Profil Mahmoud Ahmadinejad, Presiden ke-6 Iran Tewas Diserang Israel-AS, Meninggal Bersama Pengawal
Eri Ariyanto March 02, 2026 05:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Mahmoud Ahmadinejad, Presiden ke-6 Republik Islam Iran, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat yang mengguncang Iran di tengah eskalasi konflik kawasan.

Tokoh yang memimpin Iran pada periode 2005–2013 itu disebut menjadi target serangan langsung saat berada di lokasi dengan pengawalan ketat.

Dalam insiden tersebut, Mahmoud Ahmadinejad meninggal dunia bersama sejumlah pengawal pribadi yang berada di sekelilingnya.

Serangan ini menambah daftar panjang korban dari kalangan elite Iran dalam rangkaian serangan yang semakin intens.

Semasa menjabat, Mahmoud Ahmadinejad dikenal dengan sikap keras terhadap Barat dan Israel serta kebijakan nuklir yang konfrontatif.

Namanya kerap memicu ketegangan internasional dan menjadi simbol perlawanan Iran terhadap tekanan global.

Kematian Ahmadinejad kini menjadi pukulan besar bagi lanskap politik Iran dan berpotensi memperparah konflik di Timur Tengah.

Baca juga: Langgar Peringatan Iran, Satu Kapal Tanker Minyak Ditembak di Selat Hormuz, Berakhir Tenggelam

Selain Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah tokoh besar Iran turut meninggal dunia dalam serangan Israel-Amerika Serikat yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026). 

Salah satunya adalah Presiden ke-6 Iran, Mahmoud Ahmadinejad (69)

Dia tewas setelah kediamannya dihantam rudal.

Sejak lama Israel-Amerika disebut sudah mengincar Mahmoud Ahmadinejad karena keberaniannya melawan dua negara tersebut

Nama Ahmadinejad bukan sosok asing dalam dinamika politik Timur Tengah.

Ia memimpin Iran selama dua periode, dari 2005 hingga 2013, dan dikenal luas dengan gaya kepemimpinan yang tegas sekaligus citra sederhana yang melekat kuat pada dirinya.

 Di dalam negeri, Ahmadinejad sering digambarkan sebagai pemimpin yang merakyat.

Lahir sebagai Mahmoud Saborjhian

Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Ayahnya, Ahmad Saborjhian, bekerja sebagai pandai besi. Ketika keluarganya pindah ke Teheran pada 1957, sang ayah mengganti nama keluarga mereka menjadi Ahmadinejad—nama yang kemudian dikenal luas di panggung politik Iran dan dunia.

Masa kecil dan remaja Ahmadinejad dihabiskan di Teheran. Pada 1976, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Iran University of Science and Technology (IUST), mengambil jurusan teknik sipil.

PRESIDEN IRAN - Presiden ke-6 Iran Mahmoud Ahmadinejad bersama CNBC pada 17 Juni 2021. (YouTube/CNBCtelevision)

Aktif Saat Revolusi Iran

Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad dikenal aktif berorganisasi. Ia termasuk di antara pemuda yang terlibat dalam gelombang demonstrasi saat Revolusi Iran 1978–1979, periode yang mengubah wajah politik negara tersebut secara drastis.

Ia kemudian bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, kelompok milisi bentukan Ruhollah Khomeini. Dalam perjalanan berikutnya, Ahmadinejad juga terlibat dalam Perang Irak-Iran yang berlangsung pada 1980–1988—konflik panjang yang membekas dalam sejarah modern Iran.

Selepas masa tugas militernya, pada 1986 ia kembali menempuh pendidikan di IUST dan meraih gelar doktor di bidang teknik serta perencanaan transportasi. Tiga tahun kemudian, tepatnya 1989, Ahmadinejad resmi bergabung sebagai pengajar di kampus tersebut.

Terjun ke Politik 

Ahmadinejad mulai mengabdi di pemerintahan setelah dia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada 1993, dia dipercaya menjadi penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi.

