4 Tujuan Perang Trump di Iran: Lumpuhkan Kemampuan Rudal hingga Penghentian Nuklir
Bobby Wiratama March 03, 2026 09:32 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan tujuan perang di Iran.

Operasi militer yang dinamai Operation Epic Fury (Operasi Amukan Epik) ini berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Hingga kini, operasi militer tersebut masih terus terjadi dan bahkan meluas hingga Lebanon.

Dalam pidato di upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump memberikan pembaruan mengenai eskalasi militer AS di Iran.

Trump menegaskan bahwa militer AS sedang melakukan operasi tempur besar-besaran untuk mengeliminasi ancaman yang ia klaim berasal dari rezim Iran.

Ia menyebut tindakan ini sebagai langkah penting setelah Iran mengabaikan peringatan pasca operasi sebelumnya, "Operation Midnight Hammer", yang menargetkan fasilitas nuklir negara tersebut.

"Tujuan kami jelas," tegas Trump, Senin, (2/3/2025), mengutip YouTube Euronews.

"Kami sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran secara terus-menerus, setiap jam, termasuk kapasitas mereka untuk memproduksi rudal baru," lanjutnya.

Dalam pernyataan resminya, Trump merinci empat tujuan utama dari intervensi militer yang sedang berlangsung.

Pertama, menghancurkan gudang senjata dan pabrik pembuatan rudal balistik Iran yang dianggap mengancam pangkalan AS dan daratan Amerika.

Trump juga mengklaim AS telah menenggelamkan sedikitnya 10 kapal perang Iran ke dasar laut.

Baca juga: Amerika Waspada, Pria Berpakaian Iran Tembaki Warga AS di Bar Texas, 2 Orang Tewas

Lalu, AS, kata Trump, bersikeras untuk menghentikan program nuklir Iran selamanya.

Ia memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Trump kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Obama (JCPOA) yang ia sebut sebagai "dokumen berbahaya".

Terakhir, kata Trump, menghentikan kemampuan Iran untuk mendanai dan mengarahkan kelompok proksi di luar perbatasan mereka.

Trump mengaitkan operasi militer ini dengan dendam sejarah selama 47 tahun, di mana ia menuduh rezim Iran bertanggung jawab atas kematian dan luka-luka yang dialami tentara Amerika melalui bom pinggir jalan (IED).

Ia secara spesifik menyebut Jenderal Qasem Soleimani — yang tewas dalam serangan udara AS pada masa jabatan pertama Trump — sebagai "bapak bom pinggir jalan".

"Ini adalah kesempatan terbaik terakhir kita untuk menyerang dan melenyapkan ancaman yang tidak dapat ditoleransi dari rezim yang jahat ini," ujar Trump.

Terkait durasi perang, Trump menyatakan bahwa meskipun awalnya diproyeksikan memakan waktu empat hingga lima minggu, militer AS siap bertahan lebih lama jika diperlukan.

Ia menepis anggapan media bahwa dirinya akan "bosan" dengan konflik ini.

"Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini," katanya.

Trump menambahkan bahwa kepemimpinan militer Iran telah berhasil dilumpuhkan jauh lebih cepat dari jadwal semula.

Baca juga: Ledakan di Langit Doha Qatar, UEA Hadapi Serangan Rudal dari Iran

Ancaman Baru Trump ke Iran

Trump kembali memberikan ancaman terbarunya kepada Iran.

Dalam wawancaranya dengan CNN pada Senin (2/3/2026), Trump menyebut bahwa "gelombang besar" serangan militer AS masih akan datang.

"Kami sedang menghancurkan mereka (Iran). Segalanya berjalan sangat baik dan sangat kuat."

"Ingat, kita memiliki militer terhebat di dunia dan sekarang kita tengah mengerahkan kekuatan itu," ujar Trump dengan nada optimistis.

Meski situasi di Timur Tengah kian memanas, Trump mengklaim bahwa operasi militer ini berjalan melampaui target waktu yang ditetapkan.

Namun, sang Presiden juga mengungkapkan keterkejutannya atas reaksi Iran yang melancarkan serangan balasan ke beberapa negara Arab di kawasan tersebut, termasuk Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Menurutnya, tindakan Iran tersebut justru memicu kemarahan negara-negara tetangganya yang kini ikut terlibat aktif dalam konflik.

Salah satu poin krusial yang disampaikan Trump adalah dampak serangan AS terhadap struktur kekuasaan di Iran.

Ia mengklaim setidaknya 49 pejabat tinggi Iran tewas dalam gelombang serangan awal.

"Kami telah melumpuhkan 49 pemimpin mereka. Saat ini, mereka sendiri bingung siapa yang memimpin negara."

Baca juga: Jumlah Tentara AS Tewas Bertambah dalam Konflik Iran, Sebelumnya Sempat Dinyatakan Hilang

"Situasinya kacau, sudah seperti antrean orang mencari kerja," kata Trump merujuk pada kekosongan kekuasaan di Teheran.

Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Washington mendukung rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negara mereka dari rezim saat ini.

Meski demikian, ia mengeluarkan peringatan keamanan yang serius bagi warga sipil.

"Kami ingin semua orang tetap berada di dalam rumah. Saat ini tidak aman di luar sana, dan situasinya akan menjadi jauh lebih berbahaya dalam waktu dekat," pungkasnya.

Pernyataan ini semakin mempertegas posisi keras pemerintahan Trump jilid kedua dalam menghadapi isu nuklir dan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah, setelah sebelumnya ia berulang kali mengkritik kegagalan diplomasi di masa lalu.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.