TRIBUNPALU.COM - PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menegaskan komitmennya untuk menjadikan industri tambang sebagai solusi nyata bagi ekonomi nasional.
Pesan tersebut disampaikan manajemen PT Vale dalam acara Breakfasting Discussion bersama media yang digelar hari ini, Senin (2/3/2026).
Head of External Relations PT Vale, Endra Kusuma, menyebut tantangan harga Nikel global saat ini sebagai momentum memperkuat fondasi industri.
Meski harga Nikel dunia mengalami tekanan sepanjang 2025, PT Vale tetap menunjukkan kinerja operasional yang stabil.
Hingga November 2025, produksi Nikel matte perusahaan mencapai 66.848 ton, atau tumbuh 3 persen secara tahunan.
Total pendapatan perusahaan tercatat menyentuh angka US$902 juta di tengah fluktuasi pasar komoditas global.
Baca juga: KPK OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Pernah Viral karena Komentar Mampus Koe ke Warganet
Endra menekankan bahwa ketahanan industri tidak hanya dibangun saat harga tinggi, melainkan melalui disiplin operasional yang konsisten.
“Ketahanan industri tidak dibangun dalam satu musim harga tinggi. Ini adalah hasil konsistensi investasi, disiplin operasional, dan komitmen jangka panjang khususnya yang berdampak untuk masyarakat, lingkungan dan dunia,” ujar Endra.
Komitmen ini diwujudkan melalui Indonesia Growth Project (IGP) yang kini menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan.
Di Pomalaa, proyek senilai US$4,5 miliar telah mencapai progres konstruksi lebih dari 65 persen hingga awal tahun ini.
Penjualan perdana bijih Nikel di Pomalaa pada akhir Februari 2026 menjadi penanda transisi menuju fase operasional yang matang.
Baca juga: PT Vale Mulai Jual Perdana Bijih Nikel dari Proyek IGP Pomalaa
Proyek ini memiliki kapasitas stockpile hingga 4 juta Mwmt dengan target produksi awal 300.000 ton limonit per bulan.
Sementara itu, proyek di Morowali dengan nilai investasi US$2 miliar telah mencatatkan progres konstruksi hampir 99 persen.
Proyek Morowali juga telah membukukan penjualan awal sebesar 2,2 juta ton bijih nikel pada awal tahun 2026.
Di Sorowako, pengembangan limonit senilai US$2,2 miliar terus berjalan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Total investasi terintegrasi PT Vale yang mendekati US$9 miliar ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.
Di sisi lingkungan, PT Vale membuktikan bahwa keberlanjutan adalah prasyarat mutlak, bukan sekadar pilihan tambahan.
Hingga akhir 2025, perusahaan telah mereklamasi lebih dari 50 persen area bukaan tambang atau sekitar 3.863 hektare.
Operasional di Sorowako didukung tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan total kapasitas bersih mencapai 365 MW.
Head of Corporate Communication PT Vale, Vanda Kusumaningrum, menegaskan bahwa isu lingkungan dijawab dengan transparansi dan data.
“Isu lingkungan tidak boleh dijawab dengan defensif. Ia harus dijawab dengan data, dengan tindakan, dan dengan transparansi,” ujar Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum.
Hal ini tercermin dari skor ESG Risk Rating sebesar 23,7, yang merupakan risiko terendah di sektor pertambangan Indonesia.
Dari sisi sosial, lebih dari 99 persen tenaga kerja PT Vale merupakan warga negara Indonesia yang melibatkan ribuan pekerja lokal.
Perusahaan juga aktif menjalankan program pemberdayaan, mulai dari pertanian organik hingga pembangunan nursery bibit pohon.
PT Vale berkomitmen terus menciptakan nilai tambah domestik yang seimbang antara ekonomi, kelestarian lingkungan, dan masyarakat.(*)
Update informasi lainnya di Facebook, Instagram, Tiktok dan WA Channel