TRIBUNMANADO.CO.ID - Ketua Panitia Paskah Nasional 2026 Recky H Langie tampil menjadi narasumber Tribun Podcast, Senin 2 Maret 2026.
Bincang-bincang berlangsung di Studio Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi 2, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut.
Edisi kali ini membahas terkait persiapan Panitia Paskah Nasional 2026 di Sulut.
Selain sebagai Ketua Panitia Paskah Nasional, Recky Langie juga merupakan staf khusus Gubernur Sulawesi Utara.
Tribun Podcast edisi hari ini dipandu Pemimpin Redaksi Tribun Manado Jumadi Mappanganro.
Berikut petikan wawancara dengan Recky Langie:
Tribun Manado: Bisa dijelaskan persiapan panitia terkait pelaksanaan Paskah Nasional 2026!
Recky Langie: Sebelumnya saya perluh menjelaskan lebih dulu bahwa kegiatan Paskah Nasional digagas oleh pak Hashim Djojohadikusumo.
Beliau punya inisiatif, beliau punya kepekaan sosial, tentang kegiatan-kegiatan kerohanian yang menjadi kekuatan untuk membangun kebarsamaan.
Beliau mengatakan kegiatan ini harus melibatkan semua unsur denominasi.
Denominasi di Sulut ada seratus lebih.
Kami dalam rapat perdana, sekitar 40an denominasi yang hadir.
Sampai saat ini dukungannya luar biasa.
Dan bahkan kegiatan-kegiatan kerohanian yang sifatnya berskala nasional, sudah jarang dibuat di Sulut.
Inilah kepedulian pak Hashim Djojohadikusumo, dan suatu kepercayaan yang besar diberikan kepada Sulawesi Utara.
Ini kebanggaan, tetapi saya beberapa kali mengingatkan bahwa dengan kepercayaan ini kita dituntut untuk bisa melahirkan suatu kegiatan yang berkualitas.
Saya mengajak seluruh denominasi, mari kita bersatu, kita sama-sama berpikir keras, memberi buah-buah pemikiran, sehingga bisa melahirkan suatu kegiatan yang terukur dan berkualitas.
Tribun Manado: Bagaimana cerita awalnya sehingga Sulawesi Utara ditunjuk sebagai tuan rumah?
Recky Langie: Waktu itu kami, bersama dengan ketua Sinode GMIM, janjian dengan Hashim Djojohadikusumo.
Ide (Paskah Nasional di Sulut) itu muncul dari beliau (Hashim Djojohadikusumo).
Momen itu sebenarnya kita datang untuk silahturahmi, kemudian ada momen waktu itu pak Ketua Sinode GMIM baru terpilih.
Beliau tiba-tiba muncul ide, inisiatif dari beliau. Beliau mengatakan buat di Sulut.
Kita kaget, tapi kita terima saja. Dengan satu keyakinan bahwa ini pasti jadi.
Ini direspons juga oleh ketua sinode, bersama dengan kami dan ada teman-teman pengusaha yang berkunjung.
Kita terima ini dan ini kepercayaan.
Tribun Manado: Ketika pulang seusai bertemu dengan pak Hashim Djojohadikusumo, pak ketua kemudian bertemu dengan siapa? Dan bagaimana respons masyarakat khususnya di denominasi ini?
Recky Langie: Dua hari kemudian kami balik ke Manado.
Waktu itu saya bersama-sama dengan Ketua Sinode GMIM, pak Pdt Adolf Katuuk Wenas. Saya bilang tolong sampaikan kepada denominasi karena kita belum tersusun keseluruhan komposisi kepanitiaan.
Karena memang berdasar dari arahan pak Hashim Djojohadikusumo, dalam komposisi kepanitiaan, kita mengakomodir seluruh denominasi.
Jadi ada satu momen kebersamaan kita ciptakan.
Kita buat rapat perdana, untuk menjelaskan, mari kita bersama-sama, jangan hanya mengenai komposisi siapa yang masuk panitia dan yang tidak.
Tetapi ini suatu kepercayaan, dan ini momen kebersamaan.
Rapat perdana itu sekitar tanggal 20an, saya lupa pasti.
