Opini: Iqra- Cahaya yang Tak Terwakilkan
Dion DB Putra March 02, 2026 08:19 PM

Oleh: H. Muhammad G Arifoeddin, S.Pd, M.M
Ketua Umum MUI Kabupaten TTS Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

POS-KUPANG.COM - Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Di tengah dinamika kota yang kian cepat, sebuah spanduk di sudut jalan sering kali memberikan jeda refleksi bagi kita. 

Kalimatnya sederhana namun visioner: “Mari Budayakan Semangat Berbagi Peran.” 

Sebuah ajakan yang dilanjutkan dengan narasi pragmatis: "Biarkan kami yang ahli menangani pakaian kita, sementara kita fokus menjadi ahli di bidang yang kita cintai."

Secara spiritual, ini bukan sekadar urusan laundry atau efisiensi rumah tangga. 

Ini adalah bentuk implementasi dari perintah Allah SWT dalam manajemen kehidupan:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Baca juga: Mutiara Ramadhan - Belajar dari Sifat-sifat Tuhan

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Islam sangat menghargai spesialisasi (expertism). Kita diajarkan tentang Ta’awun (tolong-menolong) dan Wakalah (perwakilan). 

Menyerahkan urusan teknis—seperti mencuci, memasak, atau memperbaiki rumah—kepada ahlinya adalah langkah cerdas agar energi kita tidak tergerus habis pada urusan sarana, sehingga kita bisa mengalokasikan sumber daya terbaik kita untuk tujuan yang lebih utama: Penyempurnaan pengabdian kepada Allah dan perluasan manfaat bagi sesama.

Tragedi "Jasa Titip" Ilmu dan Iman

Dalam dunia modern, hampir semua hal bisa dibeli: kenyamanan, waktu, hingga bantuan fisik. 

Namun, di balik kemudahan "mendelegasikan" dunia ini, terselip sebuah jebakan yang mematikan bagi ruhani: Anggapan bahwa pertumbuhan jiwa juga bisa diwakilkan.

Bayangkan seorang raja yang memiliki ribuan pelayan. Pelayan bisa menyiapkan hidangan paling mewah, namun pelayan tidak bisa mengunyah dan menelan makanan itu agar sang raja kenyang. 

Jika pelayan yang makan, pelayanlah yang kuat, sementara raja tetap lemah dan kelaparan di atas singgasananya.

Begitulah ilmu dan hidayah. Tak ada "jasa titip" (jastip) untuk kecerdasan ruhani.

Kita mungkin mampu membeli ratusan kitab tafsir tercanggih, namun jika lembarannya tak pernah kita buka dengan mata dan hati kita sendiri, cahaya Al-Qur'an tak akan pernah menembus dinding logika kita.

Kita bisa memanggil ulama besar untuk berceramah di rumah kita, namun jika telinga kita enggan menyimak dan hati enggan merenung, keberkahan itu hanya akan menjadi "suara latar" yang lewat begitu saja.

Tinjauan Kaidah Fikih: Batasan Delegasi

Dalam ilmu Fikih, kita mengenal sebuah kaidah yang sangat fundamental terkait tanggung jawab pribadi:
الأصل في العبادات البدنية أنها لا تقبل النيابة

“Hukum asal dalam ibadah badaniyah (fisik-ruhani) adalah tidak bisa digantikan atau diwakilkan oleh orang lain.”

Kaidah ini memberikan garis tegas. Dalam urusan Muamalah (transaksi duniawi), pintu perwakilan terbuka lebar. Anda boleh mewakilkan pembelian rumah, pengelolaan bisnis, hingga urusan domestik. 

Namun, dalam urusan Ibadah Badaniyah—seperti Shalat, Puasa (bagi yang mampu), dan proses menuntut ilmu—tanggung jawab itu melekat erat pada pundak masing-masing individu.

