Pasca Viral Orang Tua Siswa Keluhkan Harga Menu MBG, Lima Hari SMPN 2 Tarakan tak Dapat MBG
Junisah March 02, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Imbas adanya keluhan orang tua siswa SMPN 2 Tarakan yang mempermasalahkan harga menu MBG tak sesuai ekspektasi, akhirnya selama lima hari SMPN 2 Tarakan Kalimantan Utara tidak didistribusikan MBG oleh SPPG.

Hal diungkap Kepala SMPN 2 Tarakan, Abdul Rahman dalam Rapat Dengar Pendapat (RPD) di Kantor DPRD Tarakan, Senin (2/3/2026). .

Abdul Rahman mengakui, keluhan orang tua siswa ini diposting di media sosial terkait MBG Ramadan 2026 yang didistribusikan SPPG hingga viral. Di postingan tersebut adanya ketidakpuasan siswa di menu MBG, baik dari kualitas ataupun kuantitas sendiri yang tidak sesuai dengan harga.

Hingga akhirnya pihak SPPG memberikan jawaban bahwa mereka bingung dalam mengatur memproposisikan menu MBG. Kemudian juga mengingat bahan baku yang ada tidak mencukupi. 

Baca juga: Menu MBG Tidak Bervariasi dan Selalu Sama, Korwil SPPG Tarakan Sebut Telur Protein Baik Bagi Tubuh

"Itu alasannya pertama. Kemudian, permasalahan kami yang kami laporkan di hari pertama itu sudah ditutup dan disempurnakan di hari Selasa. Jadi, di hari Selasa alhamdulillah berjalan maksimal," ucap Abdul Rahman. 

Kemudian, muncul informasi penahanan atau penutupan sementara. Jadi, mulai dari hari Rabu sampai hari ini, tepatnya dalam lima hari, SMPN 2 Tarakan  sudah tidak menerima lagi.  

Selaku penerima MBG ia tidak bisa berbuat banyak. Dalam hal ini pihak sekolah juga mempertanyakan mengapa dilakukan pemberhentian. Dan berharap disegerakan kembali disalurkan.

"Terjadi permasalahan dimulai Senin lalu. Karena ada viral, itu hari Selasa masih dikirimkan dan memang diperbaiki oleh SPPG. Nah masuk Rabu kemarin ada pemutusan," ujar Abdul Rahman.

Ia mengatakan hasil pertemuan RDP tadi tidak spesifik membahas dapur tersebut namun secara umum membahas tindak lanjut ke depan agar ketikan beroperasi lagi bisa menjadi lebih baik.

Baca juga: Ditemukan Telur Hitam hingga Kurma Berulat di Menu MBG Sekolah, Ini Penjelasan Korwil SPPG Tarakan 

"Bagaimana SOP, bagaimana alur pengaduannya. Untuk alasan pemberhentian sementara karena menu tidak sesuai, ini juga jadi evaluasi untuk perbaikan," ucapnya.

Untuk dapur SPPG yang melayani SMPN 2 Tarakan ini juga diketahui melayani SMAN1 Tarakan, SDN 024 dan juga TK Handayani. Ia melanjutkan lagi dalam hal ini SPPG melalukan evaluasi dan pembenahan.

"Kepastiannya kapan, yang menentukan pengawas SPPG. Kami berharap segera normal karena MBG ini membangkitkan semangat belajar anak-anak," jelasnya.

Di SMPN 2 Tarakan sendiri dimulai Agustus 2025 untuk resminya penyaluran MBG. Sehingga menurutnya menjadi pukulan berat bagi siswa.

"Selama ini siswa makan di sekolah. Sebelum Ramadan. Kami selalu pahamkan ketika terjadi permasalahan, siswa lapor guru, dan guru lapor sekolah dan ke SPPG sehingga ditangani segera dan dilakukan penggantian," ujarnya.

Kemudian yang terjadi di Ramadan, makanana MBG dibawa pulang. Kemudian oleh orangtua siswa menemukan menu yang dinilai dimungkinkan kesalahan tak disengaja oleh pihak dapur.

PEMBAHASAN MENU MBG - Momen pertemuan bersama Korwil SPPG Tarakan dan pihak sekolah serta pihak DPRD Tarakan melalui komisi II, Selasa (2/3/2026).
PEMBAHASAN MENU MBG - Momen pertemuan bersama Korwil SPPG Tarakan dan pihak sekolah serta pihak DPRD Tarakan melalui komisi II, Selasa (2/3/2026). (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

"Kami harapkan orangtua ketika ada pernasalahan disampaikan ke sekolah dan cepat sekopag koordinasi ke SPPG untuk diganti," jelasnya.

Evaluasi hari pertama kemarin saat didistribusikan untuk Ramadan sudah dilakukab dan pihaknya membuat laporab
N ke SPPG. Namun yang tak bisa dibendung adalah karena makanan tersebut sampai di rumah dan dilihat orangtua siswa yang mungkin menilai tak sesuai ekspektasi.

"Di hari pertama itu kami sudah evaluasi dan hari kedua sudah ada perbaikan. Karena dipahami ada biaya dapur, obgkoa operasional juga," ujarnya.

Ditanya soal anggapan orangtua siswa menilai harus diviralkan dulu agar ada resposn cepat pihak terkait, menurutnya juga tidak salah. "Perlu sih sesekali. Tapi tidak serta merta semua harus diviralkan karena ada dampak ya. Sebetulnya hari itu sudah seleaai tapi karena diviralkan, sampai hari ini anak-anak lima hari tak dapat MBG," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.