap hitam tebal membumbung dari lokasi serangan.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa puing-puing drone yang berhasil dicegat tetap berpotensi memicu kebakaran dan melukai warga di darat.
Sementara itu, serangan balasan Iran dan kelompok milisi pro-Iran dilaporkan menghantam sejumlah target di kawasan, termasuk kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait City.
Api dan asap terlihat membumbung dari dalam kompleks kedutaan. Kementerian Pertahanan Kuwait juga menyatakan “beberapa” pesawat tempur Amerika mengalami kecelakaan di wilayahnya, meski tidak dijelaskan penyebabnya.
Para pilot dilaporkan dalam kondisi stabil setelah dilarikan ke rumah sakit.
Serangan tersebut terjadi tak lama setelah otoritas Amerika mengeluarkan peringatan kepada warganya di Kuwait untuk berlindung.
Di tengah gempuran udara yang terus berlangsung, pejabat tinggi keamanan Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa negaranya tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, milisi pro-Iran di Irak mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap pasukan Amerika di Bandara Baghdad.
Serangan serupa juga diklaim terjadi di pangkalan militer AS di Irbil sehari sebelumnya.
Pihak Washington mengklaim telah menghancurkan sejumlah fasilitas rudal balistik Iran, markas besar angkatan lautnya, serta menenggelamkan sembilan kapal perang Iran.
Kelompok Hezbollah dari Lebanon menyatakan telah menembakkan rudal ke wilayah lawan sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan sebelumnya.
Serangan balasan pun terjadi, dengan otoritas setempat melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka di Lebanon.
Sekitar dua pertiga korban tewas berasal dari wilayah selatan Lebanon. Pemerintah Lebanon menggelar rapat darurat menyusul eskalasi tersebut.
Serangan Iran juga dilaporkan menewaskan tiga orang di Uni Emirat Arab serta masing-masing satu orang di Kuwait dan Bahrain.
Sebagian besar rudal dan drone disebut berhasil dicegat, namun puing atau proyektil yang lolos tetap menimbulkan korban jiwa dan kerusakan signifikan.
Di kawasan Yerusalem dan Beit Shemesh, sembilan orang tewas dan 28 lainnya luka-luka akibat serangan rudal yang menghantam sebuah sinagoga.
Total korban tewas di negara tersebut dilaporkan mencapai 11 orang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak seluruh pihak melindungi warga sipil dan fasilitas kesehatan di tengah eskalasi konflik.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi militer akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai. Ia juga memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan sebelum konflik berakhir.
Militer AS mengungkapkan bahwa pesawat pengebom siluman B-2 telah menjatuhkan bom seberat 2.000 pon untuk menghantam fasilitas rudal balistik Iran.
Konflik ini menjadi babak terbaru dari ketegangan panjang di kawasan, sekaligus menciptakan kekosongan kepemimpinan di Iran setelah tewasnya Khamenei yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade.
(*)