Kita rapat perdana waktu itu difasilitasi oleh Pemerintah Kota Manado.
Hadir waktu itu, kalau tidak salah ada 30an denominasi.
Disitu kami menyampaikan mengenai kepercayaan ini, dan direspons baik oleh seluruh denominasi.
Tribun Manado: Sudah disampaikan kepada pak Gubernur waktu itu?
Recky Langie: Besoknya kita, saya bersama dengan Ketua Sinode GMIM langsung melaporkan bahwa ada kegiatan dan kami sudah mendahului merancang komposisi kepanitiaan.
Dan beliau (Gubernur Sulut) merespons dan bilang untuk terus berkoordinasi supaya kegiatan besar ini boleh terlaksana dengan baik.
Tribun Manado: Setelah terbentuk kepanitiaan ini, bagaimana langkah-langkah mempersiapkan hari H pelaksanaan itu?
Recky Langie: Saya mengatakan kepada seluruh ketua-ketua sinode, dalam denominasi Kristen di Sulut, bahwa tolong utusan yang akan masuk dalam komposisi kepanitiaan adalah orang-orang yang terukur kemampuannya.
Artinya bisa bekerja secara profesional. Dan memang benar, utusan yang mereka masukkan, terdiri dari praktisi, akademisi, profesional dan birokrat, sehingga kita langsung on.
Dua hari kemudian setelah tersusun komposisi kepanitiaan, kita langsung buat kesiapan, kita langsung kuat kerangka materi dalam rangaka kesiapan acara.
Di rapat kedua, sudah kita merancang mengenai layout.
Ini kan skala nasional, tentu akan membludak atau banyak massa, kendaraan, sehingga pemilihan lokasi kita tetap mempertimbangkan lokasi di Minahasa.
Karena kan penggagas ini orang Langowan.
Tetapi ketika kita melihat situasi, mengenai lalu lintas, dan bertumpuk kendaraan dalam ruang-ruang tertentu, sehingga bisa menghalangi aktifitas masyarakat lain.
Kita pantau dengan helikopter pada waktu itu.
Sehingga ruang yang secara pertimbangan sirkulasinya, ruang masuk, ruang keluar, dan space parkir, ini juga yang menjadi dasar kita memilih lokasi dimana paling tepat.
Faktor pertama tentu space parkir. Kedua ruang tampung dari pada kawasan itu. Makanya jatuhlah kepada Kawasan Megamas, terlebih khusus daerah Pohon Kasih.
Disana punya kemampuan parkir yang besar.
Di hari H nanti akan ada video-video tron yang akan kita aktifkan.
Ini kita putuskan bersama panitia.
Tribun Manado: Bagaimana kesiapan panitia terkait akomodasi untuk tamu-tamu yang diundang?
Recky Langie: Kawasan Megamas ini juga adalah kawasan yang begitu bagus karena dekat dengan kawasan-kawasan yang pada titik-titik tertentu ada hotel-hotel yang "diatas" daripada hotel-hotel lain, rata-rata bintang 4 keatas.
Inilah juga yang jadi pertimbangan kenapa kita memilih Kawasan Megamas.
Artinya ada fasilitas pendukung.
Tribun Manado: Pada saat acara itu, apa saja yang nanti akan dilakukan oleh panitia? Apa-apa saja yang akan ditampilkan?
Recky Langie: Sudah 95 persen kita punya desain acara. Jadi kenapa harus desan acara secara terukur, semua seksi, dan memang saya tekankan kepada seksi acara dan perlengkapan.
Karena itu adalah pendukung utama dalam event ini.
Didalamnya nanti kita mendesain ada nuansa pariwisata.
Atraksi yang akan kita buat didalamnya ada tradisi, ada budaya, dari tiga etnis, ini sebagai gambaran. Minahasa yang notabene ada GMIM, Sangihe ada GMIS, Bolmong ada GMIBM.
Jadi atraksi budaya, tapi jangan lupa juga, kita juga akan mix dengan atraksi dari para denominasi.
Seperti Paskah seperti apa sih versi dari teman-teman kita Katolik.
