Iran Akan Buat Sirene Perang di Israel Tak Berhenti Meraung, Rudal Kheybar Serang Markas Zionis
Nur Nihayati March 03, 2026 05:03 AM

Iran Akan Buat Sirine Perang di Israel Tak Berhenti Meraung, Rudal Kheybar Serang Markas Zionis

SERAMBINEWS.COM - Iran menyatakan akan terus menggempur target-target Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

Iran juga memperingatkan bahwa sirene serangan udara di wilayah Israel “tidak akan pernah berhenti berbunyi” selama operasi militer masih berlangsung.

Pernyataan tersebut disampaikan Markas Besar Pusat Angkatan Bersenjata Iran di Khatam al-Anbiya melalui juru bicaranya, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, dalam pesan video yang dirilis Senin (2/3/2026).

Ia memberikan pembaruan terkait Operasi “Janji Sejati 4” yang diklaim sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Menurut Zolfaghari, fase kesepuluh operasi tersebut mencakup peluncuran rudal Kheybar ke sejumlah target strategis di Israel, termasuk markas militer di Tel Aviv, fasilitas keamanan di Haifa, serta beberapa lokasi di al-Quds Timur.

“Kami telah memperingatkan tentang peningkatan serangan terhadap pangkalan yang diduduki musuh agresor, dan sirene tidak akan pernah berhenti berbunyi di Israel,” ujarnya.

Ia juga menyerukan agar warga Israel menjauhi pangkalan militer dan pusat keamanan, bahkan menyarankan evakuasi dari wilayah yang disebutnya sebagai “tanah pendudukan”.

Sebelumnya, sebagai bagian dari Operasi True Promise-4, pasukan Iran menargetkan Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln dengan empat rudal jelajah, menyebabkan kapal induk tersebut melarikan diri ke tenggara Samudra Hindia.

Zolfaghari juga mengatakan bahwa serangan balasan Iran telah membuat pangkalan Ali al-Salem milik Amerika Serikat di Kuwait tidak dapat beroperasi dan menghancurkan struktur angkatan laut Amerika di negara Arab tersebut.

Sementara itu, tambahnya, empat drone Iran menyerang pangkalan angkatan laut AS di pelabuhan Salman, Bahrain, dan merusak parah bagian komando dan pendukungnya.

Menurut Zolfaghari, rudal Iran menargetkan tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris di Teluk Persia dan Laut Oman dan membakar kapal-kapal tersebut.
Dua rudal balistik Iran diluncurkan ke pangkalan tempat pasukan militer AS berada di Bahrain.

Zolfaghari selanjutnya mengatakan jet Angkatan Udara Iran berhasil membombardir pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab Teluk Persia dan Wilayah Kurdistan semi-otonom Irak.

Selain itu, ia mengatakan setidaknya 560 tentara Amerika telah tewas dan terluka dalam serangan balasan Iran.

Washington dan Tel Aviv memulai serangan militer tanpa provokasi pada 28 Februari 2026. 

Sejauh ini, setidaknya 555 warga Iran telah tewas dalam serangan udara tersebut.

Iran mulai dengan cepat membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan AS di negara-negara regional.

Iran Serang Kantor PM Israel

Situasi di Timur Tengah (Timteng) semakin tegang setelah Iran mengklaim melancarkan serangan rudal hipersonik terhadap Kantor Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu pada Senin (2/3/2026). 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebutkan, serangan itu sebagai aksi mendadak menggunakan rudal balistik Kheibar Shekan.

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan, bahwa Kantor Netanyahu dan lokasi komandan Angkatan Udara Israel menjadi sasaran gelombang serangan ke-10. 

Hingga kini, Israel belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut, sementara nasib Netanyahu disebut “tidak jelas”.

Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026). 

Peristiwa tersebut memicu eskalasi besar, dengan Iran dan sekutunya meluncurkan rudal serta drone ke berbagai kota di Israel dan pangkalan militer AS di Teluk. 

Ketegangan semakin meningkat karena kedua pihak saling melancarkan ancaman dan serangan balasan.

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi menyatakan, keprihatinan mendalam atas kondisi fasilitas nuklir Iran.

Ia memperingatkan, adanya risiko pelepasan radiologis yang dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk evakuasi massal. 

Iran melalui Duta Besarnya untuk IAEA, Reza Najafi, menuduh AS dan Israel menyerang situs nuklir Natanz sehari sebelumnya. Namun, Israel belum mengonfirmasi serangan tersebut.

Konflik juga merembet ke Lebanon. Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas kematian Khamenei, memicu serangan udara Israel ke wilayah selatan Beirut. 

Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 31 korban jiwa akibat serangan tersebut. 

Di sisi lain, serangan udara Israel dan AS di Iran menewaskan ratusan orang, termasuk anak-anak di sebuah sekolah dasar di Iran selatan. 

Media Iran menyebut total korban mencapai lebih dari 115 orang.

Militer Israel mengklaim telah menghancurkan peluncur rudal, sistem pertahanan udara, serta pusat komando Iran. 

Pasukan AS turut menargetkan fasilitas rudal balistik dan markas besar IRGC, bahkan menenggelamkan kapal perang Iran. 

Di dalam negeri, Iran kini dipimpin komite sementara yang mengatur pemerintahan hingga Majelis Ahli memilih pemimpin tertinggi baru.

Konflik yang memasuki hari ketiga ini berdampak luas pada stabilitas regional. 

Jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah terganggu, memengaruhi pasokan minyak dunia. 

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.