Tak Minder Jadi Petani, Pemuda Sinjai Bukukan Omzet Rp100 Juta per Tahun
Ansar March 03, 2026 05:05 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI — Di saat banyak anak muda bercita-cita menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan besar, Burhan Sj justru mantap memilih jalan hidup sebagai petani.

Pemuda asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, ini mengaku keputusannya bukan tanpa alasan.

Selain berasal dari keluarga petani, ia juga merupakan lulusan sarjana pertanian.

Pria kelahiran 8 Juni 1994 itu adalah anak kedua dari pasangan Bahtiar dan Muluati.

Sejak kecil, Burhan tumbuh dan besar di lingkungan pertanian.

“Pertama karena saya lahir dari keluarga petani. Selain itu, orangtua juga punya lahan dan saya lulusan sarjana pertanian,” ujarnya.

Menurut Burhan, menjadi petani justru memberinya ketenangan yang tidak ia temukan di pekerjaan lain.

“Menjadi petani itu tenang. Tidak ada yang atur, merdeka, dan tetap ada penghasilan,” katanya.

Ia menilai kebebasan menjadi nilai utama dalam profesi yang digelutinya saat ini.

“Tidak ada tekanan jam kerja seperti di kantor pemerintahan atau BUMN," kata dia.

"Enaknya jadi petani itu tenang, damai rasanya, dan yang paling utama adalah kebebasan,” lanjutnya.

Saat ini, Burhan fokus membudidayakan tanaman porang.

Komoditas tersebut dinilai lebih efisien dan memiliki prospek pasar yang menjanjikan.

“Porang tidak memerlukan banyak biaya perawatan setelah ditanam,” jelasnya.

Selain biaya yang relatif ringan, proses pengolahan porang juga dinilai lebih mudah dengan harga jual yang cukup tinggi di pasaran.

“Porang lebih efisien. Setelah ditanam tidak memakan banyak biaya perawatan," kata dia.

" Selain mudah pengolahannya, harganya juga mahal,” ujarnya.

Dalam setahun, Burhan mengaku mampu menghasilkan sekitar 10 ton porang.

Dari hasil tersebut, omzet kotor yang diperoleh mendekati Rp100 juta per tahun.

“Sekitar 10 ton per tahun, tidak jauh dari Rp100 juta. Tapi itu masih kotor karena dibagi ke pekerja juga,” katanya.

Meski tidak seluruhnya menjadi pendapatan bersih, Burhan merasa cukup dengan hasil yang diperolehnya.

Baginya, ketenangan dan kebebasan jauh lebih berharga dibanding pekerjaan dengan aturan ketat.

“Kalau kerja di perusahaan harus disiplin, rapi, dan masuk tepat waktu. Kalau petani bebas, mau kerja sesukanya dan tidak akan dipecat,” tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.