Ahmadinejad kemudian ditunjuk menjadi gubernur untuk Provinsi Ardabil, yang baru dibentuk. Dia menjabat hingga 1997 dan setelahnya kembali menjadi pengajar di IUST. 

Ahmadinejad membantu berdirinya partai Pengembang Islam Iran yang mengedepankan agenda populis dan ingin menyatukan faksi konservatif. Partai itu memenangkan pemilihan dewan kota di Teheran pada Februari 2003. 

Selanjutnya pada bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad untuk melayani sebagai wali kota. Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dipuji karena dianggap telah berhasil mengatasi masalah lalu lintas dan menekan harga.

Berkat karisma dan keterampilan berpolitiknya, Ahmadinejad dengan cepat meraih banyak dukungan. Sejumlah kebijakan yang diambilnya saat menjadi wali kota di antaranya menutup restoran cepat saji ala Barat dan menutup papan reklame dengan referensi Barat. 

Dia juga menganjurkan pemisahan lift untuk laki-laki dan perempuan, serta mengubah fungsi pusat budaya sebagai aula sembahyang selama Ramadhan.

Selain itu, dia memerintahkan para pria pegawai pemerintahan kota untuk memelihara jenggot dan mengenakan kemeja lengan panjang. 

Menjadi Presiden Iran 

Pada 2005, Ahmadinejad mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif. Dia melakukan pendekatan yang merakyat dan berjanji mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta memberantas korupsi.

Ahmadinejad juga menjadi satu-satunya kandidat presiden yang secara terang-terangan menentang peningkatan hubungan Iran dengan Amerika Serikat. Ahmadinejad menempatkan dirinya sebagai calon presiden yang sederhana dan merakyat. 

Sementara pesaingnya, mantan presiden Iran dari 1989 hingga 1997, Hashemi Rafsanjani, digambarkan sebagai politisi yang korup. Ahmadinejad akhirnya memenangkan pemilihan dengan hasil telak dan meraih 17 juta suara dari total 27 juta suara. 

Dia dilantik menjadi presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai presiden, Ahmadinejad tetap menampilkan dirinya sebagai presiden yang merakyat.

Dia ingin terus tinggal di rumahnya sendiri daripada di istana kepresidenan, hingga akhirnya baru bersedia pindah setelah dibujuk oleh para penasihat keamanan. 

Setelah menempati istana kepresidenan, dia memerintahkan mengeluarkan seluruh perabotan dan karpet mahal yang ada serta menggantinya dengan yang lebih murah.

Ahmadinejad juga menolak menggunakan kursi VIP di pesawat kepresidenan dan lebih memilih pesawat kargo. 

Dia juga menggunakan bahasa sehari-hari dalam pidato dan presentasi resminya.

Meski mendapat dukungan dari banyak pihak terutama rakyat yang menilai presiden Ahmadinejad sebagai bagian dari mereka, namun langkah-langkah perubahan itu dikritik oleh para elit politik Iran. 

Di mata internasional, Presiden Ahmadinejad dikenal atas sikap kerasnya atas hak Iran untuk mengembangkan program nuklirnya, yang berdampak pada meningkatnya ketegangan dengan AS.

Kembangkan Nuklir 

Pada pidatonya di hadapan PBB pada 2005, Ahmadinejad menyatakan keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir yang diklaimnya bertujuan damai. 

Pada April 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah memulai untuk produksi bahan bakar nuklir dalam skala industri, yang berujung pada dijatuhkannya sanksi internasional. Bulan Maret 2008, Ahmadinejad menjadi presiden pertama Iran yang mengunjungi Irak sejak terjadinya Revolusi Iran.

Hubungan Teheran di bawah kepresidenan Ahmadinejad dengan Washington menunjukkan peningkatan setelah terpilihnya Barack Obama menjadi presiden AS. 

