TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabar duka datang dari Iran setelah mantan presidennya, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026) malam.
Dalam laporannya, disebutkan bahwa serangan menghantam kediaman Ahmadinejad di kawasan Narnak, timur laut Teheran.
Media yang dikenal pro-rezim itu mengklaim Ahmadinejad (69) meninggal dunia bersama para pengawalnya.
Kabar ini sontak memicu perhatian luas, mengingat sosoknya yang pernah memimpin Iran selama dua periode.
Lalu, siapakah sebenarnya Mahmoud Ahmadinejad?
Ia dikenal sebagai pemimpin yang kerap menampilkan citra merakyat di tengah dinamika politik negaranya.
Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar.
Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dalam keluarganya.
Baca juga: 58 Ribu Jemaah Asal Indonesia Tertahan di Arab Saudi, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran, Ini Nasibnya
Ayahnya, Ahmad Saborjhian, bekerja sebagai pandai besi.
Dalam perjalanan politiknya, Ahmadinejad dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menentang Israel dan negara-negara Barat.
Ia menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode, yakni dari 2005 hingga 2013.
Sebelum menduduki kursi kepresidenan, ia pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Ardabil dan Wali Kota Teheran.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya, ia diangkat oleh Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, menjadi anggota Dewan Penentu Kebijakan.
Dewan tersebut merupakan badan penasihat yang beranggotakan 48 orang dan berada di bawah Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, menjadikannya tetap berpengaruh dalam lingkaran elite politik negara tersebut.
Aktivis mahasiswa
Saat keluarganya pindah dari Aradan ke Teheran pada 1957, Ahmad mengganti nama keluarganya menjadi Ahmadinejad.
Ahmadinejad menghabiskan masa kecil dan remajanya di Teheran, kemudian melanjutkan pendidikan tingginya mempelajari teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada 1976.
Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad termasuk pemuda yang aktif berorganisasi.
Dia bahkan menjadi salah satu penggerak aksi demonstrasi selama berlangsungnya Revolusi Iran pada 1978-1979.
Ahmadinejad juga bergabung dengan kelompok milisi bentukan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Dia bahkan turut dalam Perang Irak Iran (1980-1988).
Baca juga: Donald Trump Ungkap Alasan Kenapa Keukeuh Serang Iran hingga Tewaskan Ali Khamenei, Bela Rakyat!
Dosen IUST
Setelah menyelesaikan masa tugasnya di kelompok milisi, pada 1986, Ahmadinejad melanjutkan pendidikan di IUST dan meraih gelar doktor untuk teknik dan perencanaan transportasi.
Pada 1989, dia bergabung dengan IUST dan menjadi salah satu pengajar di kampus tersebut.
Gubernur Ardabil
Ahmadinejad mulai mengabdi di pemerintahan setelah dia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, di Provinsi Azerbaijan Barat.
Pada 1993, dia dipercaya menjadi penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi.
Ahmadinejad kemudian ditunjuk menjadi gubernur untuk Provinsi Ardabil, yang baru dibentuk.
Dia menjabat hingga 1997 dan setelahnya kembali menjadi pengajar di IUST.
Wali Kota Teheran
Ahmadinejad membantu berdirinya partai Pengembang Islam Iran yang mengedepankan agenda populis dan ingin menyatukan faksi konservatif.
Partai itu memenangkan pemilihan dewan kota di Teheran pada Februari 2003.
Selanjutnya pada bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad untuk melayani sebagai wali kota.
Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dipuji karena dianggap telah berhasil mengatasi masalah lalu lintas dan menekan harga.
Berkat karisma dan keterampilan berpolitiknya, Ahmadinejad dengan cepat meraih banyak dukungan.
Menjadi Presiden Iran
Pada 2005, Ahmadinejad mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif.
Dia melakukan pendekatan yang merakyat dan berjanji untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta memberantas korupsi.
Ahmadinejad juga menjadi satu-satunya kandidat presiden yang secara terang-terangan menentang peningkatan hubungan Iran dengan Amerika Serikat.
Ahmadinejad menempatkan dirinya sebagai calon presiden yang sederhana dan merakyat.
Sementara pesaingnya, mantan presiden Iran dari 1989 hingga 1997, Hashemi Rafsanjani, digambarkan sebagai politisi yang korup.
Ahmadinejad akhirnya memenangkan pemilihan dengan hasil telak dan meraih 17 juta suara dari total 27 juta suara.
Dia dilantik menjadi presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kabar tewasnya mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan media Iran,
Mengutip Kompas.com, dari kantor erita ILNA menyebutkan, serangan tersebut menghantam kediaman Ahmadinejad di Narnak, timur laut Teheran.
Media pro-rezim itu mengeklaim Ahmadinejad (69) tewas bersama pengawal-pengawalnya.
Dikutip dari Jerusalem Post, laporan internasional menyebutkan bahwa serangan di kawasan Narnak kemungkinan terjadi pada Sabtu malam.
Sementara, media yang dekat dengan Garda Revolusi Iran melaporkan pada Sabtu bahwa tiga pengawal Ahmadinejad tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
"Mereka tewas dalam serangan yang menargetkan kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran timur," kata laporan itu.
Laporan sebelumnya menyebutkan sebuah rudal jatuh di daerah Narmak di sebelah timur Teheran, dekat kediaman Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi tersebut.
Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada hari Sabtu.
Serangan ini memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan.
Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi.
Laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota.
Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer.
Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.
Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSumsel)