Kematian Ali Khamenei Tak Cukup Buat Trump Bisa Gulingkan Rezim, Rencana Amerika Bisa Gagal Total
Samsul Arifin March 03, 2026 07:14 AM

TRIBUNJATIM.COM - Israel terus menggempur sejumlah titik strategis di Iran.

Target serangan disebut bukan hanya fasilitas nuklir, tetapi juga pusat kekuatan rezim yang berkuasa.

Meski Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan, perlawanan militer Iran tidak menunjukkan tanda mereda.

Sebaliknya, Teheran terus melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) melalui platform X melaporkan bahwa hingga 2 Maret 2026, empat personel militer AS kehilangan nyawa dalam pertempuran.

Baca juga: 3 Artis Indonesia di Timur Tengah saat Perang Iran-AS, Ada yang Terjebak Tak Bisa Pulang

Rencana Trump setelah kematian Khamenei

Amerika Serikat belum menjabarkan strategi untuk Iran, setelah serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan sebagian besar pejabat negara tersebut, termasuk Khamenei.

Anggota parlemen AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat AS, belum mengetahui rencana Presiden AS Donald Trump pascakematian pemimpin tertinggi Iran.

Sejauh ini, Presiden AS Donald Trump hanya menyerukan perubahan dalam pemerintahan Iran, yang telah memasuki periode ketidakpastian setelah kematian Khamenei dalam serangan hari Sabtu.

Strategi yang telah diuraikan Trump kepada publik sejauh ini sebagian besar bergantung pada harapan bahwa rakyat Iran bangkit dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Trump juga belum menyinggung soal rencana menerjunkan pasukan darat memasuki Iran.

Kendati demikian, Trump mengirimkan sinyal tekanan kuat kepada Teheran dengan menyatakan militer AS memiliki kemampuan menjalankan operasi militer di Iran jauh lebih lama dari proyeksi awal.

Dalam keterangannya di Gedung Putih pada Senin (2/3/2026), Trump menegaskan bahwa meskipun operasi saat ini berjalan "jauh lebih cepat" dari jadwal, Amerika Serikat tidak akan ragu untuk memperpanjang durasi kampanye militer jika diperlukan.

Trump mengungkapkan bahwa sejak awal, pemerintahannya memproyeksikan operasi militer tersebut akan memakan waktu sekitar empat hingga lima minggu.

Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut bukanlah batas akhir bagi militer AS.

"Apapun risikonya, kami akan selalu, dan sejak awal kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tapi kami memiliki kapabilitas untuk berjalan jauh lebih lama dari itu," tegas Trump dikutip CBS News.

Baca juga: Kehabisan Rudal Lawan Iran, AS Ketar-ketir, Donald Trump Tegas Akan Terus Gempur

"Kami akan melakukannya," sambungnya.

Pernyataan ini dinilai sebagai upaya strategis untuk menunjukkan kepada kepemimpinan Iran bahwa AS memiliki napas panjang dan sumber daya yang tidak terbatas dalam konflik ini.

Selain membahas durasi operasi, Trump juga menanggapi rumor yang beredar mengenai ketidakkonsistenannya dalam kebijakan luar negeri.

Ia menepis klaim dari pihak tertentu yang menyebutkan bahwa dirinya akan segera "bosan" dengan operasi militer yang sedang berlangsung.

"Saya tidak merasa bosan. Tidak ada yang membosankan dari hal ini," ujar Trump.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan komitmen pribadinya mengawal operasi di Iran hingga target strategis Amerika Serikat tercapai sepenuhnya. 

Serangan Udara Dinilai Tak Cukup

Data sejarah empat dekade terakhir menunjukkan bahwa "menghujani" sebuah negara dengan rudal dan gempuran jet tempur, tidak pernah cukup untuk menggulingkan kekuasaan. 

Tanpa adanya intervensi darat yang masif, kekuasaan Iran diprediksi akan tetap kokoh berdiri.

Michael McFaul, Profesor dari Universitas Stanford sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Rusia seperti dikutip CNBC, memberi peringatan keras.

Ia menegaskan bahwa tidak ada jaminan serangan udara AS dan Israel akan berujung pada kejatuhan rezim.

"Secara historis, kampanye serangan udara tidak pernah memicu penggulingan rezim. Saya tidak bisa memikirkan satu pun kasus yang berhasil, bahkan intervensi militer dengan pasukan darat pun sering kali gagal," ujar McFaul.

Serangan udara saat ini, menurut McFaul, hanya menyasar sistem persenjataan Iran yang mengancam AS dan sekutunya.

"Kita tidak menghancurkan instrumen militer dan senjata yang digunakan rezim untuk menekan rakyat Iran sendiri. Jadi, sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer ini bisa mewujudkan janji Presiden Trump untuk mengubah rezim," tambahnya.

Apalagi situasinya saat ini makin kacau. Eskalasi meningkat.

Proksi Iran di Yaman, Irak, hingga Lebanon, juga bergerak dan melancarkan serangan besar-besaran yang diarahkan ke Israel dan AS.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, mengatakan Iran siap mempertahankan konflik jangka panjang.

“Tidak seperti Amerika Serikat, Iran telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” kata Larijani dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Senin.

Diperkirakan penunjukan pemimpin baru Iran berjalan tanpa kendala berarti karena memang sudah dipersiapkan Khamenei sebelum kematiannya.

Catatan sejarah

Sejarah dalam empat dekade terakhir membuktikan bahwa sebuah rezim baru benar-benar tumbang ketika tentara musuh atau sekutu domestik menginjakkan kaki secara fisik di pusat kekuasaan. Berikut faktanya:

1. Irak (2003)

Kejatuhan Saddam Hussein adalah bukti nyata bahwa pasukan darat adalah kunci, (sumber: Council on Foreign Relations (CFR) - "The Iraq War: 2003-2011"). 

Pada 20 Maret 2003, pasukan koalisi tidak sekadar melakukan pengeboman, tapi mengirimkan divisi infanteri dan kavaleri menembus perbatasan Kuwait langsung menuju Baghdad.

Rezim runtuh secara simbolis pada 9 April 2003 saat tank-tank AS menguasai Lapangan Firdos.

Kehadiran fisik pasukan daratlah yang memaksa struktur pemerintahan Partai Ba'ath bubar seketika.

2. Panama (1989)

Operasi Just Cause penggulingan Jenderal Manuel Noriega dilakukan melalui operasi darat kilat. AS mengerahkan 27.000 tentara darat untuk menduduki instalasi kunci.

Noriega tidak menyerah karena bom, melainkan karena ia terkepung secara fisik oleh pasukan darat di Kedutaan Besar Vatikan (sumber: Britannica).

3. Afghanistan (2001)

Meski bantuan udara sangat dominan, penentu kemenangan adalah Pasukan Khusus AS (Green Berets) dan CIA yang bergerak di darat bersama Aliansi Utara.

Kabul dan Kandahar jatuh setelah pasukan darat berhasil mengusir milisi Taliban secara fisik dari pusat kota, (sumber: U.S. Army Center of Military History).

4. Libya (2011) 

Yang terjadi di Libya, sering dianggap sebagai kesuksesan serangan udara murni. Namun, faktanya justru memperkuat teori McFaul. 

Meski Presiden Obama menerapkan kebijakan "no boots on the ground" (tanpa kehadiran pasukan darat), rezim Muammar Gaddafi tidak jatuh hanya oleh jet tempur NATO.

Gaddafi tumbang karena adanya pasukan pemberontak (domestik), dalam hal ini NTC, yang memanfaatkan dukungan udara NATO untuk merangsek maju. 

Tanpa gerakan darat dari rakyat Libia sendiri, serangan udara NATO mungkin hanya akan berakhir pada jalan buntu. (sumber: NATO - "Operation Unified Protector Final Mission Stats".

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.