Seperti apa sih versi teman-teman karismatik dalam hal ini GPdI, Bethel, maupun Bethany.
Inilah yang menjadi konsep awal, sehingga kita mendesain dan merampungkan, menampung semua masukan-masukan buah pemikiran dalam mendukung acara ini.
Dan memang sudah 95 persen. Mungkin rapat 2 kali lagi. Mungkin minggu depan kita sudah bisa melakukan pra gladi dalam rangka pemantapan latihan.
Tribun Manado: Tokoh-tokoh nasional, siapa saja yang akan hadir?
Recky Langie: Tokoh nasional yang sudah terkonfirmasi yang pasti pak Hashim Djojohadikusumo, sebagai penggagas.
Kita lagi berusaha membuat suatu flayer atau ucapan secara visual yang nanti akan ditampilkan.
Kita lagi berusaha ada beberapa tokoh dunia yang nanti memberikan ucapan melalui videotron.
Kemudian Presiden pasti, Menteri Agama, atau tokoh agama seperti Paus, dan tentu pasti pak Hashim Djojohadikusumo.
Persiapan sudah hampir rampung. Seperti yang saya bilang tadi, dua kali lagi kita rapat, sudah akan kita sepakati bersama. Dan itu sudah kita akan plotkan menjadi suatu materi acara yang akan kita hadirkan.
Ini luar biasa dukungan semua unsur, termasuk dukungan para denominasi yang membuat materi acara.
Dalam materi acara itu juga ada drama-drama kolosal. Mungkin ada parodi juga.
Lalu ada juga orkestra.
Jadi di pintu masuk selatan dan utara kita taruh panggung choir, bergantian dari denominasi, dengan lagu-lagu nuansa paskah.
Pangung itu untuk pendukung acara, memeriahkan acara.
Tribun Manado: Ini nanti melibatkan banyak pertunjukan besar dan melibatkan banyak orang. Bagaimana mensinkronkan itu?
Recky Langie: Kita mempertimbangkan ruang gerak.
Kita juga harus mensetting layout menyangkut panggung utama. Dan yang menjadi pendukung-pendukung acara itu tempatnya dimana.
Contohnya dari panggung utama, di belakang, kiri dan kanan ada tenda. Itu pendukung acara.
Sistem pengamanannya juga sudah pasti VVIP. Itu sayah serahkan ke APH, karena teknis pengamanan mereka lebih professional.
Ada pemadam kebakaran, ada ambulans dan ada klinik yang akan kita buat.
Saya sudah bicara kepada Wali Kota Manado, bahwa fasilitas-fasilitas umum akan kita gunakan.
Kemudian kendaraan-kendaraan yang menjadi pendukung acara seperti pemadam kebakaran, ambulans.
Ambulans aka nada sekitar 50 di tempat.
Kita untuk memudahkan supaya tidak terlalu banyak tumpukan.
Di beberapa titik, kita taruh pos-pos minuman, kita berikan gratis.
Kita persilahkan ada tenant-tenand itu untuk buka pada hari itu.
Disini juga bukan Cuma persoalan acara ini, tapi disini efeknya juga menyangkut ekonomi.
UMKM bisa dapat rasakan dampaknya.
Artinya pendapatnya bisa meningkat.
Tribun Manado: Berapa perkiraan masa yang akan hadir?
Recky Langie: Minimum itu 50 ribu. Bisa Juga naik jadi 100 ribu.
Karena kan ini denominasi, skalanya juga nasional.
Tribun Manado: Massa pasti akan menumpuk. Apabila ada kejadian-kejadian darurat, apa yang akan dilakukan panitia?
Recky Langie: Di beberapa titik kita buat klinik darurat.
Makanya dalam komposisi kepanitian, dalam seksi kesehatan itu hamper semua kepala dinas kesehatan, dokter-dokter juga, kita kasih masuk.
Kalau tidak salah ada sebelas klinik. Dengan pertimbangan jumlah massa, sangat cukup lah.
Disamping itu juga kita perlu ada sarana umum seperti toilet umum.
Tribun Manado: Ada artis yang akan tampil juga?
Recky Langie: Kita sudah terkonfirmasi dengan Judika.