Pahala membaca Al-Qur'an tidak akan berpindah kepada kita hanya karena kita membayar orang lain untuk membacanya sementara kita sendiri malas mempelajarinya. Cahaya ilmu adalah buah dari kesungguhan pribadi.

Nuzulul Qur’an: Mengapa Harus "Iqra"?

Saat ini kita berada di jantung Ramadhan, masa di mana semesta merayakan turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur’an). 

Perintah pertama yang membelah kegelapan Jahiliyah di Gua Hira bukanlah perintah untuk menaklukkan musuh atau membangun peradaban fisik, melainkan: Iqra! (Bacalah!).

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-Alaq: 1)

Mengapa Iqra? Karena membaca adalah proses "menelan" kebenaran. Ini adalah pesan bahwa kemuliaan adalah martabat yang harus dijemput sendiri. 

Lihatlah Sahabat Zaid bin Tsabit. Beliau tidak menjadi sekretaris wahyu yang disegani hanya dengan mengandalkan kedekatan dengan Nabi. 

Saat Rasulullah ﷺ memintanya mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, beliau tidak mencari "penerjemah sewaan". 

Beliau mempelajarinya sendiri dengan tekun hingga mahir dalam waktu singkat. Beliau sadar bahwa pengetahuan adalah kekuatan yang tidak bisa didelegasikan.

Garis Batas: Memilah Mana yang "Santai" dan Mana yang "Gas Pol"

Ramadhan adalah madrasah untuk melatih kita menjadi manajer kehidupan yang ulung. 

Kita harus tahu mana yang boleh kita wakilkan agar kita memiliki tenaga untuk urusan yang wajib kita perjuangkan sendiri.

Urusan Dunia (Boleh Didelegasikan)
Urusan Akhirat & Jiwa (Wajib Perjuangan Sendiri)

Pekerjaan Domestik: Mencuci, memasak, dan kebersihan.
Tilawah & Tadabbur: Menghubungkan hati dengan Al-Qur'an.

Urusan Teknis: Perbaikan rumah atau perawatan kendaraan.
Taubat Nasuha: Menangisi dosa dan memohon ampun di sujud malam.

Logistik: Pengiriman barang atau jasa transportasi.
Tafaqquh Fiddin: Belajar ilmu agama agar amal tidak sia-sia.

Administrasi Zakat: Menyerahkan distribusi kepada Amil.
Tazkiyatun Nafs: Melawan penyakit hati dan memperbaiki akhlak.

Pesan untuk Jiwa yang Rindu Cahaya

Jangan pernah bangga mampu membayar orang untuk urusan fisik jika di saat yang sama kita membiarkan otak dan ruhani kita "kekurangan gizi". 

Orang yang malas membaca dan enggan belajar sendiri akan menjadi tawanan bagi opini orang lain. 

Ia akan mudah terombang-ambing provokasi, mudah tertipu oleh kemasan agama yang palsu, dan gagal membedakan mana kebenaran yang hakiki serta mana kebatilan yang dipoles rapi.

Di hari-hari terakhir Ramadhan ini, mari kita tanamkan dalam diri:
Boleh saja kita "berbagi peran" dalam urusan teknis duniawi demi efisiensi. 

Namun, pastikan energi yang kita hemat itu dikonversi menjadi kekuatan untuk Iqra, untuk menelaah ayat-ayat-Nya, dan untuk bersujud dengan penuh kesadaran.

Jangan sampai ketika kita berdiri di hadapan Allah kelak, kita membawa catatan dunia yang serba beres karena "jasa orang lain", namun membawa catatan akhirat yang kosong dan otak yang tumpul karena kita terlalu malas untuk melangkah sendiri menjemput ilmu.

Mari berazam hari ini:

Mencuci boleh diwakilkan, belanja boleh dipesankan, namun menjemput cahaya Allah melalui belajar dan beribadah adalah kehormatan yang harus kita perjuangkan sendiri hingga hembusan napas terakhir.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.