Ahmadinejad bahkan menyampaikan ucapan selamat kepada Obama. Di bidang ekonomi, Iran mengalami peningkatan inflasi hingga 10 persen selama masa pemerintahan pertama Ahmadinejad, yang dipicu kebijakan ekonominya. Belum lagi adanya sanksi internasional yang membuat sulitnya menarik investasi asing.

Situasi ekonomi ini menjadi kritikan dan poin utama menjelang pemilihan presiden Iran di 2009. Meski dalam catatan sejarahnya belum ada presiden Iran yang gagal memenangkan masa jabatan kedua, namun sejumlah pengamat melihat kebijakan ekonomi dan gaya kepemimpinan Ahmadinejad telah membuat posisinya rentan. 

Banyak pengamat menilai Ahmadinejad akan dapat dikalahkah oleh salah satu penantangnnya, yang paling kuat adalah Mir Hossein Mousavi yang didukung kelompok moderat di Iran. 

Namun di akhir masa pemungutan suara pada 12 Juni, Ahmadinejad telah meraih kemenangan langsung pada putaran pertama dengan lebih dari 60 persen suara.

Hasil pemilu itu sempat memicu aksi protes terutama dari pendukung Mousavi yang menyuarakan adanya hal yang tidak beres dalam pemilihan. Demonstrasi digelar warga di jalan-jalan. 

Pemimpin tertinggi Iran yang awalnya mendukung hasil pemilu juga menyerukan agar dilakukan penyelidikan resmi terhadap pelaksanaan pemilihan. Meski demikian, pada 3 Agustus 2009, Ayatollah Ali Khamenei secara resmi menetapkan Ahmadinejad sebagai presiden.

Upacara pelantikan tersebut tidak dihadiri sejumlah tokoh politik oposisi, seperti mantan presiden Mohammad Khatami dan Akbar Hashemi, maupun Mir Hossein Mousavi. 

Akhir Masa Jabatan 

Pada 2011, terjadi konfrontasi antara Ahmadinejad dengan  Khamenei, yang diduga dipicu pemecatan menteri intelijen yang merupakan sekutu Khamenei. Konflik tersebut berkembang menjadi perebutan dukungan publik antara Ahmadinejad dengan Khamenei.

Pada Maret 2012, dia dipanggil Badan Legislatif Iran yang mempertanyakan kebijakan dan perselisihannya dengan pemimpin tertinggi.

Pemanggilan presiden yang menjabat oleh Majelis Iran menjadi yang pertama kali terjadi, memicu dugaan akan menurunnya dukungan politik terhadap Ahmadinejad. 

Menurunnya dukungan terhadap Ahmadinejad juga terjadi dalam pemilihan legislatif hingga akhirnya masa jabatannya usai pada Agustus 2013 dan dia digantikan oleh Hassan Rouhani.

Setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad kembali menempati rumah pribadinya di Narmak. Pada 2017, Ahmadinejad sempat dikabarkan akan kembali maju dalam pemilihan presiden Iran, namun kemudian didiskualifikasi. 

Tewas Bersama Pengawal

Media Iran melaporkan Ahmadinejad tewas dalam serangan udara gabungan Israel–AS pada Sabtu (28/2/2026) malam.

Media pro-pemerintah Iran mengklaim Ahmadinejad (69) meninggal dunia bersama para pengawalnya.

Laporan internasional yang dikutip dari media Israel menyebutkan serangan di kawasan tersebut kemungkinan terjadi pada Sabtu malam, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel.

Ahmadinejad dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menentang Israel dan negara-negara Barat selama menjabat sebagai Presiden Iran.

"Mereka tewas dalam serangan yang menargetkan kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran timur," kata laporan itu.

Laporan sebelumnya menyebutkan sebuah rudal jatuh di daerah Narmak di sebelah timur Teheran, dekat kediaman Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi tersebut.

(TribunNewsmaker.com/WartaKotalive.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.