Ada juga artis-artis daerah.
Tribun Manado: Ada dukungan dana dari beberapa tokoh nasional. Siapa saja yang sudah memberikan bantuan?
Recky Langie: Pertama ada pak Hashim Djojohadikusumo, angkanya fantastis.
Kedua juga ada dari tim media, angkanya fantastis, didukung oleh pak Menteri Maruarar Sirait, memberikan donasi yang begitu besar.
Memang ada juga beberapa pejabat tinggi yang berkomunikasi dengan kami, mendukung, mungkin satu atau dua hari terealisasi.
Ini kita terbuka dalam pertanggungjawaban.
Teman-teman denominasi kami libatkan semua untuk memantau penggunaan anggaran.
Disamping itu ada teman-teman pengusaha mendukung penuh acara ini.
Cuman saya tetap bukan mau menerima semuanya, tapi tetap harus terukur juga.
Tribun Manado: Kalau hotel sudah berapa banyak yang dihubungi?
Recky Langie: Hotel diperkirakan ada seribu lebih (kamar) terkonfirmasi dari pejabat tinggi.
Tribun Manado: Sejauh ini apa saja kendala yang dihadapi oleh panitia?
Recky Langie: Puji Tuhan tidak ada. Dalam hal kesiapan kami panitia, baik materi acara, dan sekaligus juga dana.
Bagi kami ini luar biasa pertolongan Tuhan, Tuhan memberikan kemudahan-kemudahan.
Kita ditelpon terus, kalau ada kurang, kami siap.
Ini bukan pekerjaan, ini pelayanan, artinya panggilan iman kita.
Dan puji tuhan teman-teman yang terpanggil secara iman, mereka mendukung dan mensuport.
Tribun Manado: Terkait dengan persiapan ini, apakah selalu dikominikasikan dengan pak Hashim Djojohadikusumo?
Recky Langie: Kita rutin melaporkan, setiap minggu. Bahkan kalau 2-3 hari ada perkembangan yang signifikan, kami langsung laporkan ke beliau.
Tribun Manado: Sulut ditunjuk sebagai Panitia Paskah Nasional 2026. Apa maknanya bagi pak ketua?
Recky Langie: Sulut ini menurut kami sangat tepat mengadakan iven nasional Paskah.
Karena secara populasi, umat kristiani disini dengan seluruh denominasi yang ada, katakanlah dominan.
Kedua, ini kepercayaan yang luar biasa nuat masyarakat Sulawesi Utara, juga pemerintah Sulawesi Utara.
Oleh karena itu, saya kemarin beberapa kali mengajak bahwa ini kepercayaan mari kita lakukan dengan kita menunjukan kemampuan secara professional bahwa kita bisa menghadirkan acara ini dengan baik, yang tentunya didalam materi acara, sangat terukur kualitas acara yang bisa memberikan kepuasan kepada yang memberi kepercayaan ini.
Tribun Manado: Saat ini situasi global sedang memanas. Apakah pada acara nanti akan nada seruan untuk perdamaian di acara ini?
Recky Langie: Ya. Tentu ada. Jadi ini kan momen kebersamaan.
Saya tidak berlebihan mengatakan bahwa mari kita ciptakan Sulawesi Utara ini sebagai laboratorium kebersamaan.
Bahkan boleh jadi laboratorium toleransi umat beragama.
Disaat acara, kita akan menggaungkan seruan perdamaian dunia.
Akan ada satu sesi untuk kita mendoakan teman-teman yang berseteru untuk berdamai.
Tribun Manado: Terakhir. Apa harapan-harapannya untuk pelaksanaan acara ini?
Recky Langie: Harapan saya ini bukan sekadar acara seremonial. Tapi mari kita ciptakan suatu momen kebersamaan, yang dimana menghadirkan dan menggambarkan, secara konteks nasional bahkan seluru dunia, bahwa Sulawesi Utara adalah tempat yang damai.
Karena suatu daerah, saya meyakini dan mengimani bahwa dimana ada kedamaian dsitu ada berkat Tuhan akan mengalir. Tentu damailah bangsaku, sejahteralah negeriku.
(TribunManado.co.id